GOWA, BKM — Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan mengupas tuntas inovasi Pemkab di bidang pendidikan mulaib dari A hingga Z. Penjelasan detil itu disampaikan Adnan saat menjadi pembicara dalam sarasehan yang berlangsung di Hotel Arthama Makassar, Senin (14/5/2018) siang.
Turut hadir sebagai pembicara lainnya, yakni Kadis Pendidikan Sulael, Irman Yasin Limpo dan Sekkab Takalar, Nirwan Nasrullah.
Dalam sarasehan yang dipandu Wakil Rektor II Unismuh, Andi Sukri Syamsuri ini selaku moderator dan diikuti sejumlah guru dari berbagai kabupaten/kota ini, Bupati Gowa Adnan membeberkan komitmen Pemkab Gowa terhadap pendidikan.
Dikatakan Adnan, bicara pendidikan berarti kita berbicara masa depan daerah.
“Pendidikan menjadi penting karena menjadi masa depan daerah kita. Pengembangan SDM barulah kita bisa lihat hasilnya pada 15-20 tahun kemudian. Beda jika kita berbicara infrastruktur dimana satu tahun kemudian kita sudah bisa menikmati mulusnya jalanan bahkan dua hari setelah pengaspalan,” kata Adnan.
“Makanya banyak bupati tidak mau berbicara pendidikan karena usia jabatan bupati hanya lima tahun dan paling lama 10 tahun sementara untuk melakukan pengembangan SDM (sektor pendidikan) itu baru bisa dilihat hasilnya pada 15-20 tahun kemudian,” urainya.
Di Sulsel, kata putra Ichsan Yasin Limpo ini, satu-satunya kabupaten yang eksis mengembangkan pendidikan mulai dari cetusan pendidikan gratis hingga inovasi pendidikan SKTB dan Imtaq Indonesia itu hanyalah Kabupaten Gowa.
“Saya sekarang tetap komitmen melanjutkan pengembangan pendidikan yang telah dikembangkan oleh pemerintah Gowa sebelumnya. Bagi saya, pendidikan itu bukan membentuk tapi menumbuhkan. Pendidikan itu saya ibaratkan sebagai biji. Biji sehebat apapun kualitasnya belum bisa dikatakan tumbuh jika dia tetap masih dalam bentuk biji sebab belum keluar batang daun dan buah atau bunga. Makanya biji itu harus ditanam di tempat yang subur. Kalau pun kita tanam biji itu di tanah tapi tidak subur maka hasil tanaman yang diproduksinya tidak akan berkualitas,” ucapnya dicermati serius peserta sarasehan.
Sarasehan pendidikan yang digelar IKA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar ini bertema “Kebijakan Pendidikan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di Era Revolusi Industri 4.0”.
Dari penjelasan Bupati Gowa, seorang peserta malah meminta Pemkab Gowa mengaktifkan sejumlah kebudayaan lokal anak-anak Gowa seperti a’lumpa-lumpa (permainan lompat-lompat) karena selain ada muatan edukasi karakter juga mengajar anak-anak untuk kompak dan jujur karena permainan ini diawali dengan bersyut untuk mengetahui siapa yang akan menjalankan permainan itu lebih dahulu.
Tentang beberapa usulan dari peserta, Bupati Adnan didampingi Kadis Pendidikan Gowa, Salam, mulai membahas kemungkinan akan dimarakkannya kembali dolanan atau permainan anak-anak di masa dulu seperti addende-dende, abboi, enggo, asing-asing, lambasena dan lainnya.
“Permainan yang sarat budaya lokal ini sangat bagus dikembangkan. Ini bisa menjadi satu edukasi bagi anak-anak kita untuk pengembangan karakter di usia dini,” timpalnya.
Hal ini katanya sama dengan program Imtaq Indonesa dengan menggantikan Calistung (baca tulis berhitung) pada kelas 1 dan 2 dengan mapel pembentukan karakter.
“Inilah revolusi pendidikan yang dibentuk Pemkab Gowa mulai pada anak-anak usia 0-8 tahun itu,” jelas Adnan. (saribulan)

