BAGAI kata pepatah sudah jatuh ketimpa tangga pula. Setidaknya begitulah derita bagi para petani di Kabupaten Soppeng, tak terkecuali di Kecamatan Marioriawa. Belum selesai berjuang melawan kekeringan, kini mereka harus menanggung beban bertumpuk. Harga gas elpiji 3 kg melonjak tajam, stoknya pun sulit dicari hingga debit air sumur bor yang kian menipis.
Selama ini, tabung elpiji 3 kg menjadi bahan bakar utama untuk menjalankan mesin pompa air guna mengairi hamparan sawah. Namun belakangan ini, kondisi berubah drastis. Jika biasanya harga sesuai ketentuan, kini di pasaran harganya melonjak jauh lebih tinggi, bahkan seringkali sulit ditemukan meskipun petani bersedia membayar lebih mahal.
Kesulitan ini diperparah dengan menyusutnya debit air sumur bor yang selama ini menjadi tumpuan harapan. Akibat air yang makin sedikit, petani terpaksa memutar mesin pompa dengan kecepatan lebih tinggi agar air tetap bisa naik ke permukaan sawah. Efeknya, konsumsi gas pun ikut melonjak drastis. Dalam kurun waktu 24 jam, pasokan yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari, menghabiskan tiga tabung saja hasil air yang didapat jauh lebih sedikit dibanding masa normal.
“Kalau mesin dipelankan, air tidak naik. Kalau dipercepat, gas habis sangat cepat. Kami benar-benar terpojok, sudah susah cari air, gas mahal dan susah didapat pula,” ungkap salah satu petani di Kecamatan Marioriawa.
Para petani khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, biaya produksi akan membengkak tak terkendali dan berpotensi menurunkan hasil panen, bahkan risiko gagal panen terbuka lebar. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan, menjamin serta membantu menyediakan solusi sumber air agar tanaman padi tetap terselamatkan di tengah musim kemarau yang panjang ini ujarnya
Kordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP ) Kecamatan Marioriawa Wahyuni saat dikonfirmasi BKM, Selasa (21/7) menjelaskan untuk kecamatan Marioriawa luas yang terdampak Dampak Perubahan Iklim (DPI), mencapai 300 H. (ono/E)

