Site icon Berita Kota Makassar

Program Pemberdayaan Dongkrak Nilai Jual Rumput Laut

MAROS, BKM — Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, memasuki babak baru.
Hal ini setelah sebuah program pemberdayaan yang digagas tim dosen Universitas Bosowa (Unibos) berhasil membawa perubahan signifikan dalam tata kelola produksi hingga pemasaran rumput laut.

Introduksi teknologi tepat guna berupa mesin press ball disebut menjadi titik balik yang mendongkrak nilai tambah produk rumput laut Gracilaria SP, komoditas unggulan desa tersebut. Selama bertahun-tahun, warga Ampekale menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut.
Data BPS Maros 2023 mencatat, 63 persen penduduk desa bekerja di sektor kelautan dan perikanan, dengan rumput laut sebagai sumber pendapatan utama.
Namun potensi besar ini belum optimal karena proses pascapanen yang masih tradisional membuat mutu produk tak stabil dan harga jual tetap rendah.
Situasi ini mendorong tim pengabdian yang dipimpin Lukman Baharuddin bersama Chalid Imran Musa Rampeng dan Anita Aqshary dari Unibos untuk merumuskan intervensi berbasis teknologi dan penguatan manajemen kelompok.

Selama ini, rumput laut hasil panen dari tambak dikeringkan secara manual dan dipadatkan dengan cara diinjak atau diberi pemberat batu. Metode ini mengakibatkan kadar air tidak seragam, bentuk tidak standar, serta tidak memenuhi kriteria ekspor yang mensyaratkan kadar air maksimal 35 persen.
”Dengan cara lama, hasilnya sangat bervariasi. Selain upaya fisiknya berat, kualitasnya tidak bisa diprediksi,” ujar Lukman.
Tidak adanya mesin press ball juga membuat petani hanya dapat menjual rumput laut dalam bentuk curah. Akibatnya, harga jual di tingkat petani hanya Rp6.500/kg, jauh di bawah harga ekspor yang bisa mencapai Rp8.500–Rp9.000/kg setelah dipadatkan.
Program pengabdian ini menyediakan mesin press ball bertekanan 3 sampai 5 ton per siklus. Mesin ini mampu memadatkan rumput laut menjadi bal standar ekspor.
Selain itu, tim Unibos juga memberikan pelatihan teknis pengoperasian mesin, pendampingan manajemen usaha, serta integrasi rantai pasok bersama mitra hilir, CV Anugerah Global Agriculture (AGA).

Dalam tiga siklus panen, dampaknya terlihat jelas. Mutu rumput laut meningkat signifikan. Kadar air yang sebelumnya rerata 28 persen turun menjadi 17 persen. Sementara densitas tiap bal naik dari 25 kg menjadi 40 kg. Produk menjadi lebih higienis, seragam, dan memenuhi standar industri.
”Dengan mesin press, waktu kerja lebih hemat, kualitas terjaga, dan petani bisa menegosiasikan kontrak dengan harga lebih baik,” kata Anita Aqshary, anggota tim program.

Peningkatan mutu ini langsung berimbas pada harga jual. Dalam waktu singkat, harga yang diterima petani naik dari Rp6.500 menjadi Rp8.500 per kilogram, atau meningkat sekitar 30 persen.
Kenaikan tersebut tercermin pada pendapatan anggota kelompok Cahaya Rumput Laut. Berdasarkan catatan keuangan kelompok, rata-rata pendapatan bersih bulanan meningkat dari Rp3,2 juta menjadi Rp4,6 juta per rumah tangga.

”Kenaikan pendapatan ini paling terasa di kebutuhan sekolah anak dan biaya kesehatan,”” ungkap salah seorang petani, seperti dikutip dalam laporan lapangan.
Salah satu perubahan terbesar terjadi pada efisiensi waktu dan tenaga.
Sebelum program, memadatkan 500 kg rumput laut membutuhkan 2–3 hari kerja. Dengan mesin press, proses yang sama kini hanya butuh 4–5 jam.
Seluruh tahapan pemadatan, pengikatan, dan pengepakan dilakukan lebih ringkas dengan mutu terjaga. (rif)

Exit mobile version