pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Desa, Jantung Kehidupan yang Sederhana

Musawirah

KETIKA kita mendengar kata “Desa”, yang terbayang biasanya adalah hamparan sawah hijau, udara yang sejuk, dan suara ayam berkokok di pagi hari. Namun, desa sebenarnya lebih dari sekadar pemandangan indah. Desa adalah sebuah sistem kehidupan yang unik, hangat, dan sangat penting bagi kita semua.

Bila melihat pengertian desa yang terdapat di Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014, Desa adalah adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan setempat berdasarkan prakarsa, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa berfungsi sebagai unit pemerintahan terendah ujung tombak pembangunan dan pelayanan publik berbasis kearifan lokal. Desa adalah entitas otonom di tingkat paling bawah, yang punya kekuatan untuk mengatur dirinya sendiri, didasarkan pada tradisi dan keinginan warganya, serta berperan penting dalam pembangunan dari bawah (bottom-up).

Desa berbeda dengan kota yang warganya seringkali sibuk sendiri-sendiri. Kehidupan di desa sangat mengandalkan kebersamaan. Di desa, hukum adat dan tradisi biasanya masih dipegang teguh untuk mengatur kehidupan sehari-hari. Desa bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah pondasi bagi keberlangsungan hidup orang banyak, termasuk mereka yang tinggal di kota besar.

Siapa yang akan memberi makan kita dimasa depan?

Pertanyaan eksistensial bagi sebuah bangsa. Jika kita melihat data hari ini, jawabannya masih sama: Desa. Kota boleh maju dengan industri digitalnya, tetapi kota tidak bisa memproduksi kalori. Desa adalah satu-satunya tempat di mana keajaiban perubahan energi matahari menjadi butiran nasi terjadi. Desa menyimpan aset paling berharga di dunia, yaitu tanah. Tanpa hamparan sawah dan ladang di desa, ketahanan pangan sebuah negara akan rapuh karena harus bergantung pada impor (membeli dari negara lain). Desa memiliki kekayaan pangan lokal (sagu, jagung, umbi-umbian, sorgum). Di masa depan, ketika iklim semakin tak menentu dan padi sulit tumbuh, desa-desa inilah yang menyediakan alternatif pangan agar kita tidak kelaparan.

Desa sebagai penjaga kedaulatan pangan. Ini adalah fungsi paling dasar dan krusial dari desa. Tanpa desa yang produktif, sebuah negara akan mengalami krisis pangan. Hampir seluruh kebutuhan pokok manusia—beras, jagung, sayur-mayur, buah, daging, telur, dan susu—diproduksi di pedesaan. Kota adalah pusat konsumsi, sedangkan desa adalah pusat produksi. Gangguan di desa (seperti gagal panen) akan langsung menyebabkan inflasi (kenaikan harga) di kota. Untuk mendukung program pemerintah dalam hal swasembada pangan nasional serta meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pangan di desa, serta mendorong perputaran ekonomi lokal dan pendapatan masyarakat desa, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal mendorong penggunaan Dana Desa paling rendah sebesar 20% (dua puluh persen) dari dana desa untuk program ketahanan pangan di desa dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa, Badan Usaha Milik Desa bersama, atau kelembagaan ekonomi masyarakat di Desa. Hasilnya saat ini telah banyak desa-desa yang mampu mandiri dalam hal penyediaan pangan, kesejahteraan petani meningkat dan mampu mendukung program nasional lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan bahan baku yang dibutuhkan.

Desa juga berperan dalam hal menyediakan bahan baku untuk industry. Pabrik-pabrik di kawasan industri membutuhkan bahan mentah yang berasal dari desa. Contohnya: kayu untuk industri kertas/furnitur, karet untuk ban, kelapa sawit untuk minyak goreng dan kosmetik, hingga kapas untuk tekstil.

Desa mampu menggerakkan ekonomi mikro. UMKM di desa yang memproduksi kerajinan tangan, olahan makanan, atau batik turut menyumbang perputaran ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja mandiri.

Desa Sebagai Penyeimbang Ekologis – Sebagai Paru-Paru dan Spons

Jika kota sering dianggap sebagai mesin kemajuan ekonomi, maka desa adalah sistem pendingin yang menjaga bumi agar tidak rusak. Sebagai penyeimbang ekologis, desa memegang peran yang sangat krusial yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat perkotaan. Desa biasanya memiliki wilayah terbuka hijau yang jauh lebih luas daripada wilayah terbangun (beton/aspal). Peran lingkungannya sangat vital. Desa dapat berfungsi sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon. Pohon-pohon dan vegetasi di desa menyerap karbon dioksida (polusi) dan melepaskan oksigen segar. Ini membantu mengurangi dampak pemanasan global.

Desa sebagai konservasi air dan pencegah banjir. Tanah di desa berfungsi seperti spons raksasa. Saat hujan turun, tanah desa menyerap air ke dalam tanah (menjadi cadangan air tanah/sumur). Jika desa diubah menjadi beton (betonisasi berlebihan), air hujan akan langsung mengalir ke sungai dan menyebabkan banjir kiriman di daerah hilir (biasanya kota). Atau Ketika hutan di desa di eksploitasi secara besar-besaran tanpa pertimbangan, maka dampaknya akan sangat besar, bukan saja di desa tetapi juga di perkotaan.

