MAKASSAR, BKM — Bupati Pinrang, Andi Aslam Patonangi, SH., M.Si. meraih gelar Doktor di UNM dalam Ilmu Administrasi Publik. Promosi doktor ini dilaksanakan di Menara Phinisi UNM pada Selasa (15/5/2018).
Di sela-sela kesibukannya memimpin Kabupaten Pinrang, Andi Aslam masih menyempatkan diri menyelesaikan kuliah S3 nya di UNM. Lebih spesial lagi karena dirinya berhasil menyelesaikan program doktornya dengan predikat cumlaude.
Desertasi dengan judul “Model Perencanaan Pembangunan Partisipatif di Kabupaten Pinrang” ini membuat musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) menjadi lebih optimal dan akan berimplikasi terhadap suatu program yang bermanfaat untuk masyarakat.
Andi Aslam sengaja mengambil judul ini karena ia sadar dirinya adalah orang pemerintahan. Baginya orang pemerintahan itu harus memiliki perencanaan yang baik. Sehingga judul ini menjadi judul yang sangat bagus untuk diaplikasikan oleh dirinya, maupun saran bagi orang lain.
Andi Aslam mengungkapkan, sebelum melakukan musrenbang, akan dilakukan Forum Gruop Discussion (FGD) terlebih dahulu. Dengan ini, hasil perencanaan akan konkrit dengan kebutuhan. Sehingga tidak terjadi usulan yang besar dari rencana kerja daerah dan menyebabkan hal itu bisa lebih optimal.
“Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Dari hasil penelitian, lahirlah sebuah model konseptual untuk bisa diaplikasikan di pinrang,” sebutnya.
Dalam sidang yang dimulai pukul 10.00 Wita itu, para penguji memuji habis desertasi yang ia buat. Desertasinya dianggap memberikan solusi yang sangat baik.
Musrenbang yang selama ini dianggap tak terlalu banyak manfaatnya, kini bisa menjadi lebih optimal. Hal ini dikatakan langsung oleh salah satu penguji, Prof Jasruddin.
Penguji lainnya, Prof Andi Ikhsan pun berharap penelitian ini bisa diimplementasikan oleh pejabat-pejabat.
“Walaupun bupatinya nanti lain, dengan model ini diharapkan bisa memberikan pembangunan yang optimal,” kata Prof Andi Ikhsan.
Rektor UNM, Prof Husain Syam mengatakan jika Andi Aslam memang adalah seorang yang cerdas. Disela-sela dirinya menjadi seorang pejabat publik, namun masih bisa tetap memperhatikan pendidikannya.
“Beliau ini orang yang unik, sebagai pejabat publik, beliau masih bisa menyelesaikan program doktornya. Pengalamanbeliau juga sangat banyak. Waktu seminar internasional di Chicago beberapa saat lalu, saya lihat betul, beliau ini bisa menerapkan konsep kekinian dengan praktek di lapangan,” kata Prof Husain.
Di akhir sidang, ada tawaran menarik yang dikataan Prof Husain kepada Andi Aslam. Rektor UNM ini menawarkan Andi Aslam untuk bisa menjadi dosen setelah ia berhenti menjadi bupati kelak.
“Saya tahu Andi Aslam adalah orang yang cerdas, makanya saya mengundang beliau untuk membuktikan keilmuannya,” tambah Prof Husain.
Dan ternyata hal itu disambut baik oleh Andi Aslam. “Kalau saya di endrors, insya Allah iya, karena saya tak ada niat juga untuk lanjut di politik,” jawab Andi Aslam.
Hal ini pun seakan menjadi jawaban bahwa dirinya akan segera beralih profesi setelah selesai menjabat. Gelar Doktor yang diraihnya seperti menjadi jalan buat Andi Aslam melanjutkan karir di dunia pendidikan.
Selama menjabat sebagai bupati pun, Andi Aslam mengatakan jika dirinya tak memiliki hambatan dalam mengatur waktunya. Kuncinya sederhana.
“Kita mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita, itu saja,” jawabnya singkat.
Dengan berakhirnya promosi doktor ini, Andi Aslam pun berhak memakai gelar doktor di depan namanya.
“Kalau penelitian ini dilakukan, masyarakat pasti sangat aktif untuk ikut dalam proses perencanaan. Pelaksanaan program pun juga mereka merasa memiliki. Sehingga program-program yang dijalankan pemerintah akan lebih efektif,” tutupnya. (nugroho)

