Site icon Berita Kota Makassar

Kisah Iptu Nasrullah, Polisi Penghafal Qur’an di Balik Penyelamatan Dramatis Bilqis

SUASANA Unit Reskrim Polsek Panakukang siang itu terasa berbeda. Di ruang kecil yang biasanya dipenuhi dokumen laporan dan rangkaian barang bukti, hadir seorang sosok yang belakangan ini menyita perhatian publik, Iptu Nasrullah.

Ia merupakan salah satu personel kepolisian yang terlibat langsung dalam drama penyelamatan Bilqis, bocah yang sempat dilaporkan hilang dan diduga menjadi korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang).

Di balik sorotan publik dan banjir apresiasi, Nasrullah duduk santai. Sederhana, kalem, dan jauh dari kesan seorang polisi yang baru saja menjalani operasi penuh risiko.

“Alhamdulillah, perasaan senang. Yang terpenting bagi saya, kejadian ini bisa memberi poin positif bagi institusi Polri,” ujarnya membuka percakapan.

Bagi Kanit Reskrim Polsek Panakkukang, Polrestabes Makassar ini, penyelamatan Bilqis bukan sekadar keberhasilan operasi, tetapi tantangan besar yang menyangkut nyawa anak kecil yang harus dijaga pada setiap detik keputusan.

“Kalau salah sedikit tindakan yang kami ambil, risikonya besar sekali untuk nyawanya Bilqis,” tuturnya.

Banyak yang tidak tahu, di balik karakternya yang tenang dan penuh empati, Nasrullah tumbuh sebagai santri. Ia lahir di Kecamatan Binamu, Kelurahan Balang, Kabupaten Jeneponto, sebuah daerah yang dikenal melahirkan orang-orang berkarakter kuat.

Namun ia tak lama tinggal di kampung halaman. “Sejak tamat SD saya sudah tinggalkan Jeneponto untuk sekolah di pesantren di Takalar. SMP sampai SMA semua di pondok, total enam tahun,” katanya.

Kariernya sebagai polisi bahkan tidak pernah direncanakannya. Ia justru sudah bersiap melanjutkan pendidikan agama ke Mesir dengan kesiapan bahasa, ilmu Qur’an, hadis, hingga nahwu-sharf. Namun takdir berkata lain.

Sebuah momen sederhana mengubah semuanya: seorang senior muncul di masjid pesantren memakai seragam Polri. “Saya pinjam bajunya, saya coba pakai… ternyata cocok juga,” kenangnya sambil tertawa.

Di situlah pintu baru terbuka. Ia pulang menemui orang tuanya untuk meminta izin mencoba daftar polisi, sebulan sebelum lulus SMA. “Alhamdulillah, langsung lulus di kesempatan pertama. Allah mengizinkan,” ungkapnya.

Dari Samapta, Keperawatan, Hingga Doktoral

Karier Nasrullah tidak instan. Ia memulai dinas pertamanya di Samapta Polda Sulsel, kemudian mendapat peluang kuliah D3 Keperawatan di Poltekkes Bhayangkara.

Sambil berdinas, ia terus menempa diri. S1 di Fakultas Ekonomi, S2 Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), , dan S3 Hukum di Universitas Hasanuddin, yang baru saja ia tuntaskan.

Di tengah perjalanan akademiknya, terbuka jalannya menuju dunia yang membuatnya jatuh cinta: Reserse Kriminal (Reskrim).

Ia sering membantu proses identifikasi di kamar mayat RS Bhayangkara, bekerja dekat dengan salah satu ahli forensik nasional dr Mauluddin, SPF. Dari sanalah rasa penasarannya pada kasus-kasus misterius tumbuh.

“Saya sering tanya anggota Reskrim, kasus apa yang belum terungkap? Dari situ kami mulai belajar cara membaca jejak, memetakan kejadian, mencari celah pengungkapan,” terangnya.

