MAKASSAR, BKM – Fashion show yang digelar Rabu (24/6),hari ini merupakan ajang yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan IGS 2026.
Fashion show ini menghadirkan tiga desainer ternama, yakni De Rizki Yanto, Rama Dauhan, dan Didi Budiardjo.
Bagi Dekranasda Kota Makassar, fashion show ini bukan sekadar pertunjukan mode. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem tenun yang selama ini belum berkembang optimal di Kota Makassar.
Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, mengatakan Ketua Dekranasda Kota Makassar, Hj Melinda Aksa Munafri, memiliki perhatian besar terhadap pengembangan para perajin lokal. Salah satu fokus yang kini didorong adalah menghadirkan kembali gairah industri tenun di Makassar.
Menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan bahwa jumlah penenun asli Makassar masih sangat terbatas. Kare
na itu, Dekranasda menggagas program pengembangan tenun melalui kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) yang ditandai dengan penyelenggaraan fashion show tersebut.
“Tujuan utamanya tentu bagaimana para perajin tenun bisa kembali bergeliat dan memiliki peluang ekonomi yang lebih baik,” ujarnya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, tenun kerap dianggap sebagai produk yang kurang ekonomis dan hanya digunakan untuk kebutuhan adat atau acara seremonial tertentu. Pandangan inilah yang ingin diubah melalui kolaborasi antara Dekranasda dan CTI.
Wakil Ketua Harian Dekranasda Makassar, Dewi Andriani, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat membuka pendaftaran bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam pengembangan tenun. Dari sekitar 20 peserta yang mendaftar, hanya tujuh orang yang benar-benar memiliki kemampuan menenun.
Fakta tersebut menjadi gambaran bahwa regenerasi penenun masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Ini baru tahun pertama kerja sama kami dengan Cita Tenun Indonesia. Harapannya ke depan tenun di Makassar bisa berkembang seperti yang ada di Sengkang, Toraja, maupun daerah lain yang sudah lebih dulu dikenal sebagai sentra tenun,” kata Dewi.
Ia berharap kolaborasi ini dapat mendorong para perajin naik kelas sehingga produk-produk tenun lokal mampu menembus pasar nasional hingga tampil di panggung bergengsi seperti Jakarta Fashion Week.
Sementara itu, Project Officer Cita Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, menilai Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan teknik tenun yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diapresiasi masyarakat.
Karena itu, selain fashion show, CTI bersama Dekranasda juga menggelar workshop untuk memperkenalkan berbagai teknik tenun Nusantara, termasuk Sobbi, salah satu teknik tenun khas Bugis yang kini mulai jarang dikenal.
Menurut Syamsidar, nilai sebuah kain tenun tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada rantai panjang proses produksi yang melibatkan banyak orang.
“Dalam satu lembar kain tenun, ada puluhan orang yang mendapatkan penghasilan. Jadi ketika tenun dihargai, sesungguhnya kita sedang menjaga mata pencaharian masyarakat di desa sekaligus merawat warisan budaya,” jelasnya.
Menariknya, seluruh koleksi yang akan ditampilkan dalam fashion show IGS 2026 menggunakan kain Sobbi hasil karya para penenun Sengkang. Langkah ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa wastra Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk tampil di panggung mode yang lebih luas.
Desainer Rama Dauhan mengaku antusias menerima tantangan mengolah Tenun Sengkang menjadi karya yang lebih modern. Baginya, tenun tidak seharusnya hanya hadir dalam acara adat atau seremoni formal.
Ia ingin menunjukkan bahwa warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan tren fashion masa kini.
“Saya ingin tenun bisa dipakai sehari-hari, dikenal lebih luas, dan dilihat sebagai sesuatu yang relevan dengan perkembangan mode saat ini. Dengan begitu, para penenun juga bisa melihat peluang baru dan terus berinovasi,” ujarnya.
Melalui panggung fashion show IGS 2026, tenun tidak lagi sekadar kain tradisional. Ia hadir sebagai simbol kebanggaan budaya, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus bukti bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di tengah industri kreatif modern.
Dari Makassar, sebuah mimpi besar sedang dirajut. Bukan hanya tentang busana yang memukau di atas catwalk, melainkan tentang masa depan para penenun yang diharapkan kembali menemukan kejayaannya. (rhm)