Desa adalah benteng terakhir bagi ribuan spesies flora dan fauna. Banyak hewan (burung, serangga penyerbuk, hingga mamalia kecil) yang tidak bisa bertahan hidup di kota, menemukan rumah di desa. Desa menjaga berbagai jenis tanaman pangan dan obat-obatan yang mungkin sudah punah di tempat lain. Keanekaragaman ini sangat penting untuk riset medis dan ketahanan pangan masa depan. Desa, terutama yang berbatasan dengan hutan, adalah rumah bagi berbagai spesies hewan dan tanaman yang menjaga keseimbangan rantai makanan alam.

Desa Adalah Benteng Identitas Bangsa

Di tengah arus globalisasi yang membuat budaya kota menjadi seragam (homogen), desa adalah penjaga keaslian. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, musyawarah, dan toleransi masih dipraktikkan secara murni di desa. Ini adalah modal sosial yang menjaga kerukunan bangsa.
Desa sebagai benteng identitas menggambarkan bahwa desa adalah tempat di mana nilai-nilai asli, budaya, dan karakter dasar sebuah bangsa disimpan dan dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Mengapa desa disebut sebagai benteng? karena ketika gelombang globalisasi (budaya luar) masuk dengan sangat deras, desa adalah tempat terakhir yang mampu menyaring dan menahan pengaruh tersebut agar tidak menghancurkan akar budaya kita. Jika kota adalah wajah yang selalu bersolek mengikuti tren dunia, maka desa adalah jiwa yang menjaga jati diri asli kita tetap hidup.

Desa adalah pelestari bahasa ibu dan sastra lisan. Bahasa daerah adalah kekayaan identitas yang paling rentan punah. Di kota-kota besar, penggunaan bahasa daerah mulai luntur tergantikan oleh bahasa gaul atau bahasa asing. Desa menjadi laboratorium hidup yang menjaga kosa kata, dialek, dan peribahasa kuno tetap terdengar oleh generasi berikutnya.

Desa juga merupakan penjaga etika dan tata krama serta karakter bangsa. Budaya ketimuran kita sangat menjunjung tinggi sopan santun dan hormat kepada orang tua. Di desa, norma-norma ini masih sangat kental. Tradisi menyapa saat berpapasan, mencium tangan orang tua, atau musyawarah mufakat di balai desa. Desa menjadi tempat persemaian moral. Banyak orang kota kembali ke desa untuk mencharge kembali nilai-nilai kemanusiaan mereka yang mulai luntur akibat persaingan hidup di kota yang keras.

Menjaga desa bukan hanya soal membangun jembatan atau irigasi, tapi juga menjaga Jiwa Bangsa. Jika desa kehilangan identitasnya dan menjadi sama persis seperti kota, maka bangsa tersebut sedang kehilangan kepribadiannya.

Desa Sebagai Rem Penyangga Kestabilan Kota

Desa sebagai rem dan penyangga menggambarkan bahwa desa adalah penyeimbang agar kota tidak meledak atau runtuh karena beban yang terlalu berat. Tanpa desa yang stabil, kota-kota besar akan menghadapi kekacauan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Hubungan desa dan kota sangat erat. Desa yang kuat akan menyehatkan kota, begitu pula sebaliknya. Jika desa sejahtera dan memiliki lapangan kerja yang baik, warganya tidak perlu berbondong-bondong pindah ke kota untuk mencari nafkah. Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan masalah di kota, seperti kemacetan, munculnya kawasan kumuh, dan pengangguran.

Secara psikologis, desa menyediakan ruang bagi masyarakat kota untuk beristirahat dari tekanan hidup. Wisata desa menawarkan ketenangan yang penting untuk kesehatan mental masyarakat luas.
Demikian besarnya peran desa. Kota punya uang dan teknologi, Desa punya sumber daya dan ketenangan. Kota tidak bisa makan tanpa desa, dan desa bisa berkembang lebih cepat dengan teknologi dari kota.
Membangun desa bukan berarti kasihan pada orang desa, melainkan strategi mutlak untuk menyelamatkan masa depan bangsa secara keseluruhan.
Jadi siapa yang akan memberi makan kita? Jawabannya adalah masyarakat desa dengan sumberdaya desa. Masa depan pangan kita tidak ada di gedung pencakar langit di kota, melainkan di desa. Desa sebagai lumbung pangan nasional bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal kedaulatan. Bangsa yang tidak bisa memberi makan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang tidak merdeka sepenuhnya.

Menjaga desa agar tetap menjadi jantung kehidupan yang sederhana adalah tantangan besar di tengah arus modernisasi yang begitu cepat. Sederhana bukan berarti tertinggal atau miskin, melainkan sebuah gaya hidup yang seimbang, bermartabat, dan selaras dengan alam. Membangun desa bukan hanya tentang menyejahterakan orang desa, tapi juga tentang mengamankan masa depan orang kota. (rls)

Selamat Hari Desa Nasional
Bangun Desa, Bangun Indonesia
Desa Terdepan untuk Indonesia

Ditulis dalam rangka Hari Desa Nasional, 15 Januari 2026

Penulis: Musawirah

PSM Ahli Madya (Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal Makassar, Kemendesa PDT)



×


Desa, Jantung Kehidupan yang Sederhana

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link