BARRU, BKM — Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (10/6).
Kegiatan ini merupakan tekad Pemkab Barru untuk mengubah citra daerah dari sekadar wilayah persinggahan menjadi destinasi wisata unggulan mendapat respons positif dari Kementerian Pariwisata RI. Andi Ina didampingi Sekkab A Syarifuddin, Kadis Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan dan Olahraga, serta jajaran Pemkab Barru. Audiensi dimanfaatkan untuk memaparkan potensi, tantangan, serta arah pembangunan pariwisata Barru yang saat ini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa membuka pertemuan dengan menegaskan pentingnya promosi digital dalam memperkenalkan destinasi daerah. Bahkan, Kementerian Pariwisata saat ini tengah mengembangkan kecerdasan buatan (AI) bernama “Maya” yang akan menjadi asisten digital promosi pariwisata Indonesia.
Menurut Ni Luh Puspa, daerah dapat berperan aktif memasukkan informasi dan potensi wisatanya agar menjadi rekomendasi utama bagi wisatawan.
“Kalau nanti orang bertanya kepada Maya, ‘Kalau ke Sulawesi Selatan sebaiknya ke mana?’, kenapa tidak Barru yang muncul pertama? Ini yang harus kita dorong bersama. Daerah perlu aktif memberikan data dan informasi agar potensi wisatanya dikenal lebih luas,” ujar Wamen
Dia juga menekankan pentingnya penguatan event berbasis budaya dan kearifan lokal sebagai instrumen untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Dalam paparannya, Andi Ina menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun Barru identik sebagai daerah lintasan menuju Parepare maupun Toraja. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang ingin diubah melalui berbagai program pembangunan, termasuk penguatan sektor pariwisata.
“Ketika saya dilantik menjadi Bupati Barru, saya langsung menggaungkan tagline ‘Singgah di Barru’. Karena selama ini orang hanya melewati Barru tanpa berhenti. Padahal untuk membuat orang singgah, tentu kita harus menyiapkan alasan mengapa mereka harus berhenti dan menikmati Barru,” ujar Andi Ina.
Menurutnya, salah satu langkah awal yang dilakukan adalah membenahi wajah kota dan meningkatkan penerangan jalan. Ia mengungkapkan bahwa Barru dulu dikenal sebagai daerah yang gelap ketika malam hari sehingga tidak menarik bagi pengguna jalan untuk berhenti.
“Alhamdulillah sekarang Barru sudah jauh berbeda. Ketika orang melintas pada malam hari, mereka sudah bisa melihat wajah kota yang terang dan hidup. Ini langkah awal untuk membangun rasa penasaran dan ketertarikan masyarakat terhadap Barru,” katanya.
Dia menambahkan daerahnya memiliki keunggulan berupa konsep wisata tiga dimensi, yakni pegunungan, daratan dan laut yang tersebar merata di tujuh kecamatan. Keunggulan tersebut diperkuat dengan keberadaan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional GURILA (Gunung, Rimba, Lembah dan Laut) yang telah masuk dalam program perencanaan pembangunan nasional.
“Barru memiliki kekayaan alam yang lengkap. Kami punya pegunungan yang indah, kawasan lembah, hutan, hingga garis pantai sepanjang 78 kilometer. Potensi ini menjadi modal besar untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu destinasi yang mendapat perhatian khusus dalam audiensi tersebut adalah Pulau Panikiang di Kecamatan Balusu. Pulau ini memiliki keunikan berupa ekosistem mangrove yang menjadi habitat ribuan kelelawar dan burung bangau yang hidup berdampingan dalam satu kawasan. (udi/C)
