MAKASSAR, BKM–Politisi senior Partai Golkar Sulawesi Selatan, Armin Mustamin Toputiri, menyebut wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar sebagai sesuatu yang lumrah atau lazim dalam tradisi politik partai berlambang pohon beringin rindang.
Hal itu ia sampaikan menanggapi isu yang kembali menguat tentang kemungkinan Munaslub digelar untuk mengevaluasi kepemimpinan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia.
“Isu Munaslub itu lazim di Golkar. Tapi saya menduga ke depan akan makin marak, makin menguat. Karena arah pusaran politik nasional pun sedang berubah,”ujar Armin, Selasa (5/8).
Menurut Armin, dinamika itu mulai terlihat jelas sejak pemerintah menerbitkan abolisi terhadap Thomas Lembong dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto.
Isu Munaslub pun dinilai sebagai bagian dari respons terhadap perubahan-perubahan politik tersebut.
Ia menilai, keterpilihan Bahlil sebagai Ketum Golkar sendiri tidak lepas dari dukungan kekuasaan saat itu.
“Publik tahu lahirnya Bahlil dari Munaslub yang ‘dipaksakan’, sesuai selera penguasa. Itulah konsekuensi Golkar sebagai partai tanpa pemilik tunggal,”katanya.
Armin menambahkan, sejarah panjang Golkar menunjukkan bahwa posisi ketua umum kerap ditentukan lewat kompromi kekuasaan, meski secara formal dipilih oleh pemilik suara.
Karena itu, perubahan arah kekuasaan juga berpotensi mengubah arah partai.
“Golkar itu butuh kekuasaan, dan penguasa juga sangat butuh Golkar. Jadi kalau sekarang ada dorongan dari kekuasaan untuk Munaslub, ya itu bukan hal yang aneh dalam tradisi Golkar,” ucap mantan anggota DPRD Sulsel dua periode ini.
Meski demikian, Armin menilai hal ini juga jadi refleksi bahwa Golkar perlu kembali kepada prinsip demokrasi internal yang sehat.
Ia menyarankan agar dinamika partai tidak semata-mata ditentukan oleh kekuasaan, tetapi oleh kepentingan partai dan rakyat.
“Saya kira Munaslub bukan sesuatu yang tabu. Tapi jangan sampai hanya jadi alat tarik-menarik kuasa elite. Harus ada pertimbangan matang demi masa depan Golkar ke depan,” tutup Armin, yang juga dikenal sebagai pelukis dan pencipta karya seni “Demonstruk” yang sempat dihargai setara Rp100 juta itu. (jun/rif)
