MAKASSAR, BKM–Politisi Partai Nasdem dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPRD Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, dalam waktu dekat akan memanggil Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulsel untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP).
“Nanti kita akan RDP-kan,”tegas Cicu-panggilan akrab Andi Rachmatika Dewi setelah mendengar langsung keluhan terkait keluhan para atlet peraih medali di ajang PON XXI 2024 Aceh–Sumatera Utara (Sumut) yang hingga kini belum menerima bonus dari Pemerintah Provinsi, Kamis (19/6).
Menurtu Cicu yang juga Ketua DPD Partai Nasdem Makassar itu dirinya telah mendengar langsung keluhan dari sejumlah atlet.
“Saat ini, mereka sementara menyusun dan memperbaiki surat permohonan resmi ke DPRD Sulsel,” ujarnya.
Sudah sembilan bulan berlalu sejak pesta olahraga terbesar tingkat nasional itu resmi berakhir, namun para atlet peraih medali masih belum menerima haknya.
Kondisi ini menuai kekecewaan dan sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk para atlet di Sulsel.
Cicu-panggilan akrab Andi Rachmatika Dewi menegaskan, DPRD Sulsel siap mengawal penuh aspirasi para atlet dan tidak akan tinggal diam atas keterlambatan pembayaran bonus tersebut.
Cicu juga meminta para atlet dan perwakilan cabang olahraga segera melengkapi data dan dokumen pendukung untuk mempercepat proses pemanggilan pihak terkait. “Kami telah minta data lengkapnya segera dikirim ke DPRD Sulsel. Nanti akan kami disposisi ke Komisi E untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.
Sebelumnya, Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Sulsel mendesak Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan DPRD Sulsel untuk segera bertindak.
Dalam ajang PON tersebut, atlet-atlet tinju binaan Pertina Sulsel berhasil menyumbang 1 medali emas dan 5 medali perunggu bagi kontingen Sulsel. Mereka juga meminta agar kedua pihak mengambil tanggung jawab atas keterlambatan pencairan bonus atlet.
Pembina Pengprov Pertina Sulsel, Andi Januar Jaury Dharwis, mengemukakan bila persoalan ini tidak bisa dibiarkan terus berlarut. Sebab, menyangkut penghargaan terhadap perjuangan atlet dan kredibilitas Pemprov Sulsel dalam menepati komitmennya.
Bonus bukan sekadar insentif, melainkan bentuk penghargaan dan komitmen moral negara terhadap perjuangan atlet yang telah mengharumkan nama daerah.
“Kita tidak sedang membicarakan soal angka. Kita sedang membicarakan kehormatan, komitmen, dan harga diri daerah,” kata Andi Januar, Kamis (19/6).
“Jika pemerintah abai membayar bonus atlet, maka ini bukan hanya bentuk pengabaian administratif, tapi juga kegagalan moral,”ucapnya.
Gubernur Andi Sudirman dan DPRD Sulsel tidak bisa lagi berdalih soal teknis anggaran. Apalagi setelah sembilan bulan berlalu sejak PON berakhir, padahal janji sudah disampaikan pejabat pemerintah sejak tahun lalu.
Januar yang juga Ketua Bappilu Demokrat Sulsel itu menegaskan bahwa bonus atlet bukan pemberian suka rela pemerintah, melainkan hak yang dijamin undang-undang. Ia mengutip Pasal 60 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022.
Isi pasal tersebut tentang Keolahragaan menyebutkan Pemerintah Daerah memberikan penghargaan kepada atlet, pelatih, dan tenaga keolahragaan yang berprestasi di tingkat daerah, nasional, dan internasional.
“Jangan sampai kita membuat atlet merasa bersalah karena menuntut haknya. Mereka bukan meminta-minta. Ini sudah ada dasar hukumnya. Pemerintah dan DPRD harus paham ini,”ujarnya.
Tak hanya pemerintah, DPRD Sulsel juga disorot Januar. Menurutnya, sebagai lembaga yang memiliki fungsi anggaran, DPRD wajib mengawal agar hak-hak atlet tidak terabaikan.
“Kalau perlu DPRD bentuk Panja khusus untuk menelusuri kenapa bonus tidak dianggarkan. Jangan biarkan persoalan ini tenggelam di tengah kepentingan lain. Atlet berjuang demi nama daerah, masa mereka harus jadi korban kelalaian birokrasi?” cetusnya.
Andi Januar juga mengungkapkan kekhawatirannya atas dampak jangka panjang jika bonus tak kunjung dibayarkan. Ia menyebutkan, banyak atlet mulai kehilangan motivasi dan kepercayaan terhadap pemerintah daerah.
“Saya tahu sendiri, ada atlet yang tadinya mau bantu orang tuanya naik haji, ada yang ingin bangun rumah, buka usaha. Tapi semua itu batal karena bonus tak kunjung ada. Ini bukan cuma soal uang. Ini soal kepercayaan dan masa depan,”tuturnya. (jun)