Dunia Reskrim baginya bukan pekerjaan, tetapi medan pencarian kebenaran. “Ini dunia yang penuh teka-teki. Kalau tidak punya rasa penasaran, kita cepat menyerah,” tuturnya.

Di balik karier yang keras, ada satu hal yang membuat banyak orang terkejut, Nasrullah adalah seorang penghafal Al-Qur’an.

Enam tahun di pesantren membentuknya menjadi pribadi religius, disiplin, dan sangat berhati-hati mengambil keputusan. Termasuk saat menangani kasus Bilqis.

“Tindakan kami kemarin ekstrem, memang. Tapi semua dilakukan dengan doa. Saya minta banyak doa kepada orang-orang, terutama orang tua,” ujarnya.

Dalam beberapa kesempatan, ia ikut mengingatkan orang tua agar tidak lalai menjaga anak. “Jangan sibuk main handphone sampai lupa memperhatikan anak. Fokus kepada anak adalah tanggung jawab besar,” imbuhnya.

Mendatangi TKP, Mengurai Teka Teki

Bicara soal tugas lapangan, Nasrullah sangat tegas: “Setiap kasus harus ditindaklanjuti secepatnya. Minimal ke TKP dulu. Karena 85 persen informasi penting itu adanya di TKP,” terangnya.

Pengalaman bertahun-tahun membuatnya paham bahwa momen pertama adalah kunci. “TKP itu berbicara. Kalau kita lambat, bukti hilang, jejak kabur,” ucapnya.

Pola pikir inilah yang membuatnya refleks bergerak cepat ketika masuk laporan hilangnya Bilqis. ”Ini bukan sekadar laporan kehilangan biasa. Ada hal-hal yang janggal sejak awal,” katanya.

Meski tidak membahas detail teknis penyelamatan karena merupakan bagian dari proses hukum, Nasrullah menegaskan betapa operasi ini penuh ketegangan. Timnya harus cepat, tapi harus sangat hati-hati. Salah sedikit, nyawa anak itu taruhannya.

Iptu Nasrullah mengungkapkan bahwa sebelum proses pencarian dan penyelamatan Bilqis dilakukan, dirinya sempat meminta doa kepada para alim ulama. Langkah itu ia lakukan sebagai bentuk ikhtiar batin, memohon agar upaya pencarian dipermudah dan diberi petunjuk yang tepat.

Menurutnya, restu dan doa dari para ulama menjadi penguat mental sekaligus pengingat bahwa tugas kemanusiaan seperti ini tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan keberkahan dari doa orang saleh. “Saya minta doa dulu ke alim ulama, supaya langkah kami dipermudah,” ujarnya.

Kepekaan spiritual itu kemudian beriringan dengan upaya lapangan yang cepat, hingga akhirnya Bilqis berhasil ditemukan dan diselamatkan dalam keadaan selamat.

Keberhasilan operasi ini membuat masyarakat Makassar memberikan apresiasi luar biasa. Balasan komentar dan pesan ucapan terima kasih membanjiri akun media sosial Polri. Namun Nasrullah tetap merendah.
“Ini bukan soal saya. Ini kerja tim. Yang penting, Bilqis selamat,” ucapnya.

Meski ramai disebut “polisi idaman”, “santri yang menyelamatkan anak”, bahkan “penerus polisi humanis”, Nasrullah tetap merasa dirinya hanyalah abdi negara biasa. “Saya hanya menjalankan tugas. Yang penting masyarakat aman,” begitu ujarnya.

Di akhir wawancara, ia menitip pesan kuat: “Tolong para orang tua jangan lalai. Jangan sampai anak-anaknya dibiarkan tanpa pengawasan karena sibuk main handphone atau ngobrol. Kasus seperti ini bisa terjadi kapan saja.”

Baginya, kejadian Bilqis harus menjadi peringatan bahwa keamanan anak bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama. (*)

Exit mobile version