Site icon Berita Kota Makassar

‎Datang Sendiri Tanpa Pengantar, Prof Iqbal Djawad Maju dengan Gagasan Maritim dan Budaya Akademik Mandiri

‎MAKASSAR, BKM– Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026–2030 menghadirkan dinamika menarik. Jika beberapa bakal calon tampil didampingi keluarga, sahabat, hingga kolega, maka Prof Ir Muh Iqbal Djawad, MSc., PhD memilih jalannya sendiri.

‎Ia hadir secara mandiri, menegaskan budaya akademik yang menurutnya harus dijunjung tinggi dalam setiap proses akademis di kampus.

“Banyak yang bertanya kenapa saya tidak membawa pendamping. Saya jawab, ini tradisi akademik dalam tradisi itu, kita hadir dengan mandiri, terbuka, dan apa adanya. Saya tidak ingin dianggap hebat, saya hanya ingin memperlihatkan budaya akademik yang seharusnya,” ungkapnya di ruang senat Rektorat Unhas, Kamis (28/8/2025).

‎Prof Iqbal menegaskan bahwa keputusannya maju bukan karena dorongan politik atau popularitas, melainkan panggilan nurani sebagai bagian dari civitas akademika.

Ia ingin berbuat sesuatu agar Unhas menjadi lebih baik, melanjutkan warisan pemimpin sebelumnya, sekaligus menegaskan identitas Unhas sebagai universitas maritim.

‎”Visi maritim itu bukan hal baru. Sejak Prof. Amiruddin menetapkan pola ilmiah pokok kelautan, hingga kini berevolusi menjadi visi maritim. Saya percaya Unhas harus menjadi poros pengetahuan dan inovasi maritim kepulauan dunia, dengan kepemimpinan berintegritas dan komitmen keberlanjutan,” jelasnya.

‎Perjalanan panjangnya mengabdi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, menjadi bekal berharga.

Lulus pada 1987, ia sempat bekerja di sektor swasta sebelum mendapat kesempatan melanjutkan studi ke Jepang selama delapan tahun. Ia kemudian menolak tawaran menjadi dosen di Malaysia karena merasa panggilan pengabdiannya ada di Unhas.

‎Pengalaman internasionalnya semakin lengkap saat ia dipercaya menjadi peneliti di Amerika Serikat, hingga menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Sekembalinya ke tanah air, ia mengemban amanah sebagai Direktur Hubungan Internasional Unhas serta Direktur Kemitraan Internasional.

‎”Karier saya tidak lepas dari Unhas dari sini saya ditempa, diberi kesempatan sekolah, lalu kembali mengabdi. Saya percaya perjalanan itu adalah amanah, dan kini saya ingin mengembalikan semuanya untuk kampus tercinta,” tuturnya.

‎Dalam visi-misinya, Prof Iqbal menekankan tiga hal utama transformasi budaya, yang dimana meneguhkan kembali tradisi akademik yang sehat, terbuka, dan bebas dari radikalisasi kepemimpinan. Kedua Konsistensi cita-cita setiap tindakan harus nyata dan berorientasi pada pencapaian reputasi internasional. Terakhir pendekatan strategis yang memastikan kebijakan membawa dampak nyata bagi sivitas akademika dan masyarakat luas.

‎Ia menegaskan bahwa pemilihan rektor bukanlah sekadar soal angka atau hitungan suara.

“Saya tidak menghitung siapa yang memilih saya yang penting gagasan ini tersampaikan. Kontestasi ini bukan soal kalah atau menang, tetapi bagaimana ide-ide bisa disinergikan untuk Unhas yang lebih baik,” tegasnya.

‎Prof Iqbal menambahkan, dunia akademik tidak boleh terjebak pada kuantitas semata, tetapi harus mengedepankan kualitas.

Ia mengingatkan bahwa Unhas sudah berada di jalur menuju universitas kelas dunia, tinggal memperkuat sinergi ide dan keberanian melakukan terobosan.

‎”Unhas sudah luar biasa. Iklim akademiknya terbuka, semua orang bisa mendaftar, semua orang bisa menyampaikan gagasan. Tinggal bagaimana kita bersama-sama menjaga arah itu agar tidak mundur ke belakang,” tutupnya.

‎Dengan rekam jejak internasional, komitmen maritim, dan tekad mempertahankan budaya akademik mandiri, Prof Iqbal Djawad tampil sebagai figur keempat sebagai bakal calon rektor unhas yang menawarkan konsistensi serta integritas di tengah kompetisi menuju kursi Rektor Unhas 2026–2030. (ita)

Exit mobile version