TIGA sosok muda ini berdiri bukan hanya sebagai pemenang ajang Putra Inspirasi Sulawesi Selatan 2025, tapi juga sebagai simbol energi baru anak muda yang siap berdampak. Mereka adalah Dafha Naafi P, Nur Fadli Aditiya, dan Muthliq Resqullah Zaki. Masing-masing datang dari latar berbeda, namun mereka satu suara, yakni menginspirasi dan menggerakkan.
HADIR menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube BKM News, Dafha, Fadli, dan Zaki tampil kompak dan penuh semangat. Mereka memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri dan menyampaikan motivasi di balik langkah mereka menembus panggung inspirasi.
Dafha, pemuda asal Desa Padang Loang, Sidrap, mengaku tak pernah menyangka dirinya akan keluar sebagai pemenang. “Yang pertama kali saya pikirkan ketika diumumkan sebagai pemenang adalah orang tua saya. Dukungan dan doa mereka menjadi kekuatan terbesar saya,” ungkap mahasiswa Manajemen Ekonomi dari STIE Makassar tersebut.
“Tepuk tangan sambil menangis, itu saja sudah cukup jadi hadiah terbaik dari saya untuk mereka,”
tambahnya.
Berbeda dengan Dafha, Fadli dari Kabupaten Takalar justru menyebut dirinya sempat merasa “cemburu dalam hal yang baik”. “Saya bukan iri dalam arti negatif, tapi saya termotivasi. Saya ingin menjadi seperti Kak Dafha, punya pribadi yang baik, intelejensia yang luas. Jadi, kalau dibilang cemburu, iya, tapi dalam artian membangun,” katanya.
Fadli juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan moralitas. Baginya, inspirasi tanpa akhlak bisa menjadi bumerang. “Intelektualitas tanpa moralitas berbahaya. Sebaliknya, moralitas tanpa ilmu juga bermasalah,” tegasnya.
Sementara Zaki, peserta termuda berusia 17 tahun dari SMA Negeri 12 Makassar, tampil dengan gagasan advokasi yang konkret Zaki, akronim dari Zona Anak Nyaman, Kreatif, dan Inspiratif. Program ini sudah ia jalankan di sekolahnya sebelum mengikuti kompetisi. “Saya ingin menciptakan ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan diri, percaya diri, dan berkarya,” jelasnya.
Salah satu momen paling menyentuh baginya adalah ketika ia menginspirasi seorang penghuni panti asuhan yang ingin mengikuti jejaknya. “Itu yang membuat saya sadar, inspirasi itu bukan soal besar atau kecilnya aksi, tapi dampaknya bagi orang lain,” katanya sambil tersenyum.
Ketiganya sepakat bahwa Putra Inspirasi bukan sekadar ajang pencarian “duta tampan”. Lebih dari itu, ini adalah ruang perjumpaan ide, energi, dan dedikasi anak muda yang ingin mengangkat suara-suara yang selama ini tidak terdengar.
“Kami adalah perpanjangan tangan bagi mereka yang takut bersuara, takut melangkah. Di sini kami hadir, membuka pintu, bukan sekadar panggung,” kata Dafha.
Dengan latar belakang sebagai mahasiswa dan pelajar aktif, para pemenang ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus menunggu usia matang atau jabatan tinggi. Justru di tangan generasi muda, harapan dan perubahan menemukan rumahnya.
“Jangan berada di zona nyaman. Karena setiap detik adalah kesempatan untuk berdampak,” tutur Dafha.
Dafha yang dikenal energik dan penuh gagasan, memperkenalkan advokasi sosial bertajuk Tebak Indonesia, akronim dari Tebar Kebaikan Indonesia. Gerakan ini lahir dari keprihatinannya terhadap krisis pendidikan yang ia temui di salah satu desa binaan di Kabupaten Gowa. Akses ke sekolah sangat terbatas, bahkan harus menggunakan perahu yang memerlukan biaya tak sedikit.
“Anak-anak di sana bukan tak mau sekolah, tapi aksesnya nyaris mustahil. Maka kami hadir bukan sekadar memberi motivasi, tapi aksi nyata,” ujar Dafha.
Bersama rekan kampusnya, Dafha membentuk program edukatif dan motivatif, dari penyuluhan sampai ruang curhat digital. Ia juga menginisiasi forum suara publik yang membahas isu sosial terkini seperti kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
“Forum ini bukan sekadar diskusi, tapi ruang aman bagi mereka yang selama ini suaranya tak terdengar,” tambahnya.
Sedangkan Zaki menyoroti tantangan terbesar dalam gerakan sosial, yakni kurangnya kepercayaan publik terhadap pemuda. Namun ia percaya, inspirasi lahir dari aksi, bukan hanya kata-kata.
“People doubt words, but they trust actions. Maka kami buktikan advokasi itu bisa dijalankan lewat hal kecil, mulai dari menyumbang uang saku, sampai jadi telinga bagi yang ingin bicara,” jelas Zaki yang kerap turun langsung membina anak-anak di desa-desa.
Zaki juga mengampanyekan pentingnya literasi dan refleksi diri. “Sebelum menginspirasi orang lain, kita harus introspeksi, apakah kita sudah hidup sesuai nilai-nilai itu?” imbuhnya.
Berbeda dari dua rekannya, Fadli menekankan pentingnya karakter dalam menjalankan advokasi. “Advokasi bukan tentang seberapa pintar kita bicara, tapi seberapa sabar dan ikhlas kita menghadapi karakter orang yang berbeda-beda,” ujar mahasiswa yang juga aktif mengajar dan freelance di bidang keuangan ini.
Fadli aktif turun ke desa binaan di Kabupaten Bantaeng. Ia mengajak anak-anak belajar membaca, bermain gim edukatif, dan memahami literasi dasar. “Saya percaya bahwa perubahan dimulai dari anak-anak. Dan untuk itu, kita butuh konsistensi dan cinta,” ucapnya.
Ketiganya pun sepakat bahwa gelar “Putra Inspirasi” tak sekadar simbol. Ia adalah tanggung jawab. Maka mereka pun merancang kolaborasi untuk menyatukan tiga kekuatan: edukasi, advokasi, dan implementasi nyata.
“Banyak orang bisa bicara soal kebaikan, tapi tidak semua bergerak. Kami ingin menunjukkan bahwa inspirasi bisa lahir dari hal sederhana, selama dikerjakan bersama-sama,” kata mereka serempak.
Dengan pesan-pesan kuat yang mereka sampaikan di pengujung podcast, satu hal menjadi terang, yaitu menjadi inspiratif bukan soal usia atau popularitas, tapi soal keberanian untuk terus hadir di ruang sosial, di medan sunyi, dan di hati masyarakat.
“Jadilah manusia paling bermanfaat, walau hanya secuil beras yang kau beri itu bisa sangat berarti bagi orang lain,” tutup Dafha. (*)
