MAMUJU, BKM — Stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Untuk Sulbar sendiri, persentase penyakit stroke cukup tinggi. Sehingga dibangun kerjasama dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON). Yaitu dengan membangun sistem, memperbaiki sumber daya manusia dan melengkapi sarana, prasarana dan alat kesehatan di rumah sakit.
”Saya harap kerjasama ini secepatnya diwujudkan. Kami sangat berkeinginan melihat masyarakat kita di Sulbar semua sehat, jadi kami terus memikirkan bagaimana percepatan-percepatan rumah sakit ini bisa menjadi BLUD. Untuk teknisnya akan diatur kepala dinas kesehatan dan direktur rumah sakit itu sendiri. Nantinya, sumber daya manusia yang telah mahir dan cakap di sini akan ke daerah-daerah juga untuk berbagi bersama tenaga medis yang ada di kabupaten. Jadi tahap per tahap,” kata Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar pada acara pertemuan Seminar Telusur dalam rangka persiapan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Barat di ruang rapat RS Regional, kemarin.
Ali Baal juga mengimbau manajemen rumah sakit untuk mengelola keuangan rumah sakit dengan baik. Juga, saling membantu mewujudkan keinginan bersama, saling pengertian atas masalah yang ada, profesionalisme dengan menggunakan asas pemerataan yang berkeadilan.
”Kami tidak akan meninggalkan rumah sakit ini sebelum bisa berdiri sendiri. Mari bersama-sama merawat dan mematangkan perencanaan rumah sakit menuju Sulbar yang maju. Setiap peralatan yang dibeli harus terkoordinasi dengan komite medik. Dokter juga harus menjelaskan dengan baik apa yang dibutuhkan. Untuk pengelola, tolong disaring betul petugas medis seperti perawat, bidan atau petugas yang lain untuk bekerja di sini. Jangan asal memilih,” tandasnya.
Direktur RSPON, Mursyid Bustami menyampaikan, RSPON sebagai pembina 144 rumah sakit di Indonesia termasuk RSUD regional dan RSUD Polewali menugaskan rumah sakit tersebut untuk meningkatkan layanan khusus penyakit stroke. Karena Sulbar termasuk lima besar dengan kejadian stroke terbanyak di Indonesia.
”Dari hasil telusuran kami, peralatan dan dokter sudah ada, perawat dan dokter lain juga sudah ada. Namun kita ingin membangun sebuah sistem. Kita harus melatih petugas disini agar betul-betul mahir menangani penyakit stroke, ini yang perlu dilakukan. Bagaimana Mekanismenya nanti kita atur dulu MoUnya bersama pak Gubernur. Entah itu mungkin kami kesini secara bertahap atau petugas disini yang akan ke Jakarta untuk dilatih secara bertahap juga,” ucap Mursyid.
Di tempat yang sama, Direktur RSUD Regional, drg Hartini mengatakan, pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka tindak lanjut pertemuan Gubernur Sulbar dengan pihak RSPON terhadap pengembangan layanan terpadu di RSUD Sulbar dan RSUD Polewali.
RSUD Sulbar sendiri mulai dioperasikan tahun 2009 dan sekarang telah ditetapkan sebagai rumah sakit tipe C serta dipersiapkan sebagai rumah sakit rujukan kelas B.
”Untuk dokter spesialis kedepannya kita harus tambah. Sedangkan untuk peningkatan perawat nanti akan dimagangkan di RSPON Jakarta. Hal inilah nantinya yang akan termuat dalam MoU kita. Mengenai pembiayaan, karena tahun anggaran 2018 kita belum anggarkan, jadi sebagiannya nanti akan masuk di APBD perubahan, tapi untuk percepatan peningkatan kapasitas harus dipercepat, tidak harus menunggu waktu. Tahun ini kita sudah harus memulai. Karena sarana kita sudah siap, sesuai hasil telusur direktur, sarana sudah bisa digunakan. Kami berharap, setelah kunjungan ini semoga layanan kedepan makin baik dan meningkat,” sebut Hartini.
Kepala Dinas Kesehatan Sulbar, dr Achmad Aziz juga menyampaikan, gubernur telah terlebih dahulu melakukan pembicaraan dengan memberikan bayangan situasi rumah sakit yang ada di Mamuju dan di Polewali kepada pihak RSPON.
Untuk itu gubernur meminta untuk dilakukan percepatan pembangunan yang digarap secara nasional. ”Dari hasil penelusuran rumah sakit yang ada di Polewali, peralatan sudah cukup memadai. Yang perlu diperhatikan adalah penataan ruangan. Sedangkan rumah sakit yang di Mamuju penataan ruangan sudah bagus dengan peralatan memadai, sekarang sesuai keinginan gubernur kita juga harus melengkapi penguatan sumber daya manusianya. Kita harus membangun efisiensi, jadi penderita stroke sudah tidak akan dirujuk ke Makassar lagi, tapi kita juga sudah bisa menanganinya,”tandas Achmad Azis. (ala/mir/c)
Sulbar Bangun Kerjasama RSPON
×

