MAKASSAR, BKM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Makassar menggelar peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 sebagai momentum memperkuat komitmen terhadap demokrasi dan pendidikan politik bagi masyarakat. Rangkaian kegiatan akan berlangsung di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, Senin (27/7), dengan agenda diskusi publik, pameran foto, pertunjukan teatrikal, hingga malam renungan.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, Andi Suhada Sappaile mengatakan bahwa Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah politik nasional, tetapi menjadi simbol perjuangan rakyat dalam mempertahankan hak-hak demokrasi di tengah tekanan kekuasaan pada masa itu. Menurutnya, peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi yang dinikmati masyarakat saat ini lahir melalui proses panjang yang penuh pengorbanan dan keberanian.
“Tanggal 27 Juli bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah, peristiwa itu menjadi saksi bahwa demokrasi di negeri ini pernah menghadapi ujian yang sangat berat, banyak kader dan rakyat yang memilih tetap berdiri di atas prinsip ketika ruang demokrasi dipersempit. Karena itu, memperingati Kudatuli bukan untuk membuka kembali luka masa lalu, tetapi menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan mereka yang mempertahankan demokrasi, bangsa ini harus memiliki ingatan sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkapnya.
Ia mengatakan, demokrasi tidak cukup hanya dimaknai sebagai penyelenggaraan pemilu ataupun pergantian kekuasaan. Lebih dari itu, demokrasi merupakan jaminan atas kebebasan berpendapat, perlindungan hak-hak warga negara, serta penghormatan terhadap hukum dan konstitusi. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa kebebasan yang dirasakan hari ini merupakan hasil dari perjuangan panjang yang tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya.
“Generasi sekarang harus mengetahui bahwa demokrasi dibangun melalui proses yang panjang dan penuh pengorbanan, ada orang-orang yang berani mempertahankan keyakinannya ketika situasi politik tidak berpihak kepada mereka. Semangat itu harus diwariskan, bukan sekadar dikenang, sebab ketika sebuah bangsa kehilangan ingatan sejarahnya, maka bangsa itu akan kehilangan arah dalam membangun masa depannya,” tegasnya.

Anggota DPRD Makassar ini juga menambahkan, DPC PDI Perjuangan Kota Makassar ingin menjadikan peringatan Kudatuli sebagai ruang edukasi politik yang terbuka bagi masyarakat. Karena itu, berbagai kegiatan yang disiapkan diharapkan mampu menghadirkan diskusi kritis sekaligus refleksi mengenai pentingnya menjaga kehidupan demokrasi.
“Kami ingin peringatan ini menjadi ruang belajar bersama diskusi publik, pameran foto, pertunjukan teatrikal, hingga malam renungan merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan demokrasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Demokrasi harus terus dijaga melalui kesadaran kolektif bahwa kebebasan dan keadilan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, William Lauren mengaku persiapan peringatan 30 tahun Kudatuli juga menjadi momentum konsolidasi ideologis bagi seluruh kader partai agar tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu. Menurutnya, PDI Perjuangan memiliki tanggung jawab untuk memastikan sejarah perjuangan demokrasi tidak terputus dari generasi ke generasi.
“Kudatuli adalah bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia sekaligus sejarah perjuangan PDI Perjuangan. Karena itu, seluruh kader harus memahami bahwa perjuangan politik tidak hanya berbicara tentang kontestasi kekuasaan, tetapi juga bagaimana menjaga nilai-nilai demokrasi, keberanian menyampaikan kebenaran, serta keberpihakan kepada rakyat. Itulah semangat yang ingin terus kami hidupkan,” bebernya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama merawat demokrasi melalui dialog dan pendidikan politik yang sehat. “Kami mengundang kader, simpatisan, mahasiswa, aktivis, dan seluruh masyarakat Kota Makassar untuk hadir, ini bukan sekadar agenda internal partai, melainkan ruang refleksi kebangsaan agar masyarakat memahami perjalanan demokrasi Indonesia. Sejarah tidak boleh hanya menjadi cerita di buku, tetapi harus menjadi pelajaran yang membentuk karakter bangsa agar lebih demokratis, lebih menghargai perbedaan, dan lebih berani menjaga konstitusi,” ucapnya.
Anggota DPRD Makassar ini juga menuturkan bahwa demokrasi harus terus diperkuat melalui partisipasi masyarakat dan penghormatan terhadap sejarah. “Sejarah boleh berlalu, tetapi nilai perjuangannya tidak boleh padam, tugas generasi hari ini bukan hanya mengenang para pejuang demokrasi, melainkan melanjutkan cita-cita mereka dengan menjaga kebebasan, keadilan, dan keberanian menyuarakan kepentingan rakyat. Itulah makna sesungguhnya dari peringatan 30 tahun Kudatuli yang kami selenggarakan di Makassar,” tuturnya. (ita)

