Site icon Berita Kota Makassar

Keluarga Terima Chat Sebelum TKI Asal Bulukumba Dibunuh di Malaysia

BULUKUMBA, BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Nasib malang dialami seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bulukumba bernama A Akmal (33). Ia diduga dibunuh di Malaysia. Keluaga korban meminta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Sarawak, Malaysia, untuk turun tangan mengusut tuntas kasus tersebut.

Ipar korban, Muhammad Isra (39), mengatakan bahwa kabar meninggalnya Akmal di perantauan sangat mengejutkan pihak keluarga. Sebab korban selama ini tidak pernah menderita penyakit yang serius.

“Kami menduga ada kejanggalan dengan meninggalnya Akmal di Malaysia. Makanya kami melayangkan laporan ke KJRI Kuching,” kata Muhammad Isra kepada wartawan di Bulukumba, Kamis, 6 November 2025.

Isra yang juga Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bulukumba, menegaskan KJRI tak boleh menutup mata. Ia berharap agar kasus ini bisa dibuka secara terang benderang.

“KJRI Kuching merupakan perwakilan negara Indonesia di Malaysia. Negara harus mampu melindungi seluruh warganya. Kami punya bukti yang kuat. Kami minta keadilan,” tegas Isra.

Menurut Isra, Akmal dalam kesehariannya bekerja di Ladang Citra Indah di Lapo Miri Malaysia. Ia mendapatkan informasi tersebut dari salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) yang aktif mendampingi TKI di Malaysia.

Lebih lanjut, Isra menceritakan awal mula menerima informasi kematian iparnya. Ia mengemukakan, informasi itu berawal dari pesan WhatsApp (WA) seorang perempuan berinisial NT yang merupakan orang dekat Akmal.

“Perempuan NT pertama kali chat. Katanya kondisi Akmal dalam bahaya. Nyawanya terancam. NT bilang tunggu kabarnya Akmal besok lusa. Ini chatnya pada Sabtu malam kemarin,” jelas Isra.

Berselang beberapa hari, pesan WA dari perempuan NT ini pun terbukti. Akhirnya pada Selasa, 4 November 2025, pihak keluarganya mendapatkan kabar duka atas meninggalnya Akmal dari seorang perempuan berinisial NI.

“NI inilah mandornya. NI yang membawa Akmal ke Malaysia. Kata NI memberi kabar, Akmal sudah meninggal dua hari lalu. Artinya, meninggalnya Akmal di hari Minggu. Persis seperti isi pesan WA dari NT,” ujar Isra.

Namun demikian, pihak keluarga Akmal semakin curiga. Adanya informasi serupa dari dua orang yang berbeda, ditambah lagi pihak keluarganya tidak memperoleh informasi utuh bukti jenazah Akmal, hingga di mana lokasi pemakamannya.

“Pihak keluarga kemudian mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut ke perempuan NT. Dia membenarkan bahwa Akmal sudah meninggal dan sudah dikuburkan,” ungkap Isra.

“NT kirim video proses penguburan jenazah, tapi jenazah itu tidak diketahui identitasnya. Tidak tampak wajahnya secara jelas, serta tidak ada identitas lainnya. Parahnya, tidak ada surat persetujuan penguburan dari keluarga, kalau memang betul Akmal yang dikuburkan,” sambungnya.

Dari informasi yang dihimpun, Akmal merupakan TKI yang tidak memiliki dokumen resmi. Sehingga keberangkatannya ke Negeri Jiran Malaysia tidaklah berdasarkan prosedural.

Sekjen Lidik Pro, Darwis ikut angkat bicara terkait masalah ini. Ia mendesak KJRI Kuching untuk mengusut tuntas kabar kematian Akmal yang dinilainya banyak kejanggalan, dan tidak terjebak dengan bahasa legal maupun ilegal.

Menurut Darwis, KJRI Kuching merupakan representasi perwakilan negara Indonesia di Malaysia. Dengan demikian maka KJRI harus hadir melindungi warganya.

“Yang pasti dia (Akmal) adalah warga negara Indonesia yang harus mendapatkan kepastian hukum di negara orang. Tidak ada alasan negara tidak hadir. KJRI merupakan perwakilan negara Indonesia di sana. Akmal ini adalah warga negara Indonesia. Jadi kami meminta KJRI untuk segera melakukan tindakan lebih lanjut mengenai kasus kematian Akmal,” jelasnya.

Selain itu, Darwis juga mendesak pertanggungjawaban dari agen atau mandor tersebut. Ia berpendapat, agen atau mandor diduga melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Ini sangat jelas mulai dia ngurusin orang, bawa orang ke sana. Tanpa dokumen resmi secara prosedural, itu jelas pelanggaran. Mandornya harus bertanggung jawab, mulai dari dia berangkat sampai dia dipekerjakan di sana,” tegas Darwis. (ful)

Exit mobile version