SIDRAP, BKM — Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif menghadiri panen raya padi IP 300 di Desa Aka-Akae Kecamatan Watang Sidenreng, Selasa (23/12). Dengan kegiatan panen raya tersebut menunjukan
bahwa program Indeks Pertanaman (IP) 300 di Kabupaten Sidrap terus memperlihatkan capaian konkret di lapangan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan nyata Pemkab Sidrap terhadap program swasembada pangan nasional, sekaligus menegaskan komitmen daerah dalam mengoptimalkan potensi pertanian melalui pemanfaatan tiga musim tanam dalam setahun.
Bupati Syaharuddin Alrif dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan IP 300 tidak hanya berlangsung di Desa Aka-Akae, tetapi juga telah berjalan di sejumlah kecamatan lain, seperti Kulo, Pancarijang, dan Maritengngae. Ia mencontohkan hasil panen sebelumnya di Desa Mario yang mencapai 8,9 ton per hektare dengan harga gabah Rp7.000 per kilogram.
“Pemerintah Kabupaten Sidrap berkomitmen memanfaatkan seluruh musim tanam, baik MT 1, MT 2, maupun MT 3, untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tantangan di lapangan tidak menjadi penghalang selama lahan dikelola secara optimal,” tegasnya.
Syaharuddin juga memaparkan berbagai bentuk dukungan pemerintah daerah, mulai dari kelancaran distribusi pupuk, stabilisasi harga komoditas, hingga penguatan infrastruktur pertanian. Khusus di Desa Aka-Akae, dari total 1.027 hektare lahan sawah, terdapat 552 hektare yang menerima bantuan optimalisasi lahan nonrawa dengan nilai anggaran sekitar Rp3 miliar.

Bantuan tersebut mencakup pengeboran air untuk sawah nonirigasi, sebagai upaya menjamin ketersediaan air sepanjang musim tanam. Selain itu, Pemkab Sidrap juga mengalokasikan program listrik masuk sawah di Kecamatan Watang Sidenreng, yang mencakup hampir 3.000 hektare sawah tadah hujan dengan total anggaran sekitar Rp15 miliar, di mana porsi terbesar berada di Desa Aka-Akae.
Lebih lanjut, Pemkab Sidrap juga menyiapkan penguatan irigasi teknis, pembentukan brigade pangan, serta mendorong transformasi menuju pertanian berbasis teknologi. Target jangka panjangnya adalah menciptakan kemandirian air petani sebagai fondasi pertanian berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Desa Aka-Akae, Amiruddin, melaporkan bahwa pola tanam tiga kali setahun telah berjalan optimal di wilayahnya. Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas padi mencapai sekitar 7,2 ton per hektare.
Dia menegaskan bahwa Desa Aka-Akae tidak lagi memiliki ruang untuk percetakan sawah baru, sehingga penerapan IP 300 menjadi solusi strategis untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani.
“Selain padi, masyarakat juga mendapat dukungan program penanaman alpukat di pekarangan sebagai sumber tambahan ekonomi keluarga,” pungkasnya.
Kegiatan panen perdana IP 300 di Desa Aka-Akae dirangkaikan dengan penyerahan bibit alpukat dan benih padi kepada para petani sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. (ady/C)

