MAKASSAR, BKM–Pemilihan calon anggota legislatif Aprilo 2019 mendatang harus menjadi momentum politik bagi kaum perempuan untuk ikut tampil dalam kontestasi demokrasi lokal dan nasional.
Sesuai Daftar Calon Sementara (DCS) DPRD Sulsel, untuk Pemilu 2019, bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) yang menempati nomor urut satu kebanyakan diisi politisi perempuan. Untuk itu, para Bacaleg yang mendapat nomor urut teratas harus menyiapkan strategi khusus agar tidak ditumbangkan oleh Bacaleg yang mendapat nomor urut dibawah
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan dan Gender (P3KG) Unhas Makassar, Dr. Rabina Yunus, M.Si menyatakan, sebagai sesama kalangan perempuan. Dirinya dan lembaga yang dipimpin mendorong perempuan di Sulsel untuk maju bertarung di kursi legislatif 2019. “Momentum pileg harus bisa dimanfaatkan untuk membuka jalan lebih lebar bagi peran perempuan dalam kehidupan politik,”ujar Dr Rabinah Yunus, Rabu (22/8).
Seperti diketahui, dalam draf DCS yang telah diumumkan KPU Sulsel disejumlah media cetak dan elektronik sedikitnya 35 persen perempuan masuk yang tersebar di sebelas daerah pemilihan (Dapil). Oleh sebab itu, akademisi Unhas Makassar ini menilai. Hak tersebut merupakan langkah maju bagi generasi perempuan untuk bersaing dengan politisi pria.
Rabina menyebutkan, hadirnya perempuan di panggung politik caleg bukan hanya memenuhi kuota 30 persen, akan tetapi lebih dari itu. Yakni, punya strategi yang matang untuk meyakinkan masyarakat melalui visi-misi. “Jadi perempuan masuk caleg jangan hanya penuhi kuota 30 persen. Tapi harus punya strategi, visi-misi serta punya program haldal,” tuturnya.
Dia menambahakan, untuk merebut kursi parlemen di tinngkat lokal tak hanya mengandalakan satu daerah. Akan tetapi persaingan ketat sesama perempuan juga laki-laki. “Sehingga butuh strategi juga kemampuan untuk bersaing,”jelasnya.
Pengamat politik dari UIN Alaudin Makassar, Dr Firdaus Muhammad menambahkan bahwa bargaining politik perempuan cukup tinggi ditandai majunya sejumlah elite politik perempuan di Pilkada serentak 2018. “Di Makassar head to head dua politisi perempuan dalam posisi calon wakil wali kota cukup bersaing. Begitu juga di beberapa daerah di Sulsel, tentu. sangat berpeluang,” ujarnya.
Hal sama dikemukakan dosen politik Unibos Makassar, Dr Arief Wicaksono. Arief mengatakan hadirnya perempuan di kanca perpolitikan memberikan leluasa kepada publik bahwa kesetaraan gender sudah benar terwujud. “Menurut saya, sudah bagus sekali itu, dan sudah banyak para perempuan yang maju dan bahkan menang dalam kontestasi demokrasi seperti pilkada,” katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia. Isu gender memang kerapkali menjadi isu yang seksi, sekaligus sensitif, bagi para perempuan yang maju di pilkada. Tapi, substansi yang sebenarnya adalah persamaan hak dalam berpolitik.”Isu gender itu substansinya kesetaraan, persamaan hak. Isu itu dapat menjawab situasi dan kondisi perpolitikan kita yang dari dulu sangat dominan maskulinitasnya,” pungkasnya.
Seperti diketahui, ada beberapa bacaleg perempuan yang menempati nomor urut satu yakni Andi Rachmatika Dewi dari Nasdem, Sri Rahmi dari PKS dan Nurkanita Maruddani dari PAN di Dapil I Sulsel.
Di Dapil II Sulsel yakni Indira Mulyasari Paramastuti dari Nasdem, Hj. Bonita Latief Usman dari PKB, Susy Smita Pattisahusiw dari PKS dan Mulyati dari PKPI. Untuk Dapl III terdapat dua nama yakni Nur Idayanti Mas dari PSI dan Zuzanna kaharuddin dari PKPI.
Di Dapil IV Sulsel juga terdapat tiga Bacaleg perempuan masing-masing Vonny Ameliani Suardi dari Partai Gerindra, Na’mah Abbas dari Partai Nasdem dan Nurul Fatwah dari Partai Garuda. (rif)
Bacaleg Nomor Satu Harus Punya Strategi Khusus
×

