SOPPENG, BKM — Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 114 Desa Belo, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng melaksanakan sosialisasi dan pelatihan pengolahan tepung mocaf di Balai Kemasyarakatan Desa Belo, Selasa (5/8/2025).
Mahasiswa melatih masyarakat tentang pemanfaatan tepung mocaf melalui inovasi cookies bekatul sebagai upaya diversifikasi produk pangan fungsional.
Peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga generasi muda yang memiliki minat tinggi terhadap inovasi pangan lokal sangat antusias mengikuti kegiatan ini.
Kordes KKN di Desa Belo, Muh Rizaldy Bakri mewakili rekan-rekannya mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya edukatif dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal menjadi produk pangan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai fungsional bagi kesehatan.
Mahasiswa KKN Unhas Desa Belo menekankan pentingnya menggali kekayaan lokal seperti singkong dan bekatul sebagai bahan baku utama yang mudah didapat, murah, namun kaya manfaat.
Menurut mereka, singkong selama ini telah menjadi bagian dari pangan alternatif masyarakat Indonesia, namun pemanfaatannya masih terbatas pada olahan tradisional.
Padahal, melalui proses fermentasi, singkong dapat diubah menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour), yaitu tepung bebas gluten yang lebih mudah dicerna, cocok sebagai alternatif bahan pangan fungsional.
Mahasiswa KKN menjelaskan, bekatul kulit ari beras yang sering dianggap limbah ternyata menyimpan kandungan gizi penting seperti serat pangan, vitamin B kompleks, dan antioksidan.
Mereka mengatakan, kombinasi antara mocaf dan bekatul kemudian diolah menjadi cookies bekatul, produk camilan sehat yang tidak hanya lezat tetapi juga bermanfaat dalam meningkatkan asupan serat, mendukung kesehatan pencernaan, dan membantu mengendalikan kadar gula darah.
Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung pembuatan cookies bekatul dengan menggunakan tepung mocaf.
Para peserta diajak memahami proses pengolahan yang benar, mulai dari pemilihan bahan, teknik pencampuran, hingga proses pemanggangan yang tepat untuk menjaga kandungan gizinya.
Selain praktik, peserta juga dibekali bahan bacaan berupa modul yang memuat resep-resep praktis, informasi kandungan gizi, manfaat kesehatan, dan panduan teknis pengolahan. Modul ini disusun untuk menjadi referensi berkelanjutan, agar masyarakat dapat mengembangkan sendiri olahan pangan lokal secara mandiri di rumah atau dalam skala usaha kecil.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat inovasi di tengah masyarakat, khususnya dalam upaya diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Dengan meningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokal, kegiatan ini turut mendukung upaya pembangunan ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga hingga komunitas desa.
Dan diharapkan juga melalui kegiatan ini, akan tumbuh kesadaran dan aksi nyata dari masyarakat dalam membangun sistem pangan lokal yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.(rls)

