Site icon Berita Kota Makassar

Putar Lagu Daerah, Royalti Dibayar Pemkot

MAKASSAR, BKM — Dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, sekaligus menyambut Hari Kebudayaan Nasional yang jatuh setiap 17 Oktober, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kebudayaan menggelar Festival Bulan Budaya.

Perayaan dimulai dengan ritual budaya bertajuk Appasili Ri’ Museum, Kamis (14/8).

Dihadiri Asisten III Bidang Administrasi Pemkot Makassar Firman Pagarra, Appasili dilakukan di Kantor Dinas Kebudayaan Kota Makassar.
Ritual ini adalah warisan leluhur yang sarat makna. Sebuah tradisi pembersihan diri, lingkungan, dan benda-benda bersejarah, dengan harapan membawa keberkahan, keselamatan, serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Ini juga menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, benda pusaka, dan kebudayaan yang telah membentuk identitas Makassar.

Sebelum ritual utama Appasili dimulai, dilakukan prosesi pembuka Apparuru Gandrang, yaitu penyucian alat musik seperti gendang dan perangkat lainnya.

Kemudian dilanjutkan dengan Tari Appalili’ Bala, sebuah tarian penolak bala yang menjadi penanda dimulainya ritual utama.
Para penari dari Makassar Performing Art Management membawa properti paddupang dan sulo langi’, simbol pengalihan energi negatif.

Ritual puncak Appasili Ri’ Museum digelar di Museum Kota Makassar, yang baru saja selesai direnovasi.

Appasili, bahasa Makassar yang berarti penyucian atau pembersihan, merupakan ritual adat suku Makassar yang bertujuan menolak bala dan memohon berkah.

Air suci yang diambil dari Sungai Tallo dan telah didoakan digunakan untuk memerciki area museum, dipimpin oleh sesepuh adat bersama perangkat budaya dan pemerintah kota. Mereka berkeliling museum sambil membacakan doa dan mantra, menyucikan ruang penyimpanan sejarah dari energi negatif masa lalu.

Museum bukan hanya bangunan, tapi jiwa dari peradaban kita. Appasili adalah bentuk syukur dan harapan agar tempat ini menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi generasi mendatang.

Ritual ini dipersembahkan oleh Lembaga Seni Budaya Batara Gowa, sebagai simbol kolaborasi antara komunitas seni, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga marwah budaya Makassar.

Tidak hanya budaya Makassar, tetapi Mecaru dalam agama Hindu Bali juga dilakukan dalam ritual budaya. Bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga merupakan manifestasi dari filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin hadir membuka perayaan dengan mengenakan jas tutup adat Bugis Makassar. Ia menendang bola takraw sebagai simbolisasi dimulainya perayaan Bulan Budaya dan Karnaval secara resmi.

Turut hadiri dalam acara tersebut Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa, jajaran Forkopimda, kepala SKPD, camat, lurah, tokoh adat, budayawan, seniman, serta komunitas budaya se-Kota Makassar.

Pada acara itu, Munafri menyampaikan Festival Bulan Budaya Kota Makassar akan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Makassar yang jatuh di setiap tanggal 1 April.

“Di setiap tanggal 1 April kita akan memperingati Hari kebudayaan di Kota Makassar dengan berbagai macam acara yang akan kita buat. Lalu untuk puncaknya, kita mengikuti peringatan Hari Budaya secara nasional pada 17 Oktober,” kata Munafri saat memberikan sambutan.

Munafri melanjutkan, sejalan dengan keinginannya menguatkan dan memperkaya wawasan kebudayaan masyarakat Kota Makassar, ia Meminta agar Dinas Kebudayaan menggelar kegiatan budaya selama sebulan menuju Hari Kebudayaan Nasional.

“Saya mau menuju ke 17 Oktober, dari 17 September sampai 17 Oktober, satu bulan full kegiatan budaya harus ada di Kota Makassar dan menjadi event tetap untuk bisa menghadirkan seluruh masyarakat dan bisa turut hadir menyaksikan,” tambahnya.

Selanjutnya, Munafri menekankan bahwa budaya, khususnya di Kota Makassar tidak boleh hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi harus menjadi karakter dalam kehidupan masyarakat.

Ia mendorong integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum pendidikan dasar, memperkenalkan aksara Lontara, corak kain sutra Bugis-Makassar, hingga mendorong setiap kantor pemerintahan dan sekolah menampilkan identitas budaya lokal.

Munafri berpesan agar melalui momen festival budaya ini, Pemkot Makassar dapat menggambarkan nilai persatuan diantara banyaknya perbedaan budaya di Kota Makassar.

“Di festival ini, kita tidak menonjolkan ragam budaya sebagai perbedaan, tapi sebaliknya. Jadikan perbedaan sebagai perekat persatuan” tegasnya.

Terakhir, ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus memutar lagu-lagu daerah di instansi pemerintah, sekolah, hingga acara publik, sebagai upaya memperkaya khazanah budaya, utamanya generasi muda di tengah kemajuan informasi dan teknologi.

“Kalau memang harus bayar royalti dari pemutaran lagu-lagu daerah itu, Pemkot akan siapkan dana untuk pembayarannya,” kata Appi
Ia berharap, Festival Bulan Budaya 2025 ini menjadi momentum memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Makassar, sekaligus menghidupkan sektor ekonomi kreatif melalui pariwisata budaya. (rhm)

Exit mobile version