GOWA, BKM — Salah satu tradisi leluhur yang membudaya di kalangan masyarakat khususnya perkampungan adalah tradisi Paddekko (pesta panen yang ditandai menumbuk padi muda). Namun tradisi ini nyaris punah seiring sistem teknologi telah merajai dunia pertanian dengan rerata petani mengolah gabah dengan menggunakan mesin.
Kendati permesinan pengolahan padi sudah menyebar di pelosok desa, namun masih ada segelintir masyarakat yang melakukan tradisi Paddekko dan Barutu ini. Paddekko adalah penumbuk lakilaki dan Barutu adalah penumbuk padi dari kaum perempuan.
Di momen pelaksanaan event Beautiful Malino ini, tradisi Paddekko dan Barutu dimunculkan dan menjadi rangkaian wisata budaya Beautiful Malino. Kegiatan ini digelar dalam Art Culture Festival Paddekko dan Barutu yang terpusat di Pattiroang Cafe & Resto, di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong pada Kamis (10/7).
Festival ini dibuka Bupati Gowa, Husniah Talenrang dihadiri sejumlah tamu baik dari lingkup Pemkab Gowa maupun jajaran Forkopimda Gowa.
Husniah mengatakan, festival seperti ini sangat baik dilaksanakan khususnya dalam menjaga dan mempertahankan salah satu tradisi di Kabupaten Gowa yakni Paddekko dan Barutu yang sering digunakan saat memasuki musim panen pada zaman dahulu.
Sekadar diketahui, Paddekko dan Barutu itu adalah para penumbuk padi muda di lesung kayu menggunakan alu terbuat dari batang kayu dengan teknik tumbukan alu menghadirkan irama musik khas. Untuk arti harpiahnya, Paddekko itu penumbuk padi lakilaki dan Barutu adalah penumbuk padi perempuan).
”Pemerintah Kabupaten Gowa sangat mendukung festival ini. Tugas kita adalah mengembangkan kebudayaan kita seperti Paddekko dan Barutu agar tidak punah. Karena di zaman sekarang yang sudah instan dan menggunakan mesin, maka jarang masyarakat menggunakan cara ini,” kata bupati Gowa.
Husniah pun berharap festival ini bisa terus dilaksanakan dan dikemas lebih menarik agar semakin banyak kecamatan yang ikut sehingga kebiasaan Paddekko dan Barutu ini bisa terus dijaga.
”Saya yakin Paddekko ini masih kerap dilakukan masyarakat kampung di beberapa kecamatan. Terima kasih kepada masyarakat Kelurahan Buluttana telah mempertahankan dan menumbuhkan budaya Paddekko dan Barutu ini di Gowa,” aku Husniah.
Sekretaris Camat Tinggimoncong, Muh Anzhary Haris, mengatakan, festival ini diikuti 32 peserta yang terdiri dari sembilan tim tersebar di lima kecamatan.
”Festival Paddekko adalah kegiatan tahunan di Kelurahan Bulutana ini dan bekerjasama dengan Pattiroang Cafe. Semoga kedepan bisa terus kita laksanakan dan semakin banyak yang ikut terlibat,” katanya.
Festival Paddeko dan Barutu ini diikuti 10 tim peserta. Para peserta tersebut berasal dari Kecamatan Tinggimoncong, Parigi, Bungaya, Barombong, dan Bajeng. Peserta terbanyak berasal dari Kecamatan Tinggimoncong karena mengikutkan lima tim. Salah satunya adalah tim dari Kelurahan Bontolerung. (sar)

