DALAM dunia yang bergerak cepat dan kompetitif, Ratu Azara memilih untuk tidak hanya sekadar ikut arus. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin angkatan 2023 ini menapaki jalan sunyi yang penuh konsistensi dan jatuh bangun demi satu tujuan, menjadi representasi anak muda yang tidak hanya berprestasi, tapi juga berdampak.
MENAPAKI usia 19 tahun, Ratu baru saja mengukir pencapaian sebagai penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek 2024, sebuah pengakuan atas rekam jejaknya di dunia sosial, pendidikan, dan kepemudaan.
Tapi seperti yang ia sampaikan dalam siniar untuk kanal Youtube BKM News, semua ini lahir dari proses panjang yang tidak selalu mudah.
“Saya pernah merasa jadi anak biasa saja, yang tidak terlalu pintar atau menonjol. Tapi saya selalu percaya kalau kerja keras dan belajar dari siapa pun, di mana pun, itu kunci saya bertumbuh,” ujar Ratu.
Nama Ratu Azara pertama kali dikenal saat menjabat sebagai Duta Pelajar Bulukumba 2022. Namun jauh sebelum itu, ia sudah akrab dengan kegiatan organisasi sejak duduk di bangku SMP. Ia aktif di OSIS, forum pelajar, hingga komunitas sosial. Saat SMA, Ratu bahkan pernah ditunjuk menjadi Ketua Forum Pelajar se-Kabupaten Bulukumba.
Tapi di balik segudang aktivitas itu, Ratu pernah mengalami kejatuhan.
“Waktu SMA, saya pernah ikut lomba dan gagal. Bahkan sampai harus menyaksikan orang-orang yang meremehkan karena saya ‘anak daerah’. Itu membuat saya berpikir, saya harus bangkit. Saya harus jadi bukti bahwa dari daerah pun kita bisa besar,” kenangnya.
Pengalaman itu memacu semangatnya hingga kini dikenal sebagai penggagas berbagai gerakan sosial di Bulukumba. Beberapa diantaranya adalah program KIA (Kampung Inspirasi Azara) yang mengusung literasi dan pengembangan diri untuk pelajar di desa, dan Gopal Rita yang merupakan gerakan donasi alat tulis bagi anak-anak pelosok.
Falsafah “Kelas Kosong”
Di tengah gempuran budaya instan, Ratu memilih jalan sebaliknya. Ia menjadikan setiap orang sebagai guru, dan setiap tempat sebagai sekolah.
“Saya selalu bilang ke diri sendiri: jadi ‘kelas kosong’ saja. Biar bisa diisi oleh ilmu dari siapa pun. Jangan pernah merasa paling tahu atau paling hebat,” katanya.
Falsafah ini ia pegang teguh, bahkan ketika sudah duduk di bangku perkuliahan. Ia aktif menjadi public relations di komunitas volunteer, menjadi narasumber di pelatihan remaja, hingga membangun platform self development melalui media sosial pribadinya.
Proses seleksi Beasiswa Unggulan yang diikutinya tidaklah mudah. Dari menyusun portofolio, menulis esai, hingga wawancara nasional, semua ia lewati seorang diri. Ia bahkan sempat merasa minder melihat peserta lain yang berasal dari universitas ternama atau dengan pengalaman internasional.
Namun dengan keyakinan dan narasi yang kuat tentang pengabdian dan advokasi akar rumput, Ratu berhasil lolos sebagai salah satu penerima dari ribuan pendaftar se-Indonesia.
“Saya selalu ingat, mimpi itu harus diiringi dengan aksi. Bukan sekadar mau besar, tapi harus siap jalan dan luka-luka untuk sampai ke sana,” tutur Ratu, menutup podcast.
Kini, Ratu sedang mempersiapkan agenda baru bersama komunitasnya: “Suara dari Selatan”, sebuah kampanye media tentang potret anak muda dari wilayah pesisir dan pinggiran Sulawesi Selatan. Tujuannya sederhana, yakni memperlihatkan bahwa narasi besar tak selalu datang dari kota-kota besar.
“Saya cuma ingin jadi suara kecil yang bisa didengar. Tidak harus sempurna, yang penting nyata dan konsisten,” ucapnya dengan senyum.
Ratu Azara mengajarkan kita bahwa menjadi luar biasa tidak harus menunggu kesempatan datang. Kadang, kita sendiri yang harus menciptakan panggung. Dari kelas kecil di desa, dari ruang sunyi penuh buku dan gagal, ia membuktikan bahwa semangat belajar dan kepedulian sosial adalah kombinasi paling ampuh untuk menaklukkan masa depan. (*)
