Site icon Berita Kota Makassar

Ratusan Detonator Buatan India Ditemukan di Lokasi Ledakan

BULUKUMBA, BKM — Kepolisian melalui Tim Penjinak Bom (Jibom) Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel memastikan ledakan yang terjadi di Dusun Ta’lohea, Desa Lolisang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, pada Selasa malam (1/2), merupakan bom ikan rakitan. Penegasan itu disampaikan dalam konferensi pers di Ruang Gelar Perkara Satreskrim Polres Bulukumba, Rabu sore (2/7).

Hadir dalam konferensi pers, Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto, didampingi Wakapolres Kompol Syafaruddin, Kasat Reskrim Polres Bulukumba Iptu Muhammad Ali, Kaden Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel Kompol Mansyur, serta Kasubden Jibom Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel AKP Syamsuddin.

Kaden Gegana Kompol Mansyur menjelaskan bahwa kekuatan ledakan yang sampai merusak struktur bangunan, termasuk beton rumah, menunjukkan bahwa bahan peledak (handak) yang digunakan cukup besar. Barang bukti yang ditemukan berupa handak primer (sumbu api dan detonator). Sedangkan handak sekunder (bahan peledak utama) tidak ditemukan di lokasi.

“Detonator rakitan yang meledak berada di lantai dua. Sementara sejumlah detonator pabrikan yang belum meledak ditemukan di lantai dasar atau garasi,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Bulukumba Iptu Muhammad Ali menambahkan, dari hasil penyelidikan awal, diduga korban sedang merakit bom ikan sendirian ketika terjadi ledakan. Dugaan sementara, ledakan terjadi akibat kelalaian saat proses perakitan.

“Saat ini, penyidik masih mendalami apakah kegiatan merakit bom ikan tersebut ditujukan untuk kepentingan pribadi atau komersial,” jelasnya.

Menyusul peristiwa ini, Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan bom ikan dalam aktivitas penangkapan ikan. Selain membahayakan keselamatan, hal tersebut juga merusak ekosistem laut dan melanggar hukum.

“Tindakan ilegal seperti ini diatur dalam Pasal 84 Undang-Undang Perikanan, dengan ancaman pidana penjara maksimal enam tahun dan denda hingga Rp1,2 miliar,” tegasnya.

Ledakan hebat ini mengakibatkan seorang ibu-ibu bernama Jasma alias Jaso (43), tewas di tempat kejadian perkara (TKP) yang terjadi di dalam rumahnya sendiri. Pascaledakan, rumah korban yang berlantai tiga ini pun rusak parah.

Tim Jibom Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel tiba di lokasi untuk melakukan sterilisasi lanjutan serta pengumpulan barang bukti pada Rabu pagi (2/7).
Adapun barang bukti yang diamankan di TKP, yakni sumbu berwarna merah berisi serat hitam sepanjang 3.000 meter
.
Enam kotak detonator sumbu (nonel) buatan India sebanyak total 592 unit, dengan rincian enam box, terdiri dari boks satu 92 picis, boks dua enam picis, masing-masing isi 100 picis.
Ada pula satu tabung aluminium ukuran 58 mm x 6 mm berisi serbuk warna kuning
.
266 batang tabung aluminium kecil (35 mm x 4 mm)
.
Aluminium sisa ledakan
.
Kapas penutup tabung.

Dua buah gunting dalam keadaan rusak
.
Dua unit telepon genggam milik korban yang mengalami kerusakan akibat ledakan

.
Setelah proses sterilisasi oleh Tim Jibom, jenazah korban dievakuasi ke RSUD Sultan Daeng Raja Bulukumba untuk proses identifikasi dan pemeriksaan medis. Pihak keluarga korban menyatakan penolakan terhadap autopsi melalui surat pernyataan resmi dan telah memakamkan korban pada Rabu siang (2/7).

Tiga Tim Bergerak

Kapolres AKBP Restu Wijayanto mengungkapkan perkembangan penyelidikan ledakan tersebut. Menurutnya, tim laboratorium forensik (Labfor) Polda Sulsel bersama Satuan Reskrim Polres Bulukumba sementara melakukan olah TKP untuk mengambil sampel barang bukti.

“Nanti bidang labfor yang bisa menjelaskan zat dan bahan kimianya seperti apa. Jenis apa saja yang diledakan, dan seterusnya,” ujar AKBP Restu kepada wartawan di Mapolres Bulukumba, Kamis (3/7).

Mantan Kapolres Pelabuhan Makassar ini menyampaikan, polisi akan terus mendalami kasus ledakan dari bom ikan rakitan tersebut. Termasuk mendalami apakah bom rakitan ini dilakukan untuk tujuan komersil atau pun tidak.

“Kalau ini banyak sekali rangkaian detonator. Kelihatannya digunakan untuk komersil. Nanti Reskrim juga berangkat ke Sinjai dan Bone untuk mendalami lagi, karena kabarnya biasanya dijual ke sana. Kami mau lihat pasarnya di mana,” jelas AKBP Restu.

“Jadi, tiga tim bergerak bareng. Satu penyelidikan Reskrim untuk memastikan arahnya biasa dijual ke mana. Kemudian Gegana untuk sterilisasi. Baru nanti labfor untuk forensik kimianya,” tambahnya.

Dia mengungkapkan bahwa informasi sementara, Jasma merakit bom ikan seorang diri. Menurutnya, rangkaian merakit bom untuk ikan lebih simpel. Berbeda halnya ketika merakit bom jenis lain, seperti bom yang dilakukan oleh terorisme.

“Kemarin yang ditemukan oleh tim hanya sumbu ledak dan detonator kecil. Makanya kita butuh data dari labfor. Pertama forensik kimia, memastikan dalam detonator pakai bahan peledak apa,” ungkapnya.

Kemudian, kata AKBP Restu, polisi menemukan HP di TKP dalam keadaan rusak. Meski begitu, ada teknologi forensik digital yang bisa digunakan untuk bisa membuka HP tersebut, sehingga bisa diketahui apakah ada komunikasi dengan pihak-pihak tertentu untuk pemesanan.

“Karena info awal, dia baru kembali dari Malaysia. Pabrikan detonatornya ini dari pabrikan India. Saya kira ini diselundupkan, karena perjalanan kapal tidak seketat perjalanan di bandara,” jelasnya.

“Kami masih kembangkan dari mana sumbernya dia beli detonator. Sampai dia bisa beli 856 picis detonator,” tambah AKBP Restu. (ful)

Exit mobile version