Site icon Berita Kota Makassar

Gusdurian Makassar-Bawaslu Sulsel Urai Tantangan Gen Z

MAKASSAR, BKM–Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar diskusi strategis bertajuk “Bincang Demokrasi #1: Transformasi Demokrasi Era Digital: Peran dan Tantangan Gen Z”.
Kegiatan yang diinisiasi bersama dengan Gusdurian Makassar ini bertujuan memetakan peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi di tengah gempuran arus informasi digital yang semakin kompleks.

Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana Rusli, yang hadir sebagai keynote speaker, menekankan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam kendali demokrasi. Ia menyoroti bahwa intelektualisme harus menjadi fondasi utama, terutama bagi kaum perempuan.
“Generasi muda harus turun langsung memegang kendali demokrasi. Perempuan jangan hanya terlena dengan penampilan, tetapi harus mencerdaskan diri dan melatih intelektual agar mampu mentransformasi generasi mendatang melalui dialektika yang sehat,” tegas Mardiana saat membuka acara, Sabtu (31/1).
Anggota Bawaslu Sulsel, Alamsyah dalam kesempatannya membedah sejarah panjang kepemiluan di Indonesia yang kini telah memasuki edisi ke 13. Ia menyoroti tantangan nyata Bawaslu dalam menangani pelanggaran di ruang siber.

Alamsyah mengungkapkan bahwa digitalisasi laporan sering kali terkendala pada aspek pembuktian yang kurang rinci. Ia mencontohkan keberhasilan Bawaslu dalam melakukan take-down konten bermasalah di Parepare dan Luwu melalui koordinasi dengan Kominfo.
“Tantangan bersama kita adalah regulasi dan literasi. Gen Z yang lahir di era digital harus paham bahwa UU di setiap instansi terkadang memiliki irisan. Bawaslu terus berupaya adaptif, termasuk memahami fenomena Kotak/Kolom Kosong seperti di Maros untuk memastikan semua hak saksi terpenuhi,” papar Alamsyah.
Dr. Muh. Fachri Said, menyoroti dampak negatif banjir informasi terhadap kesehatan mental Gen Z. Ia mengamati adanya pergeseran pola konsumsi informasi dari durasi panjang ke short video yang membuat generasi muda malas memahami persoalan secara utuh.

“Dunia maya harus dianggap sama dengan dunia nyata. Etika digital kita masih minim filterisasi. Hukum hadir untuk melindungi hak anda, namun pengguna juga harus memiliki filter diri dalam menghadapi algoritma media sosial yang mendikte perilaku,” jelas Fachri.

Melengkapi diskusi, perwakilan komunitas Gusdurian, Faturrahman Marzuki dan Megawati, menekankan pentingnya nilai pluralisme dan gerakan organik. Megawati menepis anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang lemah dengan merujuk pada revolusi di Bangladesh yang digerakkan oleh anak muda melalui media sosial.
“Gen Z adalah penggerak organik. Baik buruknya sebuah sistem demokrasi sangat tergantung pada individu di dalamnya. Jika kita tertinggal dalam penguasaan media digital, tidak akan ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan ini,” pungkas Megawati. (rif)

Exit mobile version