pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pakar Univeritas Pejuang RI Beberkan Modus Kekerasan Seksual Digital: Dari Revenge Porn hingga Double Victimization

KEAMANAN -- Dosen dan peneliti ilmu komunikasi Universitas Pejuang Republik Indonesia sekaligus Pandu Literasi Digital Komdigi Andi Asy’hary J. Arsyad membagikan pandangannya tentang pentingnya keamanan, etika, dan empati di ruang digital, Selasa (11/11).

BONE, BKM — Kasus kekerasan seksual berbasis elektronik kian marak di dunia maya, mulai dari penyebaran foto pribadi hingga video intim tanpa izin. Melihat fenomena ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui program Pandu Literasi Digital – Segmen Masyarakat Umum menggelar kegiatan edukatif bertema Aman Berdigital dan Melawan Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik’ (ITE) melalui zoom, Selasa (11/11).
Dosen dan peneliti ilmu komunikasi Universitas Pejuang Republik Indonesia sekaligus Pandu Literasi Digital Komdigi Andi Asy’hary J. Arsyad, Selasa (11/11) membagikan pandangannya tentang pentingnya keamanan, etika, dan empati di ruang digital. Asy’hary menjelaskan kekerasan seksual di ruang digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan relasi kuasa dan penyalahgunaan kepercayaan dalam hubungan personal.

“Banyak kasus berawal dari hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan perasaan cinta. Dalam relasi tersebut, sebagian pasangan terlibat dalam perilaku intim yang direkam atau disimpan sebagai bentuk kenangan pribadi. Ketika hubungan berakhir dan rekaman disebarkan tanpa izin, muncullah bentuk kekerasan yang dikenal sebagai revenge porn,” jelasnya.
Fenomena ini, menurut Asy’hary, tidak hanya melanggar privasi dan martabat korban, tetapi juga memunculkan dimensi baru yang disebut double victimization, yakni kondisi ketika korban mengalami kekerasan digital sekaligus menjadi sasaran penghakiman sosial. “Sering kali publik justru menyalahkan korban, seolah mereka pantas menerima akibat dari perbuatannya. Padahal, dari hasil penelitian kami, banyak perempuan berada dalam relasi yang tidak seimbang dan tertekan oleh kuasa pasangan yang mereka percayai,” ungkapnya.

Penjelasan ini merujuk pada hasil penelitian Andi yang telah dipresentasikan dalam The 5th ASPIKOM International Communication Conference (AICCON) 2025, berjudul “Trauma, Stigma, dan Perlawanan Perempuan dalam Kekerasan Digital Berbasis Gender.” Studi tersebut menunjukkan bahwa revenge porn bukan sekadar tindakan penyebaran konten pribadi, melainkan juga representasi dari ketimpangan kuasa yang terjadi dalam hubungan intim yang dilandasi kepercayaan dan kasih sayang.

Asy’hary menegaskan bahwa literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kesadaran moral dan empati. “Menolak kekerasan digital bukan berarti menghakimi korban. Kita perlu bersikap objektif, memahami konteksnya, dan tidak menambah beban psikologis mereka melalui komentar atau stigma di ruang publik,” katanya.
Dia menekankan pentingnya pendidikan nilai sejak dini, terutama bagi laki-laki, untuk menghormati perempuan dalam segala bentuk interaksi, termasuk di ruang digital. “Laki-laki perlu diajarkan untuk menghargai perempuan, baik dalam hubungan personal maupun sosial. Aman digital bukan hanya tentang melindungi data, tetapi juga tentang menghormati martabat dan batas pribadi orang lain,” tutupnya.
Melalui program Pandu Literasi Digital, Komdigi terus berupaya membangun ekosistem digital yang cerdas, aman, dan beretika. Dengan semangat #MakinCakapDigital, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk berinternet secara bijak, berempati, dan bertanggung jawab, sekaligus mewujudkan ruang digital yang lebih manusiawi dan bebas dari kekerasan berbasis gender. (rls)



×


Pakar Univeritas Pejuang RI Beberkan Modus Kekerasan Seksual Digital: Dari Revenge Porn hingga Double Victimization

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link