PROGRAM makan bergizi gratis (MBG) yang kini mulai dirasakan manfaatnya di berbagai daerah, sejatinya bukan hanya tentang memberi makanan kepada anak-anak sekolah. Jauh dari itu, program ini merupakan bentuk nyata investasi jangka panjang negara dalam membangun generasi unggul dan berdaya saing.
Selama ini, isu gizi kerap dipandang sebatas persoalan dapur rumah tangga. Padahal, di balik sepiring
makanan bergizi, tersimpan kunci untuk mencetak masa depan bangsa.
”Anak-anak yang mendapat asupan bergizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya tahan tubuh lebih kuat, serta potensi tumbuh kembang yang optimal. Di titik inilah peran program MBG menjadi sangat strategis,” ujar Nurul Inayah Dadi.
Namun, lanjut siswi SMKS Mutiara Ilmu Makassar itu, keberhasilan program ini tidak bisa diukur hanya dari jumlah makanan yang dibagikan setiap hari. Esensinya terletak pada bagaimana pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dapat saling bersinergi memastikan keberlanjutan dan kualitas pelaksanaannya.
Bila dikelola dengan baik, program ini dapat mendorong ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM pangan di sekitar sekolah. Bayangkan jika bahan baku makanan bergizi itu diperoleh dari hasil tani lokal, dikelola oleh dapur umum sekolah yang memberdayakan ibu-ibu sekitar, lalu disajikan kepada anak-anak setiap pagi. Siklus ekonomi yang tercipta akan menumbuhkan kemandirian dan memperkuat rasa gotong royong di masyarakat.
Dengan demikian, makan bergizi gratis seharusnya tidak berhenti sebagai agenda populis pemerintah semata. Program ini perlu dijaga, diawasi, dan dikembangkan menjadi gerakan bersama untuk menyiapkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter. Karena di setiap sendok nasi yang tersaji, tersimpan harapan besar bagi masa depan Indonesia yang lebih kuat. (jar)
