Site icon Berita Kota Makassar

‎PKB Makassar Mantapkan Arah Politik Kerakyatan di Usia ke-27

MAKASSAR, BKM–Menginjak usia ke-27, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Makassar menegaskan kembali pijakan ideologis dan arah perjuangan politiknya. Tak sekadar seremonial, momen hari jadi ini dimaknai sebagai ajang konsolidasi gagasan dan penguatan struktur kaderisasi dalam rangka menjaga nilai-nilai kebangsaan serta merawat pluralisme di tengah masyarakat kota yang heterogen.

‎‎Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Makassar, Andi Makmur Burhanuddin, menyebut usia 27 tahun bukan sekadar capaian waktu, tetapi momentum strategis untuk mengevaluasi peran partai di tengah dinamika politik dan sosial kemasyarakatan. Ia menegaskan bahwa sejak awal, PKB tidak berdiri untuk mewakili satu golongan, melainkan sebagai partai yang berpijak pada semangat kebangsaan.

‎‎”PKB dibangun dari tradisi Nahdlatul Ulama, tapi tidak berdiri untuk eksklusivitas. Ini partai nasionalis-religius yang siap menjadi rumah besar bagi semua warga negara, terlepas dari latar belakang budaya, etnis, dan agama,” ungkap Noval sapaan akrab Andi Makmur Burhanuddin, yang kini juga menjabat sebagai Anggota DPRD Makassar, Selasa (22/7).
‎‎Noval menilai, Makassar sebagai kota metropolitan dengan ragam suku dan budaya adalah ruang strategis bagi PKB untuk memperkuat kerja-kerja politik yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keadilan sosial. “Makassar ini miniatur Indonesia. Maka kehadiran PKB di sini harus benar-benar mencerminkan semangat inklusi. Politik tidak boleh menjauh dari rakyat dan tidak boleh memecah belah,” imbuhnya.

‎Hal sama disampaikan Ketua DPC PKB Makassar Fauzi Andi Wawo, yang menekankan pentingnya membumikan semangat keumatan yang inklusif. Menurutnya, visi keumatan yang diusung PKB tidak boleh berhenti pada retorika agama, tetapi harus hadir dalam bentuk keberpihakan nyata pada kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan.
‎‎”Keumatan dalam perspektif PKB adalah memperjuangkan hak hidup yang layak bagi kaum marjinal, pedagang kaki lima, buruh harian, nelayan, hingga pekerja informal yang kerap tidak mendapat ruang dalam kebijakan pembangunan,” ujar Fauzi Andi Wawo yang juga Wakil Ketua DPRD Sulsel ini.

‎Fauzi juga menegaskan bahwa keberlangsungan ideologi partai hanya bisa diwujudkan melalui kaderisasi yang konsisten dan menyentuh akar rumput. Menurutnya, kaderisasi bukan sekadar proses rekrutmen caleg atau pengurus, tetapi pembentukan karakter politisi yang paham realitas sosial dan memiliki keberanian untuk berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
‎‎”Kaderisasi harus melahirkan pemimpin yang punya integritas dan tidak alergi terhadap penderitaan rakyat. Mereka harus siap bekerja di tengah masyarakat, bukan hanya tampil saat kampanye atau pencalonan,” tegasnya.
‎‎PKB Makassar, kata Fauzi, juga tengah merancang berbagai program penguatan kelembagaan partai melalui pendekatan lintas budaya dan iman, sebagai wujud komitmen merawat pluralisme dalam bingkai kebangsaan.

‎‎Sebagai bagian dari langkah taktis, DPC PKB akan mendorong program pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas serta memperkuat peran partai dalam menyerap dan menyuarakan aspirasi rakyat melalui jalur-jalur nonformal yang lebih responsif.
‎‎”Kita tidak ingin PKB dikenal hanya sebagai partai yang kuat saat pemilu. Kita ingin dikenal sebagai partai yang selalu ada di setiap denyut kehidupan rakyat di pasar tradisional, di kampung nelayan, di lorong-lorong kota, di mana pun harapan itu tumbuh,” tandasnya.
‎‎Dengan semangat refleksi di usia 27 tahun, DPC PKB Makassar menatap masa depan politik yang lebih partisipatif, merakyat, dan tidak kehilangan arah ideologis. Usia boleh bertambah, tapi komitmen terhadap rakyat kecil dan terhadap prinsip pluralisme, bagi PKB, tetap tak boleh luntur. (ita/rif)

Exit mobile version