Site icon Berita Kota Makassar

Sebelum Meninggal di Demo Makassar, Dandi Sempat Suapi Ibu Saat Makan

MAKASSAR, BKM — Aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Jumat 29 Agustus 2025 di Kota Makassar menyisakan duka mendalam. Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Dandy, berusia 26 tahun menjadi korban pengeroyokan massa karena diduga sebagai intel.

Akibat luka parah yang dialaminya, Dandy dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Kemenkes CPI Makassar. Jenazah almarhum kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Panaikang, Makassar pada Sabtu pagi 30 Agustus 2025, diiringi isak tangis keluarga, kerabat, dan rekan-rekannya.

Dandy diketahui telah bekerja sebagai ojol selama tujuh tahun, sejak masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Sosoknya dikenal baik di lingkungan keluarga maupun pertemanan.

“Sosok almarhum itu humanis, humble, gampang akrab, dan bukan pemarah. Intinya dia dikenal sangat baik sekali,” tutur Reza, adik ipar korban yang ditemui di rumah duka Lorong 501 Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Senin 1 September 2025.

Reza menuturkan, sebelum peristiwa nahas itu terjadi, Dandy sempat berpamitan untuk keluar rumah. “Sore itu dia minta izin untuk keluar nonton demo, tapi sempat dilarang Bapak. Dia lalu beralasan mau ke rumah tante. Kayaknya dia diajak temannya untuk menonton demo. Setelah kejadian, kami baru dapat kabar kalau dia masuk IGD sudah tidak sadarkan diri,” ungkapnya.

Menurut Reza, informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan bahwa Dandy mengalami kecelakaan. Namun keterangan tersebut kemudian terbantahkan setelah pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan medis.

“Saya ditelepon orang yang membawa Dandy ke rumah sakit sekitar jam delapan malam, katanya kecelakaan. Tapi setelah dicek dokter, hasil CT scan menunjukkan dia dikeroyok. Kami sempat heran, karena berita awal yang kami terima itu kecelakaan,” ujarnya.

Pihak keluarga juga menegaskan bahwa beberapa informasi yang beredar mengenai almarhum tidak benar. “Perlu kami luruskan, informasi yang menyebutkan bahwa Dandy kuliah itu tidak benar,” tambahnya.

Ia juga menceritakan beberapa tanda sebelum kepergian Dandy. “Sekitar pukul lima sore di hari kejadian, dia kirimkan video ke saya lewat WhatsApp, bilang jangan lewat jalan ini karena ada demo. Sebelum keluar, dia sempat mencuci motor lalu kuncinya diberikan ke Bapak. Sehari sebelumnya, dia juga menyuapi ibu saat makan. Mungkin itu salah satu tanda-tandanya, tapi kami tidak sadar,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kepergian Dandy meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. “Kami sekeluarga merasa kehilangan, bukan hanya kami, tapi juga warga di lorong dan teman-temannya. Dandy betul-betul dikenal sebagai sosok baik yang tidak pernah marah,” kata Reza.

Kini, keluarga korban berharap pihak berwenang dapat mengusut tuntas kasus pengeroyokan tersebut agar keadilan bagi Dandy dapat ditegakkan. (jar)

Exit mobile version