MAKASSAR, BKM – Rentetan peristiwa kematian yang terjadi di kamar kos maupun ruang privat di Kota Makassar menjadi perhatian publik. Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus ditemukan dengan latar belakang berbeda, mulai dari meninggal dunia karena faktor kesehatan hingga dugaan tindak kriminal.
Catatan sejumlah peristiwa menunjukkan, kamar kos yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru menjadi lokasi ditemukannya sejumlah korban.
Pada Rabu (13/5/2026), seorang pegawai studio foto berinisial KSR (24) asal Toraja Utara ditemukan meninggal dunia dalam kondisi membusuk di kamar kosnya di Jalan Tidung Mariolo, Kecamatan Rappocini, Makassar.
Selanjutnya, seorang perempuan berinisial MH (40) ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar hotel di Jalan Sungai Saddang, kawasan Jalan Pelita, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, pada Rabu malam (20/5/2026).
Kemudian pada Selasa (9/6/2026), seorang pria lanjut usia bernama Amin (70) ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya yang berada di Jalan Pampang 1 Lorong 6, Kelurahan Pampang, Makassar.
Kasus lain yang menyita perhatian publik terjadi di sebuah kamar indekos di Jalan Manuruki 6, Kecamatan Tamalate, pada Minggu malam (14/6/2026). Dalam peristiwa tersebut, seorang suami berinisial SU (21) diduga menggorok leher istrinya, ANA (24) hingga meninggal dunia.
Kasus dugaan pembunuhan kembali terjadi di kamar kos kawasan Jalan Telkomas, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Seorang sopir ekspedisi asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Andrerias Umbujala (54), ditemukan meninggal dunia pada Senin (6/7/2026). Korban diduga menjadi korban penganiayaan menggunakan cangkul.
Tidak berselang lama, publik kembali dikejutkan dengan kabar meninggalnya Andi Adilla Tri Putri Abram, putri ketiga aktivis senior Bulukumba Andi Baso Ryadi Mappasulle. Ia ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar kos di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Kota Makassar, pada Jumat (10/7/2026). Penyebab pasti kematiannya masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Melihat rentetan peristiwa tersebut, Psikolog Ahmad Ridfah mengatakan, setiap kasus harus dilihat secara hati-hati karena masing-masing memiliki latar belakang dan penyebab yang berbeda.
Ahmad Ridfah yang merupakan lulusan Magister Psikologi Profesi dengan peminatan Psikologi Klinis Dewasa Universitas Padjadjaran (Unpad) menilai, penyebab kematian dalam setiap peristiwa tetap harus berdasarkan hasil penyelidikan pihak berwenang.
“Dari sudut pandang psikologi, fenomena orang ditemukan meninggal di kamar kos perlu dilihat secara hati-hati. Penyebab kematian tentu harus dipastikan oleh pihak berwenang,” ujarnya kepada BKM saat diwawancarai pada Senin, (13/7).
Ia menjelaskan, kamar kos sering menjadi ruang yang sangat privat. Banyak penghuni kos yang tinggal sendiri, jauh dari keluarga, dan tidak selalu memiliki hubungan dekat dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.
“Dalam kondisi seperti itu, ketika seseorang mengalami masalah kesehatan, tekanan hidup, atau situasi berisiko, orang lain bisa saja terlambat mengetahui. Fenomena ini juga menjadi pengingat pentingnya kepedulian sosial,” jelasnya.
Menurutnya, kehidupan perkotaan juga dapat memengaruhi pola interaksi sosial masyarakat. Kesibukan pekerjaan, tekanan ekonomi, serta gaya hidup yang lebih individual terkadang membuat hubungan antarindividu semakin renggang.
Ahmad Ridfah yang sebelumnya menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Makassar (UNM) mengatakan, seseorang yang tinggal berdekatan belum tentu memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan sekitarnya.
“Kehidupan perkotaan sering membuat orang sibuk dengan urusan masing-masing. Relasi antar warga atau antar penghuni kos kadang tidak terlalu dekat, meskipun tinggal berdekatan,” katanya.
Ia menyebut, kesepian, tekanan hidup, serta minimnya dukungan sosial dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang.
“Ketika seseorang menghadapi masalah tetapi tidak memiliki tempat bercerita, beban yang dirasakan bisa terasa lebih berat. Dukungan sosial sangat penting karena dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dan lebih mampu menghadapi tekanan,” tuturnya.
Ahmad menjelaskan, krisis psikologis biasanya tidak muncul akibat satu faktor saja. Sejumlah persoalan seperti masalah ekonomi, pekerjaan, konflik keluarga, kehilangan orang terdekat, penyakit, hingga tekanan yang berlangsung lama dapat menjadi pemicu.
“Ketika beberapa masalah terjadi bersamaan dan seseorang merasa tidak memiliki dukungan, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa sangat terbebani,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitar. Beberapa tanda seseorang sedang mengalami tekanan psikologis berat dapat terlihat dari perubahan kebiasaan.
“Misalnya seseorang yang biasanya aktif menjadi lebih pendiam, sering mengurung diri, jarang merespons pesan, tampak murung, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, atau muncul ucapan merasa tidak berguna maupun tidak memiliki harapan,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan, tanda-tanda tersebut tidak selalu mudah dikenali karena sebagian orang tetap mampu terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.
“Ada orang yang tetap bekerja, tersenyum, atau berinteraksi seperti biasa, tetapi sebenarnya sedang menyimpan tekanan pribadi. Karena itu, jangan hanya menilai kondisi seseorang dari tampilan luarnya,” katanya.
Ahmad Ridfah mendorong lingkungan sekitar, termasuk pemilik kos dan penghuni lainnya, membangun kepedulian sosial tanpa mengganggu privasi.
“Hal sederhana seperti saling menyapa, memperhatikan jika ada penghuni yang lama tidak terlihat, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi sekitar dapat menjadi langkah penting,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat tidak terbiasa memendam masalah seorang diri. Menurutnya, meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
“Jika sedang mengalami tekanan, cobalah menghubungi orang yang dipercaya, baik keluarga, teman, konselor, psikolog, psikiater, maupun layanan kesehatan. Kadang langkah kecil seperti bercerita kepada orang yang tepat dapat membantu seseorang melihat masalah dengan lebih jernih,” pungkasnya.(jar)
