Site icon Berita Kota Makassar

Andi Afifah Baharsa Tadris Bahasa Inggris IAIN Bone

WACANA pemisahan antara pemilu nasional dan pemilihan kepala daerah (pilkada) kembali mencuat ke ruang publik. Bagi kami generasi Z, keputusan ini bukan hal yang sepenuhnya keliru. Namun kebijakan seperti ini tidak bisa serta-merta dijalankan tanpa kajian yang menyeluruh.
Diperlukan analisis mendalam mengenai dampak pemisahan tersebut terhadap stabilitas politik serta partisipasi pemilih.

Pemisahan pemilu harus dikaji secara matang. Kita perlu melihat kelebihan dan kekurangannya secara objektif. Jangan sampai keputusan ini justru berdampak negatif terhadap kualitas demokrasi kita.

Ada kekhawatiran terhadap beberapa konsekuensi yang mungkin timbul. Pemisahan jadwal pemilu berpotensi menambah biaya negara secara signifikan. Selain itu, dari sisi teknis, pemilu yang digelar dua kali dengan waktu terpisah juga berisiko menambah kompleksitas proses dan membuka peluang terjadinya kesalahan atau bahkan kecurangan.

Kalau prosesnya jadi makin rumit, masyarakat bisa jenuh. Apalagi generasi muda yang cenderung menginginkan sistem yang efisien dan transparan.
Pemisahan pemilu bisa menjadi solusi jika dilakukan dengan perencanaan yang tepat. Pemerintah, penyelenggara pemilu, dan seluruh pihak terkait tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Pelibatan publik, terutama generasi muda dalam diskusi kebijakan seperti ini adalah langkah penting demi terciptanya demokrasi yang lebih sehat dan inklusif.

Generasi muda bukan hanya objek pemilu, tapi juga subjek yang punya pandangan kritis. Kita ingin proses demokrasi yang lebih baik, bukan yang lebih rumit. (*)

Exit mobile version