DI KALANGAN aparatur sipil negara (ASN) lingkup Pemprov Sulsel, Andi Herry Iskandar dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Sembilan tahun menjabat sebagai Asisten I Pemprov Sulsel, tanpa pernah dimutasi atau bergeser ke jabatan lain.
Laporan: RAHMA AMRI
Dia menjabat sebagai Asisten I setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Wali Kota Makassar. Dirinya dipanggil secara khusus oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang menjabat kala itu.
Andi Herry dikenal sebagai pejabat yang cukup bersih. Informasi dari seorang stafnya, jika diberi amplop berisi honor kegiatan, Herry selalu bertanya,” Ini apa? Adaji aturannya saya terima?”
Sembilan tahun menjadi pejabat teras, tak satupun mobil yang di-dum.
Sebagai ASN, dia memang menanamkan prinsip, jangan sekali-kali langgar aturan. Integritas sebagai ASN harus dipertahankan.
“Kita harus kerja dengan happy, kerja sesuai apa yang menjadi aturan. Kalau ada sesuatu yang salah dan harus disampaikan, saya sampaikan,” ungkapnya.
Menjadi ASN, banyak suka dan duka yang dihadapinya.
“Tapi kebanyakan sukanya sih. Hampir tidak adaji dukanya. Karena tidak adaji kita kelola uang,” katanya bercanda.
Yang tidak enak, lanjut dia, ketika ada teman yang terkena kasus hukum dan harus ditahan. Dia tidak sampai hati untuk menjenguk.
Sebagai Asisten Bidang Pemerintahan di Pemprov Sulsel, dia juga cukup berjasa memgawal Sulsel mendapatkan penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha.
“Kita kawal supaya prestasi kita tetap baik,” katanya.
Di hari-hari pertama dirinya memasuki masa pensiun, dia mengaku akan istirahat dulu. Ingin memperbaiki kesehatan. Melakukan check up total.
Dia juga mengaku punya sedikit pekerjaan di Jawa Timur, di sebuah anak perusahaan BUMN.
“Banyak yang bisa kita lakukan di masa pensiun. Bisa urus sekolah dan masjid misalnya,” ungkap Herry.
Herry meninggalkan Pemprov Sulsel menjelang prosesi pergantian kepemimpinan dari Soni Sumarsono kepada Nurdin Abdullah.
Kepada pemerintahan yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan, Herry berpesan agar kesejahteraan ASN tetap diperhatikan. Selain itu, dalam menempatkan seseorang pada posisi atau jabatan, harus dilakukan secara fair.
Lelaki yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Makassar itu terkenal berdedikasi pada tugas. Sehingga tak ingin meninggalkan beban, di hari terakhirnya berkantor, dia menyelesaikan semua urusan yang ditakutkan nantinya menjadi terbengkalai.
Sadar jika fasilitas yang diberikan padanya selama ini melekat pada jabatan, Andi Herry secara lugas meminta kepada Kepala Biro Umum, Muh Hatta untuk menyetop semua yang diberikan.
Saat itu, Andi Herry langsung menyerahkan kunci mobil dinasnya, Toyota Fortuner kepada Hatta. Selain itu, dia juga meminta fasilitas berupa pulsa hape yang selama ini didapat untuk disetop.
“Saya minta setop fasilitas telepon untuk saya yah,” tegasnya.
Dia mengaku, melepas jabatan sebagai Asisten I, dirinya tidak perlu repot-repot keluar dari rumah dinas. Pasalnya, selama sembilan tahun menjabat, dia tinggal di kediaman pribadinya. Karena pemprov memang tidak menyediakan rumah dinas untuknya.
Perjalanan karier sebagai ASN telah dilalui sejak tahun 1986. Kala itu dirinya lulus sebagai ASN di Kanwil Pekerjaan Umum (sekarang Dinas PU) saat berusia 28 tahun.
Tak sampai dua tahun, alumni Teknik Sipil Unhas ini langsung mendapatkan jabatan sebagai Kepala Dinas PU Kabupaten Sinjai. Padahal dirinya tak pernah menjabat sebagai kepala Sub Bidang atau Kepala Bidang.
“Saat itu ada program bantuan dana dari luar negeri yaitu USAID, tapi syaratnya mereka melihat Kepala Dinas PU harus orang profesional atau latar belakangnya dari teknik,” katanya.
Gubernur Sulsel saat itu, Prof Amiruddin pun mengeluarkan kebijakan untuk mengangkat beberapa lulusan teknik menjadi kepala dinas. Jadilah Andi Herry yang sebelumnya hanya menjabat kepala proyek sebagai kepala dinas PU Kabupaten Sinjai.
“Dari Sinjai, saya kemudian dipindahkan ke Gowa sebagai Kepala Dinas PU, kemudian ke Makassar. Di Makassar dari kepala dinas PU, saya dipindahkan jadi kepala dinas kelautan dan perikanan,” lanjutnya.
Tak lama, dirinya dipilih menjadi Wakil Wali Kota Makassar mendampingi Ilham Arief Sirajuddin. Saat IAS maju sebagai calon gubernur, jabatan Wali Kota Makassar akhirnya diserahkan kepada dirinya.(rhm)

