MAKASSAR, BKM–Pemerintah Kota Makassar, dan PT Nusantara Infrastructure Tbk Group menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait penanganan stunting pada Jumat (12/12), di Kantor Balai Kota Makassar.
Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama ini untuk pelaksanaan Program Nusantara Peduli Stunting (NPS) Fase II.
Penandatanganan dilakukan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Direktur Utama PT Nusantara Infrastructure Tbk, M. Ramdani Basri.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menuturkan, kerja sama ini menjadi momentum penting bagi Pemkot Makassar untuk memperkuat intervensi layanan kesehatan, edukasi gizi, serta dukungan lintas sektor, khususnya melalui keterlibatan dunia usaha.
“Kolaborasi dengan PT Nusantara Infrastructure, kami harapkan mampu memperluas jangkauan program dan menghadirkan dampak nyata bagi keluarga berisiko stunting di tingkat kelurahan,” ujarnya.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam menekan angka stunting melalui intervensi menyeluruh dan kolaborasi lintas sektor.
Wali Kota Makassar, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan PT Nusantara Infrastructure melalui program CSR yang dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap keberhasilan penurunan stunting tahun ini.
“Kehadiran Nusantara Infrastructure melalui pola CSR ini benar-benar memberikan manfaat. Terbukti tahun ini kita mengalami penurunan stunting hingga 4 persen, berkat komitmen bersama,” kata Munafri.
Pria yang akrab disapa Appi, kemudian mengapresiasi hasil program Nusantara Infrastructure pada fase pertama, di mana seluruh penerima manfaat berhasil keluar dari kategori stunting.
Program Nusantara Peduli Stunting Fase 1, dimulai sejak Oktober 2024, dengan penerima manfaat mencakup anak-anak di RW 3 Kelurahan Pannampu.
Seluruh anak dalam program tersebut dinyatakan telah keluar dari status stunting oleh dokter spesialis anak RS Hermina Makassar setelah menerima intervensi dan pendampingan intensif.
Direktur Utama PT Nusantara Infrastructure Tbk, M. Ramdani Basri, menyebut keberhasilan fase pertama menjadi fondasi penting bagi penguatan kolaborasi lintas sektor.
Ia berharap pelaksanaan Fase 2 dapat memberikan manfaat yang lebih luas serta menjadi model kolaborasi yang bisa direplikasi di daerah lain.
Pada Fase II, kata dia penerima manfaat program untuk kategori anak-anak bergeser ke RW 4 Kelurahan Pannampu.
“Sementara intervensi bagi ibu hamil difokuskan pada wilayah layanan Puskesmas Kaluku Bodoa,” tuturnya.
Dijelaskan, seluruh peserta program akan mendapatkan pendampingan intensif seperti sebelumnya, yang meliputi.
Selanjutnya, pemeriksaan kesehatan oleh dokter spesialis, edukasi gizi dan pola asuh. Kemudian, pemberian vitamin dan makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang berkala.
“Di fase kedua ini juga dilakukan pelatihan kader posyandu guna memperkuat kapasitas komunitas dalam melakukan edukasi kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang secara mandiri di masa depan,” ungkapnya.
Dengan MoU ini, pendekatan yang menggabungkan aspek medis, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat, Program Nusantara Peduli Stunting diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat Kota Makassar.
“Program ini tidak hanya berfokus menurunkan angka stunting, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas secara menyeluruh,” tutupnya.
Pada kesempatan tersebut, sejumlah peserta program menerima penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan mereka keluar dari status stunting.
Penghargaan ini diberikan kepada anak-anak dan keluarga penerima manfaat yang telah menunjukkan progres signifikan selama mengikuti serangkaian intervensi kesehatan, gizi, dan pendampingan intensif.
Penghargaan tersebut sekaligus menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam memastikan tumbuh kembang anak kembali berada pada jalur yang sehat. (rhm)
