MAKALE, BKM — Bupati Tator Zadrak Tombeg membuka secara resmi Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tana Toraja, di Aula Kantor Bupati, Sabtu (27/). Dalam sambutannya Zadrak mengaku prihatian dikeluarkannya dua guru terpencil di SDN 3 Mappak Matius Salasa dan Suriati Allobunga’ oleh pihak Dinas Pendidikan Tator sekaligus tidak menerima haknya selama bertugas di wilayah terpencil senilai Rp 19 juta sejak Juli 2024 lalu per orang.
Zadrak mengaku kecewa aas nasib dua orang guru di Tana Toraja datanya justru hilang dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Menurut Zadrak kejadian ini merupakan tantangan besar bagi PGRI yang memiliki visi memperjuangkan hak-hak para guru. Untuk itu perlunya komunikasi dan kolaborasi baik agar hal serupa tidak terjadi lagi kedepan.
“Kejadian ini cenderung merugikan anggota PGRI, dikomunikasikan dengan baik untuk nangkitkan semangat kinerja guru”, ujarnya.
Dijelaskan Zadrak, semua pihak sebaiknya menghindari kepentingan pribadi hingga tidak menyalurkan hak orang lain sehingga mengabaikan niat baik menolong teman sesama guru. Harusnya PGRI jelas Zadrak tampil terdepan menjadi organisasi profesi yang diandalkan ditengah para guru.
” Saya berharap kejadian sebelumnya menjadi cambyuk bagi guru sehingga kedepan kita berbenah menjadi organisasi profesi guru yang diandalkan, ”pungkas Zadrak.
Sebelumnya Ketua PGRI Tana Toraja, Andarias Lebang menegaskan, PGRI hadir sebagai garda terdepan menyelesaikan pendidikan di Tana Toraja. Inovasi menjadi kunci dedikasi dan integritas menjadi energi baru ditengah era digitalisasi saat ini.
Andarias mengajak anggota PGRI Tana Toraja menjadikan konkerkab bukan hanya sebatas laporan program kerja, tetapi menjadi titik tolak melipatkangandakan profesionalisme guru. “Tingkatkan kompetensi kita, Jadilah guru dibutuhkan kehadirannya, kata-tanya menginspirasi dan tindakannya menjadi teladan,” bebernya. (gus/D)

