GOWA, BKM — Orang bilang penyakit kusta itu adalah penyakit keturunan. Ternyata tidak bagi Ermawati. Gadis berusia 28 tahun warga Tangkebajeng, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa ini ternyata sempat shock berat ketika ternyata dirinya divonis terkena kusta pada pertengahan 2017. Vonis itu meluruhkan semangatnya.
Awal kisahnya, sejak tahun 2006 silam saat baru tamat SMP, Ermawati, merantau ke Kalimantan untuk bekerja. Virus kusta kemungkinan diperolehnya di Kalimantan.
“Saya tidak pernah percaya jika saya menderita kusta. Sebab tidak ada satupun keluarga saya yang mengalami kusta. Saya tidak kusta. Namun diagnosa dokter telah memvonis saya demikian. Saya pun akhirnya merasa terkucilkan. Saya merasa kecil, saya merasa tidak berguna dan saya merasa keluarga saya pasti jijik,” kata Ermawati.
“Tapi Alhamdulillah orangtua dan saudara-saudata saya tidak jijik. Hati saya agak nyaman karena keluarga tak menjauhi saya, namun tetaplah saya merasa terkucilkan karena itu saya menutup diri dan tidak bergaul,” beber Ermawati, bungsu dari empat bersaudara, putri dari Puli Dg Rate (50)- Salawati Dg Mami (almh).
Erma divonis kusta pada pertengahan 2017. Waktu itu, di seluruh tubuhnya muncul bisul kecil seperti jerawat dan bernanah.
“Saya kira itu hanya Puru (sakit cacar). Tapi kenapa ada puru bernanah dan sakit sekali. Saya sempat minum obat dan puru itu sempat berhenti namun tidak lama kemudian muncul lagi sampai akhirnya kulit saya mulai luka melepuh dan mulai terkelupas. Hampir satu tahun penyakit saya tambah parah. Saya tidak ke Puskesmas atau rumah sakit untuk berobat tapi saya hanya ke dukun. Tapi ternyata sakit saya tidak kunjung sembuh. Tidak lama kemudian datang ke rumah saya seorang dokter dan saya difoto. Saya tidak tahu kalau itu dokter kusta. Setelah difoto, dua hari kemudian saya dijemput dan dimasukkan ke rumah sakit kusta di Daya, Makassar tahun 2008. Saya dua bulan di sana. Semua badan saya diperban karena semua penuh luka,” kisah Erma.
Erma terisak mengisahkan deritanya di hadapan Yohei Sasakawa, Chairman The Nippon Foundation, Duta Goodwill Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penghapusan kusta dan duta besar Jepang untuk HAM yang terkena penyakit kusta saat berkunjung di Puskesmas Kanjilo, Kecamatan Barombong dalam rangka Ketuk Pintu TB (tuberculosis) dan Kusta dalam rangkaian TB Day 2018, Sabtu (17/3/2018).
Semua yang hadir mendengarkan testimoni Erma tentang kusta yang dialaminya, terharu hingga meneteskan air mata, termasuk Yohei Sasakawa.
Erma sempat diperban sampai tiga minggu. “Sakit sekali kalau perban saya dibuka. Saya akhirnya rajin minum obat lalu rajin berjemur matahari. Katanya, kuman mati kalau kena matahari. Karena saya telaten berobat, saya pun akhirnya divonis sembuh total pada akhir 2009. Tapi saya masih tetap terus rutin pengobatan dan dilarang makan makanan kecut dan dilarang begadang oleh dokter. Saya patuh dan alhamdulillah berkat saya patuh dan tidak menutup diri, saya bisa sembuh dari kusta ini. Beruntung saya tidak sampai cacat, padahal banyak sekali penderita kusta yang cacat setelahnya,” ungkap Erma.
Selama penyembuhan itu, Erma mengaku kerap masih mengalami reaksi kekustaan.
“Saya akhirnya mempelajari reaksi penyakit ini. Jika kembali ada reaksi saya mulai melakukan kepatuhan menjaga pola makan, pola tidur dan kebersihan diri. Bila reaksi itu terjadi, maka muncul kembali benjolan bernanah kecil tapi sakit sekali. Dengan mengatur pola makan tidur dan kebersihan serta rutin minum obat maka reaksi itu hilang dan sampai sekarang tidak lagi kurasakan. Dan alhamdulillah intetaksi saya dengan masyarakat sekitar kembali normal. Dulu saya dijauhi, dikucilkan orang. Hanya keluarga saya yang mendekat. Tapi sekarang saya dengan masyarakat lainnya sudah membaur,” jelas Erma. (saribulan)

