Site icon Berita Kota Makassar

Sidrap Sebagai Pusat Riset, Inovasi, dan Teknologi Pertanian Berbasis Keberlanjutan

SIDRAP, BKM–Politisi Nasdem selaku Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif, mengaku bila Pemerintah Kabupaten telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) sehingga sukses dalam swasembada beras.
Selain itu, Dinas Pertanian Sidrap menyebut, para petani di Bila Riawa kini telah memanfaatkan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan site-specific nutrient management yakni pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan pupuk dengan kondisi spesifik tanah di tiap petak sawah.

Hasilnya tak main-main: produktivitas meningkat hampir dua kali lipat dibanding capaian rata-rata Sulawesi Selatan, yang hanya sekitar 6,5 ton per hektare. Dengan harga gabah Rp6.800/kg, nilai ekonomi satu hektare lahan kini menembus Rp86,36 juta.
Pagi di Desa Bila Riawa, Kecamatan Dua Pitue, Sidrap, tampak cerah dengan udara lembap khas persawahan menyelimuti ratusan hektare padi yang mulai menguning, seolah bersiap menorehkan sejarah baru bagi dunia pertanian Indonesia. Selasa (2/9).

Inilah hari ketika Sidrap meneguhkan dirinya sebagai ikon pertanian modern dengan produktivitas padi mencapai 12,7 ton per hektare, angka fantastis yang jauh melampaui rata-rata nasional.
Tak heran jika senyum para petani begitu lebar. Hembusan angin sawah sore itu seperti membawa kabar baik yang sudah lama dinanti. Dari setiap batang padi yang dipanen, terasa ada kisah panjang tentang kerja keras, inovasi, dan keberanian untuk berubah.

Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa capaian ini bukanlah kebetulan. Ada proses panjang dan sistematis di baliknya.
“Keberhasilan ini bukan soal seberapa luas lahan kita, melainkan bagaimana kita mengelola setiap jengkalnya dengan presisi. Dari pemilihan varietas unggul, manajemen air berbasis irigasi berkelanjutan, hingga penggunaan pupuk berimbang sesuai kaidah agronomi. Semua dilakukan secara terukur,”ungkap Syaharuddin Alrif.

Panen raya di Bila Riawa berlangsung meriah. Musik tradisional mengalun di tengah hamparan sawah, sementara deretan mesin combine harvester menderu memotong batang padi dengan presisi. Para petani tampak sumringah memegang gabah hasil panen mereka, sebagian bahkan meneteskan air mata bahagia.
Di tengah keramaian, Syaharuddin yang pernah tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel ini tampak akrab menyapa petani satu per satu. “Kami ingin pemerintah hadir, bukan sekadar sebagai regulator, tapi sebagai mitra sejati petani,”ujar Syaharuddin Alrif yang juga Sekretaris DPW Nasdem Sulel ini.

Bagi petani seperti Abdul Rahman (48), capaian ini adalah buah dari keberanian mencoba hal baru. “Dulu kami hanya panen 6 ton per hektare. Sekarang lebih dari 12 ton. Semua karena penyuluh sering turun lapangan, ngajarin cara tanam yang lebih efisien,” katanya sambil menunjukkan gabah hasil panen.
Capaian Sidrap membawa pesan penting tentang ketahanan pangan nasional. Dalam visi pembangunan pertanian Sidrap, pemerintah daerah menargetkan wilayah ini menjadi pusat inovasi pertanian modern yang menjadi rujukan daerah lain.

“Sidrap tidak hanya ingin dikenal sebagai penghasil beras, tapi sebagai pusat riset, inovasi, dan teknologi pertanian berbasis keberlanjutan. Ini sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045,”tegas Syaharuddin.

Exit mobile version