URBAN farming bukan hanya tentang menanam di lahan sempit. Lebih dari itu, ia adalah tentang harapan, tentang partisipasi, dan tentang upaya kolektif membangun kota yang lebih hijau dan mandiri.
DI Makassar, semangat ini terwujud dalam sebuah gerakan yang kini mulai dikenal luas, yakni Tanami Tanahta. Gerakan ini menjadi wajah baru dari pertanian kota yang digerakkan langsung oleh masyarakat dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Makassar.
Salah satu sosok yang berada di balik penguatan gerakan ini adalah Andi Fadly Arifuddin, atau yang lebih akrab disapa Fadly Padi, anggota Tim Ahli Urban Farming Pemkot Makassar. Ia menjelaskan bahwa Tanami Tanata lahir bukan dari ruang rapat atau rancangan kebijakan semata, melainkan dari semangat akar rumput yang terus bergerak dan menumbuhkan inisiatif di berbagai sudut kota.
“Tanami tanata itu sebenarnya adalah gerakan urban farming yang dibangun dari masyarakat. Jadi atas partisipasi masyarakat, pegiat dari urban farming itu sendiri dan stakeholder, itulah yang diadopsi oleh Pemerintah Kota Makassar untuk menjadi gerakan besar yang masif di Makassar hingga akhirnya kita sepakat menamakan gerakan ini Tanami Tanahta,” tutur Fadly yang hadir sebagai tamu siniar untuk kanal BKM News.
Keterlibatan Fadly dalam dunia pertanian kota bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Ia mengaku bahwa masa kecilnya sangat memengaruhi pilihan hidupnya saat ini. Ia tumbuh besar di Kabupaten Sinjai, dalam sebuah keluarga yang sangat dekat dengan nilai-nilai kemandirian dan kreativitas.
“Ada banyak faktor yang membuat saya bergabung di tim ahli urban farming tapi memang masa kecil itu berpengaruh ternyata. Saya tumbuh di Kabupaten Sinjai dan ayah saya itu pamong. Selain pamong, beliau punya banyak hobi, diantaranya adalah musik dan berkebun. Jadi karena kebiasaan di keluarga sejak kecil, akhirnya saya punya dua hobi. Hobi pertama itu musik, Alhamdulillah sekarang tersalurkan dan yang kedua itu berkebun,” kenangnya.
Tinggal di lingkungan perkotaan membuat Fadly harus mencari cara untuk tetap menjalankan hobinya. Lahan yang sempit bukan halangan, justru menjadi tantangan yang akhirnya membawanya menemukan dunia urban farming.
“Kebetulan saya tinggal di kota, jadi yang saya pikirkan bagaimana berkebun di lahan yang sempit dengan tetap menjalankan hobi kita, yaitu berkebun, dan jawabannya itu ada di urban farming,” ungkapnya.
Perjalanan Fadly di dunia urban farming dimulai secara serius pada tahun 2010. Ketika itu, ia aktif di Jakarta dan bergabung dengan komunitas besar bernama Indonesia Berkebun.
Tak hanya menjadi anggota aktif, Fadly juga pernah mengajar dalam program prapurnabakti, sekaligus berinteraksi dengan berbagai komunitas yang antusias terhadap urban farming. Keahlian khususnya pun berkembang, dan ia kemudian mendalami aquaponik sebagai spesialisasi utama.
“Sejak tahun 2010 saya aktif di Jakarta ikut komunitas besar yang namanya Indonesia Berkebun waktu itu. Sempat juga jadi dosen pengajar prapurnabakti waktu itu dan komunitas-komunitas yang tertarik di urban farming. Spesialisasi saya itu aquaponik,” jelas Fadly.
Urban farming, menurutnya, bukan hanya sebatas menanam sayuran di pot atau pekarangan rumah. Ada sistem yang terintegrasi di dalamnya. Bahkan, konsep urban farming yang ia bawa bersama tim ahli mencakup sembilan sektor penting yang saling terhubung dan bisa dikembangkan secara simultan di lingkungan perkotaan.
“Ada sembilan sektor yang terdapat di dalam konsep urban farming. Yang pertama itu sektor pertanian, peternakan skala kecil, pengelolaan sampah organik, perikanan darat, pembibitan terpadu, pakan berkelanjutan, dan masih ada beberapa lainnya,” terang Fadly.
Ia menegaskan bahwa praktik urban farming di mana pun di dunia memiliki prinsip dasar yang sama. Namun, yang membedakan antara praktik dulu dan sekarang adalah tingginya partisipasi publik. Baginya, urban farming bukan lagi sekadar gerakan teknis, melainkan gerakan sosial yang mengedepankan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.
“Urban farming di manapun di seluruh dunia itu sama. Nah, perbedaan dari urban farming yang dulu dan sekarang itu adalah partisipasi. Bahwa ini gerakan kita bersama karena dimulai dari masyarakat, dikolaborasikan oleh masyarakat, dan pemerintah mendukung dengan membuat peraturan yang populis yang bisa meningkatkan pemberdayaan,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, gerakan Tanami Tanahta kini menjadi platform bersama dalam membangun kemandirian pangan di kota. Dari lorong-lorong kecil hingga halaman-halaman sempit, urban farming menjadi cara untuk memelihara bumi, menumbuhkan solidaritas, dan mempererat hubungan sosial di tengah tantangan urbanisasi.
Bagi Fadly Padi, menanam bukan hanya soal sayuran atau buah yang tumbuh. Menanam adalah merawat harapan, menyemai masa depan, dan menciptakan kota yang tidak hanya padat bangunan, tapi juga kaya akan kehidupan. (jar)

