MAKASSAR, BKM–Hari buruh sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Mei juga mendapat perhatian dari calon Gubernur Sulsel nomor urut dua, Agus Arifin Nu’mang. Menurut Agus yang juga mantan Wakil Gubernur Sulsel dua periode, upah buruh di Sulsel, salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Agus mengatakan, di Sulsel, setiap tahun terjadi kenaikan upah bagi buruh. “Tahun ini saja, sudah Rp2,5 juta per bulan. Kita hanya di bawah Jakarta dan Manado,” serunya. Meski demikian lanjut Agus, tidak berarti, Pemprov Sulsel tidak memperhatikan kesejahteraan buruh. “Jika kami, saya dan Pak Tanribali terpilih nanti sebagi Gubernur dan Wakil Gubernur, tentu kesejahteraan menjadi hal utama,” lanjutnya.
Dalam program fokus tuntas Sulsel Bagus, dari sembilan poin yang ada, diantaranya menyebutkan, program pengentasan kemiskinan. Terkait isu yang ramai dibahas akhir-akhir ini, yaitu persoalan tenaga kerja asing (TKA), Agus meyakini tidak banyak TKA yang masuk ke Sulsel. TKA bekerja hanya pada sektor tertentu.
Dari data Dinas Tenaga Kerja Sulawesi Selatan, hingga triwulan I 2018, jumlah TKA yang bekerja di Sulsel sebanyak 581 orang. Asal TKA nya juga beragam, ada dari Tiongkok, Amerika, Brasil, Spanyol, Korea dan Jepang.
Jika Agus bicara soal buruh dan upah, maka calon Gubernur nomor urut empat Ichsan Yasin Limpo bicara dalam bahasa bugis ketika menyapa warga di Kabupaten Wajo. Sebelum bertolak ke Makassar setelah seharian berada di Wajo untuk sosialisasi dan kampanye tertutup, IYL menyempatkan mampir di kediaman timnya di Desa Ugi, Sabbangparu, Senin (30/4) malam.
Rupanya di tempat ini, ratusan warga menyambut pasangan Andi Mudzakkar (Cakka) ini. Ia rela menunggu kedatangan mantan Bupati Gowa dua periode tersebut begitu mengetahui jika ingin mampir untuk makan malam bersama rombongan.
Begitu tiba di desa yang kondisi jalannya berlubang tersebut, langsung menyapa dan menyalami warga sebelum menikmati hidangan khas Bugis yang disediakan tuan rumah.
Seperti biasa jika di malam hari, IYL tidak memberi sambutan, karena sudah melewati batas waktu kampanye. IYL lalu menghampiri sejumlah warga yang duduk di bawah tenda. Ia memilih berbaur di tengah ibu-ibu sambil duduk di tengah tengah warga.
Tak ada jarak dalam berkomunikasi. Semua mengalir secara alami. Apalagi, IYL menyapa dan berbincang dengan warga menggunakan bahasa Bugis.
“Madising-dising maneng muakki?,” tanya IYL dalam dialek bahasa Bugis yang langsung dijawab ibu-ibu. “Iye madising Pak,” jawab ibu separuh bayah.
Setelah itu, IYL yang memang ibunya merupakan asli Rappang, Sidrap, kemudian melanjutkan pertanyaannya. “Pura maneng muakki manre?,” tanya IYL lagi.
“Engka mato Ogi ku iyya. Pole Rappang,” tambah IYL yang datang didampingi istrinya Hj Novita Madonza Amu. (rif)

