GOWA, BKM — Syekh Yusuf Tuan Ta Salamaka adalah sosok pahlawan dalam syiar Islam di Indonesia hingga ke mancanegara. Nama Syekh Yusuf tidak hanya dikenal di negara republik ini tapi juga dikagumi masyarakat muslim di belahan dunia.
Salah satu yang menanamkan nama harum Syekh Yusuf adalah negara Afrika. Bahkan Presiden Nelson Mandela memberikan gelar kepahlawanan nasional kepada Syekh Yusuf di negaranya. Bahkan makam besar Syekh Yusuf kini ada di Cape Town, Afrika Selatan dan menjadi simbol kebesaran Islam di negara tersebut.
Atas kisah dan perjalanan syiar Islam hingga kepahlawanan Syekh Yusuf ini, Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) menggelar dialog dalam rangka peringatan 400 tahun Syekh Yusuf dan Unesco Anniversary yang berlangsung di Museum Istana Balla lompoa Sungguminasa pada Rabu siang (25/3).
Dialog ini dirangkai halal bihalal AMSY yang menghadirkan berbagai tokoh dan pemangku adat keluarga Kerajaan Gowa, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Majelis Taklim Permata, pemuda FKGP Sultan Hasanuddin dan berbagai tokoh masyarakat dan budayawan Gowa.
Dalam kesempatan itu Ketua Majelis Pemangku Adat Tinggi Kerajaan Gowa Andi Bau’ Malik Karaeng Ta Barangmamase mengatakan sangat mengapresiasi dialog budaya yang mengupas tentang Syekh Yusuf yang dilakukan AMSY tersebut.
Menurut Bau’ Malik, dirinya merasa bangga karena pemuda AMSY hadir mempertahankan adat budaya Gowa ke depan.
”Gowa beda dengan daerah lain di Sulsel. Gowa adalah daerah besar dan merupakan kerajaan terbesar di wilayah timur Indonesia bahkan dikenal luas di mancanegara. Ini adalah satu kebanggaan bagi kita semua. Semoga kita semua selalu dipersatukan oleh adat budaya kita orang Gowa,” ucap Bau’ Malik.
Dialog dan halal bihalal ini juga dihadiri Mayjen (purn) TNI Andi Muhammad Mappanyukki selaku Ketua DMI Sulsel. Sebagai keluarga besar dari keluarga Kerajaan Gowa, Bau’ Sawa (sapaan akrab Andi Muhammad Mappanyukki) mengaku sangat mengapresiasi kepahlawanan Syekh Yusuf dan juga bangga mengenang patriotisme Tuan Ta Salamaka ri Gowa tersebut.
”Bicara patriotisme itu bicara cinta tanah air dan rela berkorban. Syekh Yusuf lahir di abad ke-16 (1927). Perjuangan Syekh Yusuf diakui dunia dan kepala negara sekelas Nelson Mandela paling duluan memberi gelar pahlawan nasional kepada Syekh Yusuf. Kita sebagai orang Gowa patut berbangga,” kata mantan Pangdam XIV Hasanuddin ini.
Dialog dan halal bihalal yang diawali lantunan kisah Syekh Yusuf dari sebuah petikan dawai Sinrilik yang dimainkan oleh seniman Gowa Arief Rahman Dg Rate ini, diakui Bau’ Sawa untuk menjadi satu momen besar yang patut dikenang.
”Bukan Syekh Yusuf nya yang kita hidupkan tapi jiwa kepatriotisme dan kepahlawanannya Syekh Yusuf yang harus kita contoh. Perjalanan Syekh Yusuf di zamannya sungguh luar biasa. Nah, sebagai keturunan Syekh Yusuf, apa yg harus kita pedomani dari seorang ulama besar dunia ini. Apalagi kita tahu Syekh Yusuf adalah seorang yang istiqomah,” papar Mayjen (purn) Andi Muhammad Mappanyukki Bau’ Sawa ini di antara tokoh adat dan pemuda Gowa yang hadir diantaranya Andi Pangerang selaku Ketua Umum Forum Komunikasi Generasi Pelanjut Sultan Hasanuddin (FKGP), dan para tokoh agama dan tokoh masyarakat serta Generasi Muda Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.
Dalam dialog ini AMSY menghadirkan dua pembicara yakni Dr Adi Suryadi Culla (akademisi Unhas Makassar) dan Prof Wahyudin Halim (akademisi UIN Makassar).
Terpisah, Ketua Angkatan Muda Syekh Yusuf, Dr drg Arief Rosyid Hasan, mengatakan, kegiatan dialog ini sengaja digelar sebagai upaya menanamkan kembali patriotisme Syekh Yusuf pada diri anak muda apalagi zaman gadget saat ini.
Syekh Yusuf adalah tokoh nyata dan tokoh sejarah yang patut selalu ditanamkan pada diri masyarakat Gowa khususnya pada pemuda pemudi saat ini.
”Alasan kami menggelar dialog mengupas Syekh Yusuf ini agar pemuda masa kini tidak lupa siapa Syekh Yusuf dan patut pemuda tanamkan bahwa Syekh Yusuf adalah teladan menuntut ilmu. Ini harus menjadi warisan yang baik bagi generasi sekarang,” kata Arief Rosyid Hasan.
Dialog ini dibuka resmi Kadis Pariwisata Kabupaten Gowa, Ary Mahdi Aspari. Dikatakan Kadis Pariwisata, Gowa merupakan kabupaten yang memiliki pahlawan nasional yang namanya harum di dua negara yakni Indonesia dan Afrika.
”Di era sekarang kita sangat paham bahwa nilai-nilai yang dikembangkan Syekh Yusuf sangat besar. Alhamdulillah sekarang ini kita bisa nikmati hasil dan jasa dari Syekh Yusuf. Syekh Yusuf itu mendapatkan gelar kepahlawanan nasional dari Presiden RI Soeharto pada 1995. Gelar kepahlawanan ini menjadi dua setelah Presiden Afrika memberikan sebelumnya,” kata Kadis Pariwisata. (sar)

