Site icon Berita Kota Makassar

SDN KIP Barabaraya II Makassar, Percontohan Sekolah Hijau dan Disiplin

BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Dari sebuah lorong di Jalan Abu Bakar Lambogo, SDN KIP Barabaraya II menjelma menjadi sekolah percontohan Adiwiyata. Di balik itu, ada keteguhan seorang kepala sekolah, Hj Indarwati, yang menanamkan nilai kebersihan, kejujuran, dan kedisiplinan pada ratusan siswanya.

”Jangan lihat lorongnya, tapi lihat sekolahnya.” Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Hj. Indarwati, S.Pd., Kepala SDN KIP Barabaraya II.

Sekolah yang terletak di Lorong 10 Jalan Abu Bakar Lambogo ini mungkin terlihat sederhana dari luar. Namun, siapa sangka di balik gang sempit itu tersimpan inovasi besar dalam dunia pendidikan dasar: sekolah hijau, mandiri, dan berkarakter.

Berada di tengah lingkungan padat penduduk, SDN KIP Barabaraya II kini menjadi sekolah Adiwiyata unggulan di Kecamatan Makassar. Sejak dipimpin oleh Indrawati pada tahun 2016, sekolah ini berubah total. Dari yang awalnya belum dikenal menjadi sekolah percontohan kebersihan dan lingkungan berkelanjutan.

“Saya mulai dari nol. Semua yang ada di sini adalah hasil kerja keras bersama guru dan siswa selama sembilan tahun terakhir,” ujar Indarwati dalam wawancara untuk kanal Youtube BKM News, Kamis, 16 Oktober 2025.

Ketika pertama kali menjabat, Indarwati mengaku sekolahnya belum terdaftar sebagai sekolah Adiwiyata. Namun, melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, kini SDN KIP Barabaraya II telah menjadi sekolah Adiwiyata tingkat kota dan provinsi dengan nilai tertinggi, bahkan kini tengah bersiap menuju Adiwiyata Nasional.

Prestasi itu tidak datang secara instan. Bagi Indarwati, kunci utama keberhasilan adalah konsistensi. Setiap pagi sebelum jam 7 ia sudah berdiri di gerbang sekolah menyambut siswa. Setelah itu, berkeliling ke tiap kelas, memastikan tidak ada sudut yang luput dari perhatian.

“Saya tidak ingin guru atau siswa hanya rajin kalau tahu ada tim penilai datang. Kebersihan itu harus jadi kebiasaan, bukan sekadar formalitas,” tutur Indarwati ketika ditemui di sekolahnya.

Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar pernah melakukan kunjungan mendadak tanpa pemberitahuan. Hasilnya? Sekolah tetap bersih dan tertata.

“Itu bukti bahwa kami bekerja bukan karena disuruh, tapi karena sadar pentingnya menjaga lingkungan,” tambahnya.

Menanamkan Kejujuran di Kantin Mandiri

Salah satu inovasi menarik di sekolah ini adalah Kantin Mandiri, tempat siswa melayani diri mereka sendiri saat membeli makanan. Tidak ada penjaga kantin yang melayani.

Anak-anak menggunakan kartu nominal (Rp1.000–Rp5.000) sebagai alat transaksi. Mereka mengambil sendiri makanan sesuai harga dan menukarkannya dengan kartu.

“Tujuan kami menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran. Anak-anak belajar untuk antre dan bertanggung jawab atas pilihannya,” jelas Indarwati.

Selain itu, sekolah ini melarang penggunaan plastik sekali pakai. Semua siswa wajib membawa tumbler setiap hari. Bila lupa, mereka harus kembali ke rumah untuk mengambilnya. Kebijakan ketat ini sempat membuat siswa kesulitan di awal, tapi kini telah menjadi kebiasaan.

“Kalau tidak bawa tumbler, tidak boleh belanja di kantin. Kami ingin anak-anak sadar bahwa menjaga lingkungan dimulai dari diri sendiri,” terang Kepsek.

Upaya menjaga lingkungan tidak berhenti di situ. Setiap hari Sabtu, SDN KIP Barabaraya II punya program Sedekah Sampah. Anak-anak membawa botol atau plastik bekas dari rumah untuk dikumpulkan di sekolah. Sampah-sampah ini kemudian diolah kembali menjadi karya kreatif seperti pot bunga, jam dinding, tas, hingga hiasan kelas.

Di salah satu ruang daur ulang, berbagai karya siswa terpajang rapi. Ada tas dari pembungkus mi instan, pot dari gelas plastik, hingga hiasan warna-warni dari tutup botol.

“Semua ide muncul dari anak-anak. Guru hanya membimbing dan memberi arah. Kami ingin menumbuhkan kreativitas sekaligus tanggung jawab lingkungan,” ujar Indarwati bangga.

Produk-produk daur ulang itu bahkan kerap ditampilkan dalam pameran sekolah dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Tak heran, sekolah ini sering dikunjungi oleh peserta pelatihan calon kepala sekolah dari berbagai daerah, mulai dari Tana Toraja hingga Pangkep . Mereka belajar langsung tentang pengelolaan sekolah berbasis lingkungan.

Disiplin dan Berkarakter

Selain fokus pada lingkungan, SDN KIP Barabaraya II juga dikenal dengan disiplin tinggi. Setiap pagi, siswa wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengikuti kegiatan kebersihan kelas. Di setiap ruang kelas, terdapat pojok baca, galon air isi ulang, dan hiasan hasil karya siswa.

Tak hanya itu, sekolah ini juga membentuk tim Dokter Kecil. Tim ini merupakan sekelompok siswa terlatih yang sigap menolong teman-temannya saat upacara atau kegiatan sekolah.

“Kalau ada anak pingsan, yang turun bukan guru, tapi dokter kecil. Mereka tahu prosedur dan sudah terlatih,” tutur Indarwati sambil menunjukkan ruang UKS yang rapi dan lengkap.

Dengan jumlah siswa mencapai 315 anak, sekolah ini terus menyesuaikan diri dengan aturan baru dari Pemkot Makassar, termasuk pembatasan maksimal 28 siswa per kelas untuk menjaga kualitas pembelajaran.

Meski berada di lokasi yang sulit dijangkau, SDN KIP Barabaraya II justru menjadi bukti bahwa kualitas tidak ditentukan oleh letak sekolah, tetapi oleh komitmen dan kepemimpinan.

“Kadang orang enggan datang karena lorongnya sempit. Tapi saya selalu bilang, jangan lihat lorongnya, lihat
sekolahnya,” ucap Indarwati tersenyum.

Kini, sekolah ini menjadi kebanggaan warga Barabaraya, contoh nyata dari semangat gotong royong, disiplin, dan cinta lingkungan. Indarwati berharap pemerintah dan pejabat pendidikan lebih sering turun langsung melihat kerja nyata sekolah-sekolah di pelosok lorong, bukan hanya yang berada di jalan poros.

Menutup perbincangan, Indarwati menyampaikan harapannya agar semangat yang telah tumbuh di sekolahnya bisa terus hidup.

“Saya hanya ingin apa yang ada sekarang dipertahankan dan ditingkatkan. Saya bersyukur punya guru dan siswa yang luar biasa dalam menjaga kebersihan dan kerja sama,” ujarnya.

SDN KIP Barabaraya II adalah bukti bahwa sekolah kecil di lorong sempit bisa menjadi cahaya besar bagi pendidikan lingkungan di Makassar. Karena di sini, setiap anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar jujur, peduli, dan bertanggung jawab terhadap bumi yang mereka pijak. (*)

Exit mobile version