MAKASSAR, BKM–Pemilihan anggota legislatif (Pileg) yang akan berlangsung 17 April 2019 mendatang menjadi perhatian para politisi perempuan yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) Sulsel.
KPP Sulsel bahkan tengah mempersiapkan strategi untuk mengisi gedung dewan dari dominasi politisi pria. Salah satu yang dilakukan oleh poltiisi “hawa” itu, yakni mengikuti Workshop Investasi Politik bertajuk “Strategi berpolitik biaya murah menangkan pemilu 2019”. Digelar di Gedung Tower DPRD Sulsel, Lantai 9, Kamis (2/8).
Ketua KPP Sulsel, Hj Rusni Kasman mengatakan tujuan kegiatan adalah sebagai upaya pembekalan strategi pemahaman kepada perempuan untuk menghadapi Pileg 2019 nanti.
“Hari ini, adalah langkah awal kita lakukan pembekalan strategi untuk Kaukus Perempuan Parlemen Sulawesi Selatan menghadapi Pileg,”ujar Rusni Kasman.
Dijelaskan bila Workshop ini terselenggara atas kerjasama KPP Sulsel bersama Sipil iInstitut Jakarta.
Kegiatan ini, kata dia. Menghadirikan pengurus Kaukus di 24 lintas parlemen se- Kabupaten kota di Sulsel.
Meski demikian, Rusni yang juga anggota Fraksi Golkar DPRD Sulsel dua periode menyadari bahwa perhelatan pemilu 2014 lalu. Ada tiga daerah di Sulsel minim perempuan duduk di kursi parlemen.
“Kita menghadirkan Kaukus 24 kabupaten kota Sekalipun. kita juga sadari bahwa masih ada 3 kabupaten, belum ada legislator perempuannya,” tuturnya.
Olehnya itu, dia berharap momentum Pileg tahun 2019 ada keterwakilan perempuan di semua tingkatan. Baik bertamba di tingkat Provinsi, dan terisi di tingkat Kabupaten kota yang masih kosong.
“Kita berharap nanti 2019 ini itu semua Kabupaten sudah ada keterwakilan perempuan yang paling tidak hari ini yang kita lakukan strategi dalam rangka terpilih itu ke depan itu 2019,”terangnya.
Tak hanya itu, sebagai perempuan ia meminta partai politik peserta Pemilu 2019 agar memenuhi kouta keterwakilan perempuan di setiap daerah pemilihan.
Persoalan ketimpangan gender tercermin jelas dalam rendahnya keterwakilan perempuan di struktur lembaga legistratif, sehingga tidak terepresentasi dalam parlemen. Proporsi perempuan di kursi DPR jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan proporsi laki-laki.
Dirinya menginginkan keterwakilan perempuan di parlemen dapat menduduki 30 persen dari kursi yang tersedia pada Pemilu 2019. Sebab selama ini masih terlihat kesenjangan yang cukup tinggi antara laki-laki dan perempuan.
“Artinya, tidak hanya sekedar memenuhi syarat partai, tapi kita mau itu terpenuhi 30 persen perempuan duduk di parlemen. Selama ini kan memang 30 persen perempuan direkrut masuk jadi Caleg saja, tapi kita mau minimal 30 persen itu terpilih juga,”pungkasnya. (rif)

