MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar bersama BPJS Ketenagakerjaan memastikan hak-hak almarhum Muhammad Akbar Basri atau Abay berupa santunan jaminan sosial terpenuhi. Wali Kota Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, dan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kota Sulawesi Maluku Mintje Wattu menyerahkan santunan senilai Rp 98.762.730 kepada keluarga almarhum, Senin 1 September 2025.
Adapun manfaat yang diterima keluarga berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) senilai Rp 94.000.000 dan Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp 4.762.730. Dengan demikian, total santunan yang akan dibayarkan kepada ahli waris berjumlah Rp 98.762.730. Bantuan ini diharapkan dapat menjadi dukungan nyata bagi keluarga yang ditinggalkan serta memastikan hak-hak almarhum sebagai peserta jaminan sosial tetap terpenuhi.
Santunan tersebut diserahkan langsung Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin kepada ibu yang didampingi saudara almarhum Abay.
Munafri menjelaskan, santunan ini bersumber dari jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan, berupa manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Hari Tua (JHT). “Ini adalah tanggung jawab pemerintah kepada masyarakat yang terdaftar sebagai peserta BPJS,” ujar Munafri.
Ia menegaskan, Pemkot Makassar akan terus mendorong agar semakin banyak masyarakat, khususnya pekerja rentan, terdaftar dalam program jaminan sosial ini. “Setiap tahun kita berharap semakin banyak saudara-saudara kita pekerja rentan yang terlindungi melalui program ini,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, pihak keluarga almarhum juga menyampaikan permohonan agar ada pengganti posisi Abay, mengingat ia merupakan tulang punggung keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Munafri menyebutkan bahwa penggantian langsung memang tidak diatur dalam regulasi. Namun, ia memastikan pemerintah akan memberi solusi. Nanti status pengganti akan dimasukan sebagai PJLP (Pekerja Jasa Lainnya Perorangan).
“Secara regulasi tidak ada pergantian langsung. Tapi Insyaallah di tempat lain, kami akan berupaya mengambil salah satu saudara almarhum untuk bisa ditempatkan sebagai tenaga pegawai di pemerintah. Nanti statusnya sebagai PJLP,” jelasnya.
Terkait korban lain dalam insiden kebakaran tersebut, orang nomor satu Kota Makassar itu menambahkan sebagian sudah keluar dari rumah sakit, sebagian masih menjalani pemulihan, dan ada yang menunggu proses penanganan lebih lanjut.
“Pada intinya semua korban akan dibantu Pemerintah Kota. Terutama saudara Budi yang masih dirawat di Primaya. Nanti kami akan terus update,” tutupnya.
Lanjutkan Perjuangan
Sementara itu, salah seorang kakak almarhum Abay, Muhammad Bahmid Basri mengatakan pihaknya sangat berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada salah satu anggota keluarga menggantikan posisi Abay, meski bukan di DPRD.
“Kami sangat berharap, walaupun di tempat lain. Kami ingin ada yang bisa melanjutkan perjuangan Abay,” ujar Bahmid.
Saat ini, Bahmid bekerja sebagai pengemudi ojek online. Satu saudara bekerja sebagai PNS di Kendari, dan satu lagi di MTC. Permintaan ini akan didiskusikan lebih lanjut dengan Pemerintah Kota Makassar.
Pada kesempatan itu, ia mengisahkan tragedi yang mengakibatkan sang adik bungsu menjadi salah satu korban.
Dia mengatakan, begitu mendengar informasi kalau gedung DPRD terbakar, sang ibu langsung menyuruhnya untuk ke DPRD mencari sang adik.
“Mama langsung bilang pergiko cari adekmu. Saya pun langsung ke Petta Rani. Suasana saat itu memang sangat mencekam,” bebernya.
Dia mengaku melihat sendiri massa sudah membakar dan menjarah barang-barang. Bahmid pun langsung mencari sang adik. Namun dia tidak menemukannya.
“Perasaanku sudah tidak enak. Saya yakin adikku terjebak di dalam. Saya bertanya sama orang di DPRD dan saya disuruh cari di rumah sakit,” tuturnya.
Dia pun menyisir lima rumah sakit namun sang adik tidak ditemukan. Mulai dari Grestelina, Primaya, dan beberapa rumah sakit lainnya.
Bahmid kembali lagi ke DPRD, dan menemukan ada jenazah yang dievakuasi. Ia melihat ciri-ciri yang mirip dengan Abay, namun tidak bisa langsung memastikan. Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi.
Abay adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ia tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya,sementara saudara lainnya telah berkeluarga. Sang ayah telah lama meninggal dunia. Menurut Bahmid, Abay belum menikah dan menjadi harapan besar keluarga.
Sang ibu pun mengenang momen terakhir bersama Abay. “Malam sebelum kejadian, Abay tiba-tiba memeluk ibu. Ibu sempat bertanya, kenapako peluk begitu, Nak?’ Abay hanya bilang, tidakji ma’. Bangunkan saya jam 10 pagi, mau kerja. Itu pelukan terakhirnya,” kata Bahmid. (rhm)
