Site icon Berita Kota Makassar

Mengapa Ekspor Daging Ayam  Indonesia Masih Rendah?

Oplus_131072

Hampir setiap tahun, terjadi gejolak harga ayam hidup di Indonesia yang jauh dari harga pokok produksi. Berbagai pendapat serta kebijakan telah diambil, namun belum memberikan hasil yang maksimal

Penulis: Syahrir Akil

SEBAGIAN produksi ayam yang dihasilkan oleh industri harus ekspor.  Untuk peternak dan usaha mandiri hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik.  Akan tetapi kalau hal ini dipenuhi maka target swasembada pangan dari daging ayam  tidak akan terwujud, mengapa? Karena peternak atau  peternak usaha peternak mandiri hanya melihat momen seperti puasa, lebaran serta tahun baru.  Jika target mereka hanya pada kondisi ini, maka ketersediaan daging ayam tidak tercukupi, harga mahal dan tidak terjangkau. 

Berbeda dengan pelaku usaha kemitraan, mereka mengatur siklus produksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga ketersediaan daging ayam selalu terpenuhi. 

Berbicara masalah ekspor untuk hasil  produksi industri peternakan khususnya perunggasan belum maksimal dan hanya mampu dilakukan oleh perusahaan tertentu saja.

Rendahnya ekspor daging ayam dari Indonesia masih sangat terbatas karena sejumlah kendala struktural, teknis, dan regulasi yang saling berkaitan.

Berikut ini adalah penjelasan sistematis dan relevan yang menguraikan faktor-faktor utama mengapa ekspor daging ayam Indonesia belum berkembang secara signifikan:

1. Kendala Standar dan Sertifikasi Internasional

Salah satu hambatan utama adalah belum terpenuhinya standar internasional, seperti:

Sertifikasi kesehatan dan keamanan pangan (sanitary and phytosanitary/SPS) dari negara tujuan ekspor.

Standar kesejahteraan hewan (animal welfare) yang ketat di negara-negara maju.

Sertifikasi halal yang diakui secara global, misalnya oleh otoritas di Timur Tengah atau negara-negara Muslim lainnya.

Tanpa pemenuhan standar ini, produk unggas Indonesia tidak dapat masuk ke pasar yang lebih besar seperti Uni Eropa, Jepang, atau Timur Tengah.

2. Kapasitas Produksi Berorientasi Pasar Domestik

Produksi ayam di Indonesia saat ini lebih fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama konsumsi masyarakat, industri makanan, dan kebutuhan Hari Raya. Beberapa catatan penting:

Permintaan domestik masih sangat tinggi, dengan konsumsi per kapita daging ayam yang terus meningkat.

Sebagian besar peternak adalah peternak kemitraan atau kecil-menengah, yang produksinya belum terstandar secara ekspor.

Akibatnya, skala ekonomi dan volume produksi terstandar untuk ekspor masih belum optimal.

3. Infrastruktur Rantai Dingin (Cold Chain) yang Terbatas

Distribusi daging ayam ke pasar ekspor membutuhkan rantai pasok dingin (cold chain) yang efisien dan andal, mulai dari pemotongan, penyimpanan, hingga pengiriman. Namun, banyak daerah produksi unggas di Indonesia yang:

Belum memiliki infrastruktur penyimpanan berpendingin yang memadai.

Mengalami gangguan distribusi dan logistik, terutama dalam menjaga suhu stabil selama pengiriman.

Kondisi ini menurunkan daya saing produk unggas Indonesia dibanding negara pesaing seperti Thailand dan Brasil.

4. Persaingan Ketat dari Negara Eksportir Besar

Pasar ekspor daging ayam global didominasi oleh negara-negara seperti:

Brasil: eksportir unggas terbesar dunia dengan efisiensi produksi tinggi dan harga kompetitif.

Thailand: eksportir unggas unggul di Asia Tenggara yang sudah memenuhi berbagai standar internasional (termasuk UE dan Jepang).

Indonesia menghadapi ketertinggalan daya saing harga dan kualitas produk jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut.

5. Isu Penyakit Ternak dan Biosekuriti

Isu penyakit unggas seperti Avian Influenza (AI) masih menjadi perhatian global. Negara-negara tujuan ekspor sangat ketat dalam menyeleksi negara asal yang:

Bebas penyakit menular, memiliki sistem biosekuriti dan pelaporan penyakit yang transparan, terbukti memiliki penelusuran produk (traceability) yang akurat.

Indonesia, meskipun telah melakukan berbagai perbaikan, belum sepenuhnya terbebas dari catatan risiko AI, yang membuat negara tujuan ekspor berhati-hati.

6. Kebijakan dan Regulasi Nasional

Beberapa faktor kebijakan yang membatasi ekspor antara lain:

Belum adanya prioritas strategis dalam roadmap ekspor unggas nasional, karena fokus masih pada ketahanan pangan dalam negeri.

Birokrasi ekspor yang panjang dan kompleks, terutama terkait izin karantina, standar mutu, dan perizinan ekspor.

Ketergantungan pada bahan baku impor (seperti jagung dan bungkil kedelai), yang membuat biaya produksi tinggi dan tidak kompetitif secara global.

7. Kurangnya Branding dan Diplomasi Ekspor

Indonesia belum memiliki citra global sebagai eksportir daging ayam berkualitas tinggi. Berbeda dengan Thailand yang memiliki:

Merek dagang unggas yang kuat di pasar global, dukungan diplomatik dan promosi pemerintah secara aktif di negara tujuan ekspor.

Branding dan diplomasi dagang menjadi aspek non-produktif yang sangat menentukan dalam ekspor pangan.

Arah Perbaikan

Untuk memperluas pasar ekspor daging ayam, Indonesia perlu melakukan:

Standarisasi peternakan dan RPH sesuai standar internasional.

Penguatan cold chain logistics dari hulu ke hilir.

Peningkatan kualitas produk dan efisiensi biaya produksi.

Reformasi kebijakan ekspor yang mendukung industri.

Pembangunan brand unggas Indonesia di pasar internasional.

Dengan langkah-langkah strategis ini, ekspor unggas Indonesia berpotensi berkembang, terutama ke negara-negara tetangga ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika. (*)

Exit mobile version