MAKASSAR, BKM–Pengamat politik yang juga Direktur Profetik Institute Muhammad Asratillah merespons konstelasi calon Ketua DPW PKB Sulsel pada pelaksanaan Muswil yang sementara berjalan hingga hari ini, Selasa (9/12).
Asratillah mengemukakan bila kondisi saat ini memperlihatkan pola dukungan yang sangat terkonsentrasi kepada Azhar Arsyad sang petahana.
Hampir seluruh DPC yang bersuara di ruang publik menyatakan dukungan terbuka, menunjukkan bahwa figur Azhar telah menjadi pusat gravitasi politik internal PKB Sulsel.
Dalam konteks partai yang struktur pengambilan keputusannya berbasis kolektivitas DPC, kata Asratillah, dukungan mayoritas semacam ini biasanya cukup untuk mengindikasikan arah musyawarah, kecuali ada manuver besar yang datang dari level pusat.
Di sinilah dinamika politiknya menjadi menarik, bahwa formalisasi dukungan daerah tidak otomatis menjamin hasil akhir, tetapi menjadi fondasi psikologis penting dalam membaca arah keputusan.
Menurut dia, potensi aklamasi memang tampak kuat, namun tetap berada dalam bingkai aturan internal PKB yang memberi ruang bagi DPP untuk mengusulkan nama berbeda.
Dalam struktur partai modern di Indonesia, lanjut dia, klausul seperti ini dimaksudkan sebagai mekanisme keseimbangan, di mana daerah memiliki suara empiris, pusat memiliki pertimbangan strategis.
Olehnya jika pusat sejalan dengan aspirasi daerah, aklamasi bisa terjadi dengan sangat mulus. Sebaliknya, jika tidak bisa muncul skenario kompromi politik berupa paket kepemimpinan atau distribusi jabatan struktural yang lebih proporsional.
“Jadi, memastikan aklamasi sepenuhnya masih membutuhkan konfirmasi dari dinamika relasi DPC–DPW–DPP hingga detik terakhir Muswil,”kata Asratillah, Senin (8/12).
Pasalnya dukungan masif ini tidak hanya menunjukkan popularitas personal, tetapi juga stabilitas organisasi yang sedang dipertahankan oleh PKB.
Azhar, kata Asratillah, selama ini dianggap berhasil membangun kinerja elektoral, memperluas jaringan partai, dan menjaga kohesi struktur. Karena itu, bagi banyak DPC, mempertahankan kepemimpinan yang dianggap berhasil lebih rasional ketimbang membuka arena kontestasi yang berpotensi memecah energi internal.
Namun di balik permukaan dukungan itu, partai tetap memiliki kalkulasi jangka panjang, apakah figur yang sama mampu menjawab tantangan politik Sulsel yang akan semakin kompleks menjelang 2029.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai aklamasi bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi apa arah strategis PKB ke depan. “Jika Muswil berujung aklamasi, maka beban pembuktian ada pada Azhar untuk memastikan konsistensi kinerja dan pembaruan kader berjalan seimbang. Jika muncul nama lain dari pusat, itu berarti DPP sedang menguji elastisitas organisasi dan kesiapan PKB Sulsel menghadapi siklus politik berikutnya,”tambahnya.(jun/rif)
