MAKASSAR, BKM — Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Soni Sumarsoni menilai Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) saat ini tidak lagi berperan secara maksimal. Indikatornya bisa dilihat dari masih banyak ditemukan warga khususnya balita yang kekurangan gizi di desa-desa.
Menurut Soni, sejak dulu peran dan fungsi Posyandu sangat penting bagi peningkatan kualitas kesehatan dan hidup masyarakat. Di sana ada sistem lima meja. Artinya, Posyandu sebagai tempat untuk pelayanan kesehatan, pelayanan ibu hamil, bayi dan balita, penyuluhan, hingga pada pemberian makanan tambahan kepada balita.
Ia menilai, khusus untuk program untuk
pemberian makanan bergizi kepada anak, dari tahun ke tahun semakin berkurang, bahkan ada yang tidak aktif, dan cenderung menghilang. Sehingga, berpengaruh terhadap pemenuhan gizi di Sulawesi Selatan.
“Namun saya melihat sekarang mulai menurun aktifitas Posyandu. Sehingga saya instruksikan melalui Hari Keluarga Nasional atau Harganas ini, mari kita lakukan revitalisasi Posyandu.
Kenapa banyak gizi buruk karena Posyandunya tidak berjalan,” ungkap Soni pada puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXV yang dirangkaikan dengan Pencanangan Baksos TNI KB-Kesehatan dan Bhayangkara KB-Kesehatan Tingkat Provinsi Sulawesi-Selatan Tahun 2018 di Taman Pakui Sayang, Senin (6/8)
Dia melanjutkan, aktivitas Posyandu juga dapat merefleksikan aktivitas PKK dengan banyaknya pengguna jasa yang datang.
“Mengukur kinerjanya, bagaimana bisa mengerakkan dan melibatkanpartisipasi masyarakat, lewat ukuran itu. Jadi tidak saja ukuran gizi bayi yang naik tapi juga partisipasinya bisa diukur,” ujarnya.
Dalam perevitalisasian posyandu ini, maka yang harus aktif adalah Puskesmas, KB, PKK dan bagian pemberdayaan masyarakat desa.
“Empat bagian ini harus bergandeng tangan satu dengan yang lainnya untuk mengaktifkan kembali posyandu,” harapnya.
Selain itu, dia menekankan jika Harganas untuk mengingatkan pentingnya investasi pada generasi penerus bangsa. Hal ini dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia ke depan.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk investasi peningkatan kualitas manusia dengan jalan ber KB.
Dengan jumlah anak yang sedikit, dua anak misalnya, maka orang tua dapat lebih fokus dalam membesarkan anak-anaknya.
“Pendidikan bisa lebih diperhatikan, nutrisinya bisa lebih diperhatikan, dibandingkan dengan banyak anak, 15 orang misalnya, ” sebut Soni.
Bukan hanya wanita, pria pun dianjurkan untuk KB melalui vasektomi.
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulsel, Rini Riatika Djohari menjelaskan pihaknya menargetkan hingga akhir tahun persentase pasangan usia subur yang menjadi peserta KB aktif mencapai 65 persen.
“Sampai saat ini kami jumlah peserta KB aktif Sulsel sudah mencapai 60 persen, kami optimistis targer tersebut bisa tercapai hingga akhir tahun,” kata Rini.
Hari Keluarga Nasional sendiri jatuh pada setiap tanggal 29 Juni, tahun ini puncak peringatan secara nasional dipusatkan di Kota Manado, Sulawesi Utara.
Dalam rangkaian Harganas, juga
dicanangkan Bakti Sosial TNI KB-Kesehatan dan Bhayangkara KB-Kesehatan sebagai wujud kerja sama lintas sektor dalam menyukseskan Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga. (rhm)
Soni: Posyandu Tidak Berperan Secara maksimal
×

