Site icon Berita Kota Makassar

RKBB Hadirkan Museum Virtual Reality dari Bosowasi

DI tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, sekelompok anak muda Bugis justru melangkah ke masa depan sambil menoleh ke belakang. Mereka menjaga, merawat, sekaligus melestarikan budaya mereka dengan cara yang sangat kekinian, yakni memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR).

ADALAH Rumah Kreasi Budaya Bangsa (RKBB) Saoraja Bone, organisasi budaya yang lahir dari semangat pelestarian nilai-nilai budaya lokal di Kabupaten Bone sejak 2017. Bermula dari proyek pembuatan film dokumenter mengenai Bone tempo dulu, RKBBSB kini menjelma menjadi simpul budaya yang aktif dan inovatif.

Pada tahun 2025 ini, RKBB resmi membuka cabangnya di Makassar. Tidak sekadar hadir, mereka langsung memperkenalkan inovasi teknologi kebudayaan: museum virtual budaya Bugis pertama di Sulawesi Selatan yang dapat diakses melalui VR headset.

“Kami sadar, generasi muda saat ini lebih tertarik pada hal-hal yang visual dan interaktif. Karena itu, kami membawa museum ke dunia virtual agar budaya bisa lebih mudah dipahami dan dicintai oleh generasi sekarang,” ungkap Malik, Ketua Dewan Pertimbangan RKBB, yang hadir langsung dari Bone ke Makassar untuk menjadi tamu dalam siniar kanal BKM News.
Museum virtual ini diberi nama Wanua Museum, yang menyajikan rekaman budaya dalam bentuk rumah adat, pakaian tradisional (sandang), makanan khas (pangan), dan arsitektur rumah tradisional (papan) dari lima kabupaten Bugis, masing-masing Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, dan Sidrap atau Bosowasi.

Menariknya, semua konten dibuat oleh anak-anak muda RKBB sendiri. Mereka turun langsung ke lapangan selama berbulan-bulan untuk riset budaya, berkolaborasi dengan tokoh adat dan sejarawan lokal. Visualisasi 3D dibuat secara detail, lengkap dengan voice over dari anak-anak dan pemuda setempat yang memberikan penjelasan tentang benda atau budaya yang ditampilkan.

“Yang menarik, pengisi suara anak kecil kami ambil dari anak-anak lokal di sekitar kawasan Jalan Menurungnge,” cerita Rifki, koordinator RKBB cabang Makassar yang juga mahasiswa Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Dengan sentuhan teknologi ini, pengunjung bisa menjelajahi rumah adat secara virtual, membuka lemari berisi pakaian tradisional, mendekati meja makan yang tersaji makanan khas, hingga mendengarkan penjelasan sejarah secara audio.

Museum virtual ini tak sekadar alat edukasi. VR juga menjadi jembatan antara budaya dan generasi muda. Hal ini terbukti saat perangkat museum virtual ini dibawa ke berbagai kegiatan publik seperti car free day (CFD), acara kampus di Unhas serta UIN Alauddin Makassar.

Respons publik sangat positif. Mulai dari anak-anak, mahasiswa, akademisi, bahkan influencer budaya turut mencoba VR ini dan membagikannya di media sosial. “Bahkan ibu-ibu pun ikut mencoba. Mereka awalnya bingung, tapi senang setelah bisa ‘berjalan-jalan’ dalam rumah adat secara virtual,” jelas Rifki.

RKBB bukan sekadar organisasi yang “memamerkan” budaya. Lebih dari itu, mereka mengkaji nilai-nilai budaya dengan pendekatan interdisipliner. Misalnya, mereka tengah meneliti lontara Bugis yang berisi pengetahuan pertanian tradisional, seperti tentang waktu panen, cuaca, hingga pola tanam.

“Teman-teman pertanian bisa mengkaji ini dari sisi ilmiah. Budaya itu punya rasionalitas tersembunyi yang belum tergali sepenuhnya,” kata Malik.

RKBBSB juga tengah merancang pertunjukan seni budaya yang akan menyuguhkan ragam tradisi lokal Bugis, seperti Songko To Bone, penutup kepala khas yang dirancang tanpa jahitan.
“Banyak yang belum tahu bahwa budaya kita itu keren. Bukan norak. Kita hanya perlu mengemasnya dengan cara yang tepat,” tambah Malik.

Hadirnya RKBB di Makassar menjadi angin segar, terutama bagi orang tua dan masyarakat adat yang merasa budaya semakin ditinggalkan. “Ada banyak orang tua yang bersyukur karena akhirnya ada juga anak-anak muda yang peduli dengan budaya di kota besar seperti Makassar,” jelas Rifki.

RKBB menyadari bahwa Makassar, sebagai pusat urbanisasi dan kapitalisme di Sulsel, membawa tantangan tersendiri. Diantaranya budaya cenderung tergeser oleh nilai-nilai materialistik. Karena itu, RKBB hadir bukan untuk melawan zaman, melainkan menyatu dengannya, namun tetap menjaga akar.

Di akhir podcast, Malik dan Rifki mengajak generasi muda untuk tidak melupakan identitas dan budaya leluhur mereka.
“Jadikan budaya sebagai simpul yang mengikat kita. Kita bisa modern, kita bisa global, tapi jangan sampai tercerabut dari akar kita,” ujar Rifki.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba langsung museum virtual ini, RKBB membuka aksesnya secara terbatas di beberapa kampus dan ruang publik di Makassar. (*)

Exit mobile version