SIDRAP, BKM — Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidrap angkat bicara soal kelangkaan serta kenaikan harga elpiji 3 Kilogram (Kg).
Ketua Kadin Sidrap Muh Yusuf Ruby mengaku, prihatin melihat kondisi harga-harga elpiji di pasaran melambung tinggi di atas HET Rp25 ribu hingga tembus Rp40 ribu dari harga normal.
“Persoalan ini tidak boleh dianggap sepele, sebab ini persoalan kebutuhan urgen masyarakat,” tegas Yusuf Ruby, Selasa (28/8).
Aparat TNI/Polri dan Pemkab diharapkan intens melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap pendistribusian elpiji 3 kg.
Keterlibatan pihak terkait melakukan pengawasan dalam penyaluran gas bersubsidi ini bisa menekan kelangkaan. “Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya penimbunan,” jelasnya.
Kelangkaan elpiji 3 kg yang terus berlarut-larut terkesan adanya tindakan spekulasi oleh oknum tertentu demi meraup keuntungan besar.
“Pihak Pertamina telah melakukan penambahan kuota, tapi masyarakat masih kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg,” terang Yusuf.
“Masyarakat sangat dirugikan dengan permasalahan ini, karena mereka terpaksa membeli elpiji nonsubsidi yang notabene harganya mahal,” tegas Yusuf.
Dia juga meminta pihak Pertamina dan aparat keamanan menindaktegas para agen atau pangkalan yang menjual elpiji 3 kg ini di atas HET.
Menurutnya elpiji 33 kg sudah disubsidi oleh pemerintah untuk warga miskin, sehingga harganya dipatok Rp15.500 per tabung. Tapi, saat ini ada yang membandrol Rp35 ribu hingga Rp40 ribu, karena memanfaatkan kondisi kelangkaan yang terjadi.
Kelangkaan elpiji 3 kg dipicu oleh banyaknya petani memborong elpiji untuk penggerak mesin pompa air di lahan persawahannya.
“Masalahnya, sekarang sudah musim panen. Jadi tidak mungkin lagi pihak petani membutuhkan air di areal pertaniannya. Di mana logikanya,” pungkas Owner Hotel Grand Sidny ini. (ady/C)

