Site icon Berita Kota Makassar

Harga Kominiti Naik, Pemprov Gelar GPM di Halaman Masjid

MAKASSAR, BKM– Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam beberapa pekan terakhir rutin melaksanakan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM).Kegiatan tersebut bukan hanya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tetapi juga dilakukan di hari biasa dalam pelaksanaannya.
Seperti di tengah sejumlah komiditi sedang mengalami lonjakan,salah satunya komiditi beras, kegiatan GPM menjadi salah satu cara dalam melakukan intervensi, dan paling banyak masyarakat mencarinya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, M Ilyas menjelaskan, kegiatan ini menjadi salah satu langkah mendukung stabilasi pasokan dan harga pangan, serta pengendalian inflasi salah satunya dengan memasifkan kegiatan Gerakan Pangan Murah, dimana masyarakat biasanya akan sangat antusiasi untuk mendatanginya.
“Mereka tidak perlu lagi datang ke pasar, kami sudah menghadirkan apa yang mereka butuhkan, terutama pangan pokok seperti beras, dan pangan strategis lainnya kelompok hortikultura, cabai, ada tomat, ada sayur-sayur. Juga dari bulog yang selantiasa mendukung kami, yaitu berasnya beras, gula pasir, minyak goreng, dan tepung. Dan aneka macam kuliner,” kata Ilyas, ditemui di kegiatan GPM dan pengenalan Kios Pangan dalam Koperasi Kelurahan Merah Putih, di Masjid Nurul Istiqamah , Jalan Tamalanrea, Selasa (8/7).

Lebih jauh, Ilyas menyebutkan melalui kegiatan GPM ini yang dilakukan adalah memperpendek rantai pasokan sehingga membuatnya lebih murah. Terkait dengan harga komoditi penyumbang inflasi, ia menyatakan saat ini memang kondisinya beras sudah diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk itu pihaknya selalu mengandeng Gapoktan dan juga Bulog dalam memenuhi kebutuhan kebutuhan masyarakat yang ada seperti di Kelurahan Tamalanrea ini, namun ini mencakup banyak wilayah diantaranya kelurahan Biringkanaya.
Terkait dengan harga kebutuhan pokok dalam menjaga kestabilan, Ilyas mengungkapkan salah satu bentuk pengendalikan inflasi yang dilakukan oleh Dinas Ketapang adalah melakukan pemantauan harga setiap hari dan juga membuat neraca pangan, untuk memastikan ketersediaan kemudian memastikan kebutuhan tingkat masyarakat perkomoditi pangan pokok dan strategis dan berapa kelebihannya.”Melalui neraca pangan inilah semua nanti bisa terlihat,” paparnya.

Sementara itu, Manajer Bisnis Kantor Wilayah Bulog Sulselbar, Rahmi Mangerang mengaku, menilai kegiatan GPM sejauh ini cukup membantu masyarakat dalam memproleh komiditi pangan seperti beras, minyak goreng minyakita , gula dan beberapa kebutuhan lainnya. Walaupun saat ini, Bulog menjual beras premium yang ada, namun masyarakat masih cukup antusias dalam membelinya.

“Saat ini memang untuk beras,mungkin pasokan di masyarakat sedang kurang karena memang belum panen, dimana untuk panen sekitar dua atau tiga minggu mulai panen, dan dilapangan memang untuk harga gabah sudah tinggi Rp 7.000 dan harga beras medium di pengilingan berada di angka Rp 14 ribu, namun Bulog tetap berusaha dalam melakukan stabilisasi harga, dan ketersediaan stok yang ada untuk dijual, termasuk komiditi seperti minyak goreng,”jelasnya.

Rahmi mengaku, beras yang dibawa Bulog dalam kegiatan GPM ini memang paling sering dicari oleh masyarakat, namun memang kondisi suplay bahan baku untuk pengilingan untuk pabriknya juga terbatas saat ini.”Kalau beras premium ini memang beda dengan beras SPHP yang memberi kontribusi cukup besar dalam stabilisasi harga satu kali kegiatan bisa menghabiskan hingga 2 ton beras, namun ini memang untuk beras SPHP masih menunggu penugasan dari pusat untuk dikeluarkan,”katanya.
Lebih jauh Rahmi menyebutkan, dalam kegiatan GPM nantinya jika surat penugasan penyaluran SPHP keluar maka pihaknya tentu akan kembali mendistribusikan ke masyarakat.”Beras dan Minyak Goreng minyakita menjadi dua komiditi yang paling dicari, oleh masyarakat saat GPM,” sebutnya. (jun)

Exit mobile version