DI ruang tamu sederhana sebuah rumah di Jalan Tanjung Dangkai No. 17, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, deretan piala berwarna emas tersusun rapi. Sinarnya memantul di dinding, seolah menjadi saksi perjalanan seorang gadis kecil bernama Andi Gizing Husniah Makmur atau yang akrab disapa Gina.
USIANYA baru menginjak 10 tahun, namun langkahnya di dunia modeling telah menorehkan sederet prestasi. Tahun 2025 menjadi catatan penting dalam hidup gadis kelahiran Makassar, 18 Agustus 2014 ini. Ia dinobatkan sebagai Model Berprestasi Sulawesi Selatan, sekaligus meraih gelar The Winner Putri Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Namun, di balik gemerlap panggung dan sorot lampu kamera, Gina membawa cerita yang jauh lebih dalam. Setiap langkahnya di atas catwalk adalah persembahan penuh cinta untuk sang ayah, Andi Makmur yang tengah berjuang melawan kelumpuhan.
“Bapak selalu bilang, Masyaallah, semangat terus ya Nak,” tutur Gina lirih, mengenang kalimat sederhana yang menjadi penguat semangatnya.
Gina tumbuh bersama ibunya Andi B Hasna, yang setia mendampingi dari balik panggung hingga ke ruang-ruang lomba. Sang ibu bukan hanya mendukung, tetapi juga mengambil peran ganda sebagai ayah sejak sang suami jatuh sakit.
“Saya ingin Gina percaya diri dan bisa membuktikan bahwa meski ayahnya sakit, anaknya tetap bisa sukses,” ungkap Hasna, matanya berkaca-kaca.
Walau sudah banyak merasakan panggung model, keseharian pelajar kelas lima SD Inpres Sambung Jawa I itu tetap sederhana. Sepulang sekolah, ia rajin mengaji di Masjid Al-Markaz, mengikuti lomba dai cilik, hingga membantu ibunya menjahit. Sesekali ia mengoper kain, belajar kecil-kecilan dari pekerjaan ibunya yang berprofesi sebagai penjahit.
Belajar Percaya Diri
Perjalanan Gina di dunia modeling dimulai sejak duduk di kelas 2 SD. Pertama kali ia tampil di panggung besar adalah pada F8 Makassar 2024. Sejak itu, keberaniannya semakin terasah. “Model itu mengajarkan sopan santun dan kepercayaan diri,” kata Gina polos.
Kini, dengan deretan piala yang sudah tak terhitung jumlahnya, ia mengakui dulu sering kesulitan melawan rasa malu. “Dulu saya tidak percaya diri. Tapi sekarang, Alhamdulillah sudah bisa,” tambahnya.
Meski telah menorehkan prestasi di panggung mode, cita-cita Gina tak berhenti di sana. Ia menyimpan impian menjadi dokter kecantikan. “Karena model juga harus cantik. Tapi cantik itu bukan dari wajah saja, melainkan dari akhlak,” ujarnya mantap.
Harapan itu mendapat restu penuh dari sang ibu. “Saya percaya Gina bisa meraih mimpinya. Yang penting tetap rendah hati dan menjaga akhlak,” ucap Hasna.
Bagi Gina, kebahagiaan terbesar bukan hanya saat menerima piala, melainkan saat bisa membuat ayahnya tersenyum. Meski tak bisa hadir di panggung karena sakit, sang ayah selalu memberi doa dan semangat. “Semoga Bapak cepat sembuh, agar bisa ikut lihat Gina lomba,” pinta Gina dengan suara pelan.
Di rumah itu, ibu menjadi penguat, ayah memberi doa, dan Gina terus melangkah dengan harapan. Piala-piala di ruang tamu bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan bukti bahwa cinta dan semangat bisa mengalahkan keterbatasan.
Kisah Gina bukan sekadar cerita seorang anak yang suka berlenggok di atas catwalk. Ini adalah kisah tentang keberanian, tentang cinta seorang anak kepada ayahnya, tentang keteguhan seorang ibu, dan tentang mimpi yang tumbuh di tengah ujian.
“Semoga ke depan Gina bisa lebih sukses lagi, agar orang tahu walaupun ayahnya sakit, anaknya tetap bisa membanggakan keluarga,” harap ibunya penuh doa.
Dari sudut kota Makassar, tepatnya di Tamalate, senyum kecil Gina menjadi cahaya harapan. Ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari rumah sederhana, menyinari langkah-langkahnya menuju masa depan yang gemilang. (*)
