pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

86 Petani Terancam Gagal Panen

Imbas Kelangkaan Elpiji 3 Kg

GAGAL PANEN -- Kelangkaan gas elpiji 3 kg membuat para kelompok tani di Kecamatan Marioriawa khawatir. Bahkan sebanyak 86 petani terancam gagal panen.

SOPPENG, BKMM — Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram yang terjadi belakangan ini membuat para petani di Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng terancam gagal panen. Situasi ini memicu kekhawatiran dari para kelompok tani setempat.

Ketua Kelompok Tani Mappedeceng, Yunus U mengungkapkan kekhawatirannya kepada BKM, Kamis (16/7). Dia menjelaskan seluruh 86 anggota kelompok tani yang dipimpinnya sepenuhnya bergantung pada elpiji 3 kg untuk mengoperasikan pompa air pengairan sawah.

“Setiap petani menghabiskan tiga hingga empat tabung gas dalam sehari semalam. Jika dikalikan 86 anggota, kebutuhan kami mencapai setidaknya 258 tabung per hari—itu saat debit air sumur bor normal. Apalagi sekarang musim kemarau, air semakin menipis sehingga konsumsi gas bisa melonjak jadi 4 tabung per orang sehari,” jelas Yunus.

Dia menambahkan, alternatif lain menggunakan pompa berbahan bakar solar juga menemui jalan buntu karena BBM jenis ini pun sama sulitnya didapat. “Kami berharap pemerintah terkait segera mencarikan solusi agar kami bisa panen tanpa kendala. Saat ini tidak ada cara lain selain memompa air untuk menyelamatkan tanaman kami,” tegasnya.
Yunus juga menyoroti potensi sumber daya air yang sebenarnya melimpah di wilayahnya. “Kecamatan Marioriawa memiliki danau, sumber air ini seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal. Harus ada perhatian pemerintah agar air danau ini bisa mengalir ke lahan-lahan pertanian kami,” tambahnya.

Terpisah, Ketua Komunitas Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Marioriawa, Asmuri S.Pd, membenarkan bahwa penggunaan elpiji 3 kg untuk pompa air sudah menjadi kebiasaan umum petani di wilayah tersebut.
Menurut Asmuri, penurunan debit air juga terjadi pada Bendungan Latenreng yang menjadi tumpuan utama pengairan, sehingga memaksa petani beralih ke pompa mandiri. “Saya meminta petugas pengelola irigasi Latenreng mengatur pembagian air secara bergilir. Fokuskan ke satu lokasi terlebih dahulu, baru dialihkan ke lokasi berikutnya. Jika semua berebut sekaligus, air yang terbatas tidak akan pernah cukup,” sarannya.

Menyikapi kelangkaan elpiji, Asmuri mendesak pihak berwenang menambah jatah pasokan ke pangkalan penyalur, bukan justru menguranginya. Ia juga meminta pemerintah kembali menggelar operasi pasar seperti kebijakan sebelumnya agar harga dan ketersediaan elpiji 3 kg stabil dan terjangkau bagi petani.

Lanjut Asmuri jangan sampai terulang ada lagi warga yang meninggal gara gara berebutan air tutupnya.
Pelaksana Harian (PLH) Kepala Dinas Tanaman Pangan Hultikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Asis Dahlan saat dikonfirmasi BKM mengatakan terkait dengan tabung gas elpiji 3 kg itu rananya Koperindag namun jika menggunakan mesin pompa Air baik itu BBM Solar atau pun BBM Bensin kami dari pertanian memberikan rekomendasi kepada petani untuk membeli BBM di SPBU.

”Terkait dengan kelangkaan tabung elpiji 3 kg diminta kepada petani untuk yang memakai yang sewajarnya saja jangan sampai kebutuhan tabung gas untuk rumah tangga tidak terpenuhi,” pinta Azis.
Sekedar diketahui aturan ketat yang mengatur penggunaan gas elpiji 3 kg bersubsidi. Berdasarkan Peraturan Presiden dan Kementerian ESDM, petani yang berhak menggunakan gas elpiji 3 kg hanyalah petani sasaran.
Petani sasaran adalah petani yang telah menerima bantuan mesin pompa air dari pemerintah (paket konversi kit) dan memenuhi kriteria tertentu. Petani biasa atau petani yang memodifikasi sendiri mesin pompa airnya agar bisa memakai gas elpiji dilarang menggunakan gas melon. (ono/D)




×


86 Petani Terancam Gagal Panen

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link