MAKASSAR, BKM–Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan yang dijadwalkan pekan ketiga Januari 2026 mendatang, peta dukungan internal mulai menghangat.
Arus sikap politik dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar kabupaten/kota dinilai menjadi faktor penentu yang tak bisa diabaikan dalam menentukan arah kepemimpinan Golkar Sulsel ke depan.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Andi Luhur Prianto, menilai dukungan dari tingkat daerah merupakan fondasi utama kekuatan partai.
Menurutnya, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar perlu memberi perhatian serius pada suara kader di akar rumput jika ingin menjaga soliditas dan keberlanjutan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.
Ia menegaskan bahwa DPD II bukan sekadar struktur pelengkap, melainkan mesin politik yang berhadapan langsung dengan realitas elektoral di lapangan.
“Aspirasi dari tingkat kabupaten dan kota, kata dia, memiliki nilai tawar politik yang besar dalam proses pengambilan keputusan, termasuk dalam menentukan figur pemimpin Golkar Sulsel,”jelas Dr Luhur, Minggu (28/12).
Meski mengakui bahwa sistem pengambilan keputusan di Partai Golkar bersifat sentralistik dan berada dalam ruang diskresi Ketua Umum, Andi Luhur menilai hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan suara kader di daerah. Aspirasi tersebut, menurutnya, harus tetap dibawa ke meja pusat dan dipertimbangkan secara sungguh-sungguh.
Ia juga menyoroti pentingnya pembaruan pola kepemimpinan Golkar Sulsel ke depan. Partai berlambang pohon beringin rindang itu, kata Andi Luhur, tidak bisa lagi bertumpu pada pendekatan elitis semata.
Justru dengan mendengar dan merespons kebutuhan kader di lapisan bawah, Golkar dapat memperkuat konsolidasi hingga tingkat desa.
“Golkar yang kuat bukan Golkar yang jauh dari kadernya. Perhatian pada aspirasi di lapisan kedua dan basis desa adalah kunci menjaga mesin partai tetap hidup,” ujarnya.
Terkait figur yang berpeluang memimpin Golkar Sulsel, Andi Luhur menyebut sejumlah nama memiliki potensi dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Tradisi kekaryaan yang mengakar kuat di tubuh Golkar membuat figur yang memiliki akses kekuasaan biasanya lebih diuntungkan,”katanya.
Baginya, yang paling penting bukan sekadar siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan tersebut mampu mengembalikan basis suara Golkar yang selama ini tergerus oleh partai lain.
Fokus memenangkan kembali persaingan politik ke depan, menurut Andi Luhur, seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam Musda mendatang. (jun/rif)

