Site icon Berita Kota Makassar

Iptu Andi Sriulva Baso Paduppa, Polisi Inovatif Peraih Hoegeng Award 2025

POLISI bukan sekadar penegak hukum. Ia adalah wajah pelayanan publik. Kalimat ini menjadi napas dalam perjalanan karier Iptu Andi Sriulva Baso, polisi wanita pertama dari Sulawesi Selatan yang berhasil meraih Hoegeng Award 2025 pada kategori Polisi Inovatif.

PENGHARGAAN ini tidak datang dari pengakuan instansi atau dari pencitraan. Ia lahir dari praktik-praktik kecil namun berani, meja tanpa laci, layanan satu atap, ruang PPA yang manusiawi, hingga keberanian menolak gratifikasi dalam bentuk apapun.

Inovasi Ulfa dimulai sejak tahun 2016 di Polsek Panakkukang, Kota Makassar. Kala itu ia bersama Kapolsek Kompol Woro Susilo merenovasi ruang SPKT menjadi pusat layanan satu pintu. Ulva memperkenalkan konsep sederhana namun revolusioner, yaitu meja kerja tanpa laci. Tujuannya untuk mencegah potensi penyimpangan atau suap terselubung.

“Saya copot semua laci meja. Saya ubah jadi meja ruang tunggu. Di atasnya saya taruh air minum,” ungkap Ulfa dalam siniar untuk kanal BKM News, Kamis (24/7).
Apa yang dilakukannya ketika itu sempat mendapat cibiran dari rekan-rekannya. Ia bahkan disindir dengan julukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) kecamatan. Namun Ulva bergeming. Dia balik menanggapi hal itu dengan candaan.

”Jadi, setiap saya mau lewat depan teman-teman di kantor saya biasa bilang; minggir…KPK kecamatan mau lewat,” tuturnya sambil tertawa lepas.
Seiring berjalannya waktu, apa yang dilakukan Ulva ketika itu berhasil mengubah pelayanan publik di Polsek Panakkukang menjadi lebih terbuka dan bersih. Inovasinya bahkan mendapat apresiasi dari petinggi kepolisian saat itu. Ulva pun disekolahkan dan kini telah menjadi seorang perwira, bertugas di Ditlantas Polda Sulsel.
Tahun 2019, Ulva pindah tugas di Polres Takalar dan mendapat amanah sebagai Kepala Unit (Kanit) Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA). Inovasi pun kembali dilakukannya. Di sana ia membangun ruang ramah anak, ruang konseling, dan kembali menerapkan meja tanpa laci.

Inovasi ini terus dilanjutkan ketika bergeser di Unit Lantas Polres Takalar. Ulva menempel daftar resmi biaya pengurusan SIM di pintu masuk, mencegah praktik percaloan dan pungutan liar (pungli).
Selama menerapkan inovasi ini, Ulva pernah satu kali mendapati ada rekan sejawatnya yang melakukan pelanggaran. Kali ini pendekatan layaknya adik dan kakak ia lakukan, sembari memberikan teguran secara halus. ”Rezeki itu dari Tuhan. Sudah ada gaji, ada juga remunerasi. Apa lagi,” katanya.
Momen transformasi pribadi Ulva terjadi ketika mengikuti Training of Trainer (TOT) SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) di Sorong yang diinisiasi oleh KPK. Di sana ia menyerap nilai-nilai integritas dan keteladanan, jauh dari sekadar teori hukum.

Ilmu yang diperoleh bukan hanya menyentuh prosedur, tapi juga hati. Bahkan ia memilih menjual mobil, motor, dan perhiasan pribadinya karena meyakini bahwa polisi sejati tak menerima “terima kasih” dalam bentuk barang.
“Terima kasih itu ucapan, bukan pemberian. Kalau barang, itu bukan hak saya,” tegasnya.

Ulva mengisahkan bahwa semangatnya dijaga oleh amanah sang ayah. ”Pesan saya saya, kalau memang mau jadi polisi jangan pernah menyusahkan rakyat. Itu yang selalu saya ingat sampai saat ini,” ucapnya.
Ketika hendak menjual benda berharga miliknya saat masih mengikuti ToT, ibunya sempat bertanya heran; mengapa semua harta pribadi dijual.
”Saya sampaikan ke ibu, kita jual saja semuanya baru disumbangkan untuk bangun masjid dan anak yatim piatu. Kalau untuk alasannya, saya bilang nanti kalau pulang saya jelaskan,” terangnya.
Begitu mengatahui alasan putrinya melakukan itu semua, sang ibu pun merestui sepenuh hati.

Peran Aktivis Anti Korupsi

Nama Emma Husain, aktivis antikorupsi Sulsel dan Koordinator SPAK disebut Ulva sebagai sosok yang selalu mendorongnya untuk tidak takut berinovasi, meski harus menghadapi tekanan internal.
Dengan nada suara yang sempat tertahan, Ulva menyebut Emma Husain sebagai orang yang berpengaruh besar dalam hidupnya.
”Biasanya kalau ada sesuatu yang saya mau lakukan, Bu Emma pasti saya tanya dan mintai pertimbangannya,” ungkap Ulva.

Ia pun menyebut, penghargaan Hoegeng Award Sebagai Polisi Inovatif yang diraihnya tidak terlepas dari andil dan peran Emma Husain.
Ulva mengaku penghargaan yang didapatnya ini bukan hasil dari kampanye atau nominasi diri. Ia malah tak tahu kapan dirinya dinilai dan siapa menilai. Namun, jejak digital dan informasi dari masyarakat akhirnya membawa namanya masuk tiga besar nasional, hingga akhirnya meraih Hoegeng Award yang resmi diumumkan pada Juni 2025.

“Saya bingung sendiri, apa yang saya lakukan? Saya hanya kerja, kerja, dan kerja,” ucap Ulfa merendah.

Iptu Andi Sri Ulva Baso menjadi simbol bahwa integritas bukan hal yang usang, dan inovasi bisa lahir dari keberanian memilih jalan yang benar meski sepi.

“Selagi Allah kasih otak, dan Ibu Emma masih mendukung, saya akan terus berinovasi,” tutupnya.

Hoegeng Award diberikan kepada polisi yang menjadi teladan dalam integritas, keberanian, dan inovasi pelayanan publik. Nama penghargaan ini diambil dari Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Kapolri yang legendaris karena kejujuran dan ketegasannya. (*)

Exit mobile version